Coretan cinta untuk kelahiran si kecil

Liswanti Pertiwi | Sabtu, Januari 07, 2012 | |
     Hingga tiba saatnya kehampaan dan kepasrahan itu hilang dengan tanpa kita duga, serasa itu hanya mimpi, tapi itu ternyata sangat begitu nyata.
     Air mataku pun jatuh saat aku tahu akan kehadirnnya yang tanpa aku dan dia duga. Karena penantianku kini telah hadir dalam hidupku, sebuah penantian yang dua tahun lamanya aku dan dia tunggu, dengan berbagai usaha dan doa kita lakukan untuk mendapatkannya, kini semua itu terjawab sudah dengan cinta yang tumbuh dalam raga, menyatu dengan jiwa dan darah yang mengalir dalam tubuh ini.   
     Serasa begitu tak aku sangka setelah perjalanan satu minggu itu kebahagiaan atas anugerah yang maha kuasa Allah SWT hadir dalam tubuhku. Hingga pada akhirnya aku pun menghapus segala keraguan, kepasrahan dengan mencoba meyakinkannya menggunakan alat tes.
     Ternyata hasilnya terlihat sangat jelas, semua bagai mimpi yang menjadi nyata hingga aku pun mencobanya berulang – ulang untuk mengungkapkan rasa bahagia ini. “ Ya..Allah sujudku padamu atas segala anugerah dan limpahan rejeki yang kau berikan padaku, Subhanallah…Alhamdullilah…Allohuakbar  “ , ungkapan kebahagiaanku pada sang pencipta.
    Esoknya aku dan dia pergi memeriksakan diri, menunggu dengan cemas “dag..dig..dug”, jantungku merespon, padahal ini bukan pertama kali aku datang ketempat itu, 30 menit berlalu serasa   2 jam aku menanti antrian, “Huh..kapan giliranku” ungkapku dalam hati. Hingga pada akhirnya “ No. 3 ibu Liswanti “ teriak suster memanggil, datang juga giliranku “hahaha..ayo sayang kita masuk”,  dengan semangat sambil menarik tangan dia (Ups..suamiku). Duduklah kita dikursi kebahagiaan, sambil tanya jawab alias konsultasi sama c dokter cakep (tak apa-apalah dapet dokternya cowok lagi).
Dokter Z            : ada keluhan apa bu….????
Aku                   : saya sudah telat dok….itu ada hasil tesnya.
Dokter Z            : anak pertama ? atu sudah pernah keguguran ?
Dia (Suamiku)    : istri saya keguguran 2 kali dan ini anak pertama..
Dokter Z            : kondisi ibu kurang baik atau gimana..?
Aku                   : mungkin saya kelelahan dan cape kerja jauh dok…
Dokter Z           : disini BB dan tensi normal, sekarang kita periksa dulu…
Naiklah aku ketempat pemeriksaan……….wuiiiihhh serasa semakin terbang membahagiakan.
 Dokter Z          : kondisi janinnya sehat, pertumbuhannya bagus…
 Dia                   : Alhamdullilah…sudah berapa bulan dok ?
Dokter Z           : ini sudah 10 minggu atau sekitar jalan 3 bulan..
 Aku                  : 10 minggu dok…
      Selesailah pemeriksaan itu, hampir 15 menit aku dan dia konsultasi, banyak resiko yang meski aku ambil demi kebahagiaan ini, demi calon anak yang sudah aku dan suamiku tunggu selama 2 tahun. Yup…demi menghindari masalah untuk yang ke 3 kalinya aku meski istirahat total dan berhenti kerja. Dan akhirnya aku pun mengambil keputusan itu dengan hati tenang dan ikhlas…ya aku resign dari tempat kerjaku di sebuah kontraktor.
      Minggu demi minggu janinku tumbuh dengan sehat, semakin hari aku mul;ai dapat merasakan setiap gerakannya, sungguh itu suatu yang sangat membahagiakan, terutama dia “suamiku tercinta” yang setiap hari tak lupa mengingatku untuk makan dan minum susu 2 kali sehari, ngidamku pun aku rasakan sangat menakjubkan dari mual-mual sampai susah makan, disana terlihat jelas kaih saying suamiku yang dengan setia memberiku dorongan, perhatian dan semangat untuk aku makan dengan baik demi pertumbuhan janin yang ada di kandunganku.
     Sampailah pada akhirnya saat kandunganku menginjak bulan ke 5 aku pun meski masuk rumah sakit dan menjalani perawatan untuk beberapa hari karena penyakit tenggorokanku, terlihat suamiku begitu cemas dan aku trauma serta takut bayiku tak akan bertahan karena demamku yang menjadi 39 derajat.
     Akhirnya keajaiban pun datang, itu adalah kekuasaan Allah SWT yang begitu sangat luar biasa, biarpun aku dalam kondisi lemah, asupan makanan kurang, demamku tinggi dan serta salah obat di awal pertama sakit, janin itu masih aktif bergerak, kuat, dan jantungnya pun terasa kuat. Disini ucapan syukur kepada sang pencipta Allah SWT tak henti-hentinya aku ucapkan Alhamdullilah Allahuakbar. Begitu pula dengan suamiku tercinta yang setia mendampingi, padahal sewaktu di rumah sakit dia sedang menjalani pendidikan KIBInya di sebuah sekolah bahasa TNI AU “terima kasih sayang..atas segala kasih sayangmu”.   meski di infus sewaktu sakit.
     Ukhhhh…karena sakit itu akhirnya demi menjaga kesehatan janin dan aku, suamiku pun mengantarkan aku ke rumah Ibu di Garut, sedih banget sebenarnya, tapi ini demi kebaikan aku dan anakku akhirnya aku terima.
      Disana Ibu menjagaku dengan baik, memberikan apa yang aku mau, begitu pula dengan adik – adikku yang setia menemaniku, biar pun si bungsu Sakti sering merasa tersaingi di rumah dengan anak di kandunganku sampai sering di pukul perut ini, toh dia merasa senang dan bahagia, sungguh aku merasa bahagia…terima kasih Ibu, adik-adikku atas segala perhatian dan kasih sayangnya.
Ini fotoku saat usia kandunganku menginjak 8 bulan, nah ini c bungsu sakti yang lucu dan cakep.
      Bulan ramadhan pun datang, dimana penantianku akan segera hadir kedunia, biarpun kandunganku sudah menginjak 9 bulan, aku tetap menjalankan ibadah puasa, karena aku yakin akan kekuasaan Allah SWT yang akan selalu menjaga anakku, dan aku selalu mendapar ridho, berkah dan kenikmatan di bulan ramadhan.
     Sungguh nikmat bulan ramadhan, ibadahku tidak ada hambatan sedikit pun, semua berjalan dengan lancar, tapi ada sedikit kecemasan yang berkecambuk dalam hatiku ketika idul fitri datang, anakku pun belum juga terlahir, sampai pada akhirnya kandunganku menginjak 42 minggu (10 bulan lebih).
     Aku pun pergi kedokter untuk konsultasi ditemani ibu dan suamiku, karena perutku sudah terasa sakit, tapi apa mau dikata mungkin belum waktunya, kami pulang dengan rasa lelah dan aku yang menahan sakit, kita di suruh untuk kembali 2 minggu lagi kalau tidak ada kontraksi apapun.
      Dua minggu kemudian aku dan suami sepakat untuk segera melahirkan anak ini karena sakit di perutku tak kunjung hilang, biarpun jalan rangsangan itu harus aku ambil. Berangkatlah aku dan suami ke klinik tempat dokter kandunganku praktek. Sampailah disana dengan perasaan dag dig dug bercampur bahagia karena tak sabar ingin melihat wajah mungil nan indah. 2 jam berlalu akhirnya dokter pun datang, untung aku dapat antrian no. 1, pemeriksaan pun di mulai, weehhh.. ternyata aku sudah ada pembukaan 45cm, akhirnya   member dokter pun memberi jalan keluar untuk segera di rangsang.
       Sampailah aku disebuah rumah sakit TNI AD di kota Garut atas rujukan dokter, disana aku langsung di tangani oleh para suster, dan memulai dengan pemberian rangsangan. Ternyata sakit banget, karena aku kira lewat infus ternyata dari bawah, pas banget ibu dan tanteku datang, oh tidak sakit banget……..sungguh inilah perjuangan seorang Ibu untuk dapat melahirkan bayinya.
       9 jam berlalu sejak di ransang aku pun tak dapat merasakan kontraksi apapun, yang ada selama 9 jam itu sering bercanda,tidur, makan (serasa bukan di rumah sakit saja), akhirnya tepat pukul 8 malam dokter pun datang dan mulai memeriksaku, dan tepat dokter datang aku sudah ngedrop (kepala pusing, badan serasa mati rasa), tensi turun hingga 80, jantung bayi pun melemah, sunggu ini membuatku takut, begitu juga dengan suami dan keluarga yang menemaniku, akhirnya dokter bicara dengan suami untuk mengambil tindakan penyelamatan dengan ceasar. Ya aku rela di ceasar yang penting anakku selamat, meski Ibuku terus saja menangis mendengar semua itu. Tanpa didampingi Ibu berjalan keruang operasi, aku harus tetap tenang dan kuat karena ada suami yang setia mendampingiku.
     Waktu berjalan begitu cepat setelah beberapa menit aku dan suami menunggu diluar kamar operasi, akhirnya aku pun dibawa kekamar yang begitu luas dan dingin, dengan alat denyut jantung, gunting-gunting, lampu besar dan disana sudah ada dokter bedah, dokter kandunganku, bidan, dan asisten lainnya.sungguh ini membuatku deg-degan, dan dengan kepasrahan kepada yang maha kuasa, disertai dzikir yang terus aku baca (subhanallah, alhamdullilah, laillahaillaloh, allohuakbar….). tepat jam 21.35 tanganku terasa dingin hingga aku tak ingat apa-apa lagi. Dan ternyata bayiku lahir selamat tepat pukul 21.55 (Alhamdullilah…Allohuakbar), terima kasih Ya Allah atas karunia, perlindungan, dan bimbingan serta keselamatan yang Engkau berikan kepada aku dan anakku.
                                                                  
Ini dia my baby yang baru lahir beratnya 3 kg dengan tinggi badan 49 cm, lucukan……..(ini merger antara Liswanti dan misar mudia).
     Dalam kondisiku yang sedang sadar, suamiku bilang aku tak henti-hentinya menanyakan Alm. Ayah, memang ini adalah cucu pertamanya yang tak bisa dilihat oleh Bapak, air mataku pun jatuh saat menulis ini, sungguh aku rindu Bapak, mengingat kebersamaanku dengannya dulu membuatku selalu ingin menangis.
Tepat pukul 03.00 aku masuk keruang perawatan dengan masih dalam keadaan tidak sadar dan aku sempat dengar suster bilang pada suamiku ada kista dalam rahimku (dalam hati Ya Allah terima kasih telah menyelamatkanku untuk ke 2 kalinya), dan saat aku mulai sadar begitu kagetnya aku saat mataku ini tak bisa melihat, pengen nangis, aku hanya bisa teriak-teriak pada ibu dan suamiku, sungguh kala itu terasa gelap meski ada setitik harapan aku bisa melihat bayangan tanpa aku bisa lihat jelas wajahnya.
     Di hari pertama aku melahirkan satu demi satu saudaraku datang termasuk ua ku yang jauh-jauh datang dari Jakarta, dan meski aku sempat ditinggalkan 1 malam oleh suamiku, karena meski izin cuti, aku tetap tenang karena ada ibu dan saudaraku yang lain.
     Dihari ke 2 aku baru bisa menyusui anakku, karena anakku meski dioksigen, karena saat lahir dia lemah dan tidak menangis, tapi alhamdullilah dia cepat sehat dan aku bisa menyusuinya…lucu sekali saat pertama aku gendong, dia mencari-cari dimana putting susu itu berada. Sungguh membahagiakan…
     Akhirnya di hari ke 4 aku pun pulang kerumah, dan sungguh menyakitkan sekali karena jalan pulang yang kulalui harus memutar, pengen nangis di jalan…tadinya pengen protes sama Pa Lurah karena ga dikasih jalan, tapi ya sudahlah kalo begitu toh sekarang aku sudah bahagia.
     Tepat di hari ke 7 anakku lahir aku pun mengadakan syukuran aqiqah demi keselamatan, kesehatan, dan ketenangan anakku, kerena udah lahir selamat dan akhirnya aku dan suami memberi nama “Lydiasari Chantika” pada puteri pertama kami, acara pun berjalan dengan khidmat dan bahagia.
     Inilah kebahagiaan aku dan suami yang terasa begitu lengkap, yang akan mewarnai senyuman indah di hari-hari yang paling berarti. Nikmat dan kebahagiaan ini adalah pemberian Allah SWT yang harus selalu kita syukuri. Amin

2 komentar:

  1. subhanalloh smga menjadi anak yg solehah berbakti kepada k 2 orng tua,agama,dan negara amiinn selamta ya chatika,,,,,

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...