Tentang Sosok seorang Ayah

Liswanti Pertiwi | Sabtu, Januari 14, 2012 | |
Seorang Ayah adalah sosok yang sangat penting dalam kehidupanku, semenjak kecil kasih sayangnya begitu besar kepadaku, aku termasuk orang yang sangat manja sama Ayah.
Ayah selalu menasehatiku yang membuat aku ingin selalu menjadi yang terbaik baginya, tak pernah mau mengecewakannya, Ayah adalah orang yang selalu mendukungku paling depan dan di ikuti sama Ibu, setiap aku ada berbagai lomba, pementasan, Ayah dan Ibu selalu setia mendampingiku.
Ayah sangat bangga kepadaku, senyumannya selalu membuatku kuat dan semakin ingin maju.."duch saat nulis ini ko jadi sedih...hiks", lanjut yuk ceritanya. Ayah adalah anak ke 3 dari 4 bersaudara, saat Ayah lahir, dia sudah menjadi seorang anak yatim, hanya ada ibu dan kakaknya yang menemaninya hingga dewasa, Ayahku adalah sosok pekerja keras, tak pernah lelah untuk mencari nafkah untuk membahagiakan keluarga, biarpun saat sekolah Ayah merasakan kepedihan, uang pun tak punya, akhirnya Ayah sekolah sambil bekerja, hingga pada akhirnya Ayah menjadi seorang Guru, yang merubah semuanya menjadi lebih baik dan menikahlah Ayah dengan Ibu hingga pada akhirnya aku terlahir ke dunia...hehehehhe
Saat aku masuk sekolah hingga perguruan tinggi, Ayah akan senantiasa mendampingiku, hingga saat aku bertemu dengan suamiku saat ini Ayah selalu terasa bahagia.
Dan datanglah hari itu, dimana aku tak menyangka akan di tinggalkan selamanya oleh Ayah, padahal aku baru bertemu dengannya 2 malam saja, tak menyangka sakit Ayah hanya bertahan 1 minggu saja, tepatnya 12 Maret 2007 Ayah meninggalkanku, ibuku, adikku, dan anak dalam kandungan ibu serta semua keluarga untuk selamanya, sungguh tak menyangka semuanya, tangisan tak terbendung lagi, semua menangis, tak terhitung pelayat yang datang kerumah untuk mendoakan, menyolatkan dan mengantarkan Ayah ke peristirahatannya yang terakhir, begitu sakit rasanya, air mata itu terus saja mengalir, Ayah yang selalu dekat dengan keluarganya, Ayah yang menyayangi keluarganya, kini telah tiada untuk selamanya. Semenjak itu aku, Ibu dan adikku mencoba bertahan, mengikhlaskan kepergiannya. ternyata hingga saat ini tangisan itu semakin terasa apalagi di saat pernikahanku, kelahiran adikku, dan kelahiran anakku. 
Terasa berat saat-saat itu, tapi semua sudah terlewatkan, biarpun begitu Ayah akan selalu ada di hati kami selamanya.
Dan kini 5 tahun sudah kepergiannya, dan kutuliskan puisi cinta untuk Ayah.

Ketika kupejamkan mata dan mentari pun telah tenggelam
Tatapan yang hilang...senyuman yang kosong
Dan raga yang membisu
Tak mampu lagi merasuk dalam jiwa yang diam
Dalam mimpi itu hilanglah sosoknya
Tapi, hati ini semakin berucap
Mengungkapkan rasa yang hilang
Hingga dalam dekapan itu datang dalam kenangan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...