Topeng Kehidupan Part 1

Liswanti Pertiwi | Senin, Februari 20, 2012 |
Dear Topeng kehidupan, sungguh terasa aneh menatap wajah-wajah disekelilingku, dengan ekspresi yang penuh dengan kepalsuan, ambisi dan keserakahan, kadang wajah manja-manja hanya datang dari kepolosan seorang anak yang merenggek minta uang jajan, atau wajah keceriaan sang anak yang sedang asyik bermain, dimana tawa riangnya mencerahkan dunia, sungguh itu adalah surga dunia yang kulihat dengan jiwa yang tersenyum damai.

Tapi seketika hujan pun turun, wajah riang itu hilang dengan sesaat, semua pun mulai terasa suram, ekspresi anak yang sedih membuat hati pun terasa sakit. Dan anehnya mengapa di saat seperti itu orang dewasa yang disisinya hanya mampu memarahinya dengan alasan tak mau belajar, padahal ada waktu dimana anak harus belajar dan bermain. Oh tidak...sungguh ekspresi itu bagai topeng kemunafikkan, semua pun di pertanyakan bagaimana kehidupan si orang dewasa itu di waktu kecil ??????????

Tahukah kamu topeng kehidupan, kadang aku selalu berdiam diri menatap wajah-wajah yang penuh ekspresi itu dengan berjuta-juta pertanyaan, saat kulihat sekumpulan orang-orang yang hanya membicarakan tentang gaya hidup, mulai dari tas bermerk, baju mahal sampai perawatan diri. Hati pun mulai bertanya melihat anak orang-orang itu yang seperti tidak terurus, baju yang lusuh, wajah yang cemong..oh berbanding terbalik dengan ungkapan orang-orang tadi. 

Padahal setiap apa yang mereka ucapkan semata-mata hanyalah untuk membuat iri orang lain, padahal kerja keras untuk menghasilkan uang adalah dari suaminya, sungguh sebagai istri haruslah bijak, bukannya menghambur-hamburkan untuk hal-hal yang tidak perlu hanya untuk sebatas GENGSI dan ingin dipuji serta di akui menjadi orang BANYAK DUIT, tapi dibalik wajak-wajah itu tersembunyi kekhawatiran akan nasib hidupnya, apakah akan mampu bertahan hidup atau tidak????

Ternyata ekspresi aneh itu selalu saja kulihat disetiap hariku, topeng kehidupan kali ini berisi tentang sebuah cerita wajah dan ucapan indah tapi arti dan isi itu kosong juga hampa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...