Keajaiban ASI

Liswanti Pertiwi | Selasa, Maret 26, 2013 | |
Jakarta, Menjadi Ibu adalah sesuatu yang sangat luar biasa, ketika Allah SWT menganugerahkan kepada kita "Suami Istri" untuk menjadi orang tua dari anak yang Allah SWT titipkan dalam rahim kita "Perempuan", sungguh anak itu adalah anugerah dan rejeki yang harus kita jaga, kita rawat, dan kita didik dengan baik. Menjaganya sejak dia berupa janin dalam rahim kita "Perempuan", selama itu pula pertumbuhannya kita lihat dari berupa gumpalan darah hingga dia "janin" berwujud seorang anak manusia yang mungil dan lucu.

Selama kehamilan begitu banyak tantangan dan godaan yang datang, hanya kesabaranlah yang mampu menghilagkannya. Dan untuk kedua kalinya Allah SWT mempercayakan kepadaku untuk dapat merasakan kehamilan lagi. Sungguh kehamilan keduaku ini adalah sebuah tantangan yang sangat luar biasa, mulai ngidam yang menyiksa, nafsu makan hilang hingga dalam kondisi anak pertama sedang dalam masa pertumbuhan.

Anak pertamaku adalah anak yang sangat aktif, lari sana sini, "huhft...sungguh wow gitu" menjaga dia saat bermain, mengeluh ??, tentu saja tidak karena dia anak kita sendiri. Ya sudahlah aku jalanin apa adanya. Biarpun terasa lelah dengan setumpuk kerjaan rumah janin di rahimku tumbuh dengan baik, biarpun berat badanku turun drastis disaat bulan Ramadhan tiba, demi ibadah dan kewajibanku sebagai seorang muslim kutetap berpuasa, karena aku yakin janin ini ada dalam lindungan Allah SWT.

Dokter waktu itu sangat khawatir kondisiku tak akan mampu bertahan, di usia kandungan 6 bulan janin itu hanya dibawah 1 kg dari yang seharusnya sudah diatas 1,2 kg, sungguh membuat aku cemas, itu semua karena kelelahan, aku hanya bisa pasrah semoga janinnya bertahan. 

Tantangan pun datang kembali saat suami harus berangkat ke Spanyol selama satu bulan lebih, aku harus mampu menjaga janin dengan baik serta mengasuh anak pertama sendiri, serta kewajibanku dalam sebuah pekerjaan yang akhirnya tak bisa pulang kampung untuk mendapat bantuan. Akhirnya cobaan pun datang disaat cuaca sedang kemarau air pun mulai kering, "Oh ini sangat luar biasa sekaligus membuatku sangat kelelahan", karena apa ? ya...dikarenakan aku harus mengangkut air dari rumah disebelahku, tidak pernah terbayangkan dikehamilan kedua ini tantangnya sangat berat.

Akhirnya aku pun tak mampu bertahan, dengan kondisi semakin melemah dan entah kenapa janin diperutku seperti mengajak keluar, dokter pun menyuruhku bedrest, aku pun mulai beranjak pergi dari rumah dan menuju rumah keluargaku yang masih di Jakarta, supaya tidak semakin kelelahan dan tidak semakin parah.

Setelah semua terlewati dan suami pun sudah pulang, akhirnya hari kelahiran anak kedua pun datang juga, masih dengan kondisi yang sama seperti anak pertama yang mengharuskanku melahirkan secara ceasar, dan untuk pertama kalinya pula aku dapat menyaksikan anakku lahir diangkat dari rahimku "Sungguh sangat luar biasa" suasana ruang operasi dapat terlihat jelas, tidak seperti waktu pertama yang tak ingat apa - apa.

Setelah Putraku "Dimas Nurjamil" lahir kedunia, setelah dia diadzani masalah pun datang ternyata dia lahir kurang bulan, serta ada gangguan di paru - parunya, aku ga tau istilahnya apa yang pasti paru-parunya belum matang karena dia lahir kurang minggu dan memiliki berat 2,75 kg, ini membuat aku ingin menangis, menjerit serasa dunia ini akan hancur seketika. Dengan kondisiku yang masih belum stabil, ingin rasanya lari ketempat bayiku yang berada diruang khusus. 

Dokter pun datang menghampiriku bahwa bayiku membutuhkan NICU ( Neonatal Intensive Care Unit ) , dimana NICU merupakan unit perawatan intensif untuk bayi baru lahir yang memerlukan perawatan khusus, dan yang aku tahu biayanya pun sangat lumayan. Dan masih dalam kondisi terbaring lemas dan kesakitan aku mulai telpon beberapa rumah sakit yang memiliki NICU, dan ternyata semua sudah penuh, suami pun pergi kebeberapa rumah sakit dan hasilnya sama, sungguh ini membuatku stress berat, ketakutan semakin menjadi "Ya Allah aku takut tak bisa memeluk dan menyusui anakku".

Akhirnya suamiku yang selalu setia mendampingiku memberiku kekuatan untuk selalu pasrah dengan semua kejadian yang ada, perlahan-lahan hati pun mulai tenang, dengan tetap berdo'a serta berdzikir kepada Allah SWT, karena hanya dengan kekuatan sang pencipta yang mampu menolong anakku.

Aku pasrah dan percayakan pada rumah sakit tempat dimana aku melahirkan untuk merawat bayiku, dari mulai bayiku di infus dan diberi oksigen. Satu hari terlewati nafas putraku sudah ada sedikit perubahan, aku pun tak sabar ingin melihatnya, biar masih terasa sakit aku pun mulai belajar jalan untuk menuju ruangan bayi, dan ini perjuangan sangat indah ketika mengharuskanku berjalan sambil membawa kursi, baru saja berjalan 4 langkah duduk dulu karena itu sangat pusing, dan terus seperti itu. Masih ingat dalam benakku suamiku berkata "untuk sampai ruang bayi membutuhkan waktu 25 menit....hehe" padahal beberapa detik saja sudah sampai "kalo yang jalannya normal bukan yang habis ceasar".

Saat dokter menyuruhku untuk memeras ASI dan diberikan kepada putraku, membuat hidupku semakin semangat, ASI terus aku beri, membelainya biarpun dia berada di ruang khusus, kedipan matanya selalu membuatku kuat, akhirnya tangisannya pun mulai kuat, 2 hari berselang kondisi putraku semakin baik, sungguh kekuatan Allah SWT yang maha dahsyat dan lewat keajaiban ASI itulah putraku semakin kuat, hingga akhirnya aku dapat memeluk serta menyusuinya hingga sekarang.

Semoga keajaiban ASI dapat selalu kuberikan pada putraku hingga dia berumur 2 tahun, selalu kuat dan terhindar dari segala penyakit. ASI lebih baik dari pada susu sapi.....hehehe


Lihat dech hasil dari keajaiban ASI hebatkan jadi ndut banget.... i love you dimas.....muach.....


4 komentar:

  1. dimas cepet gede yaaa calon TNI penerus bapaknya,,,,hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin...ya rabbb..semoga..makasih om

      Hapus
    2. Amin...ya rabbb..semoga..makasih om

      Hapus
    3. Amin...ya rabbb..semoga..makasih om

      Hapus

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...