Ketika Air Mata Mengalir

Liswanti Pertiwi | Kamis, Mei 16, 2013 | |
Beribu ambisi yang dihadapi dalam gelapnya malam
Saat jantung hati menyapa dikerinduan
Aku duduk di sebuah hampanya kehidupan
Beribu kata terucap dalam dinginnya hati yang terdiam
Tahukah kamu, air mata ini akan habis
Dalam rasa rindu disuatu malam mulai menghilang
juga dinginnya suasana gelap malam
hanya bisa kusimpan diam dalam gelembung kekacauan hidup
Dan aku kan menghilang jauh
munkin keangkasa yang luas
Ketika air mataku mengalir kamu tak tahu aku kenapa
Jiwaku terasa kaku dan mungkin saja
jantung ini kan berhenti disertai nadi takkan bergetar
hanya mati tertelan ombak 
atau...
mati seperti ditelan hawa panas gunung berapi
atau...
mati dibunuh oleh rasa kekhawatiran
kutahu diriku bukan dirimu
Kau bagai sang arjuna dan romeo yang tampan
tapi kau tak akan tahu air yang mengalir itu
kau hanya tahu tentang tawa dan kebahagiaan hidup
kini hanya bisa berucap
Selamat tinggal kehidupan
Selamat tinggal kesenangan
Aku kan menunggu kelak dalam sebuah waktu
dan ketika bumikan menghilang

Arsip 30 Desember 2002
By Liswanti (dalam edisi patah hati)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...