Tsunami

Liswanti Pertiwi | Kamis, Oktober 24, 2013 | |

Saat malam mencengkam...di kota mati itu
kegelapan dan bau busuk
Jerit tangis..rintih kesakitan dan kelaparan
Saat goncangan bumi dan tsunami
Meluluhlantakkan kota tercinta yang terindah
Menyapu semua dan akhirnya .... tinggal puing-puing berserakkan
Serta mayat-mayat yang terkapar di jalanan
Beratus-ratus bahkan beribu-ribu
Bahan berpuluh-puluh ribu korban berjatuhan
Mati dan sungguh mengenaskan
Semakin menyayat hati
Kotaku tercinta yang indah hanya tinggal kenangan
Menjadi satu kota yang gelap dan mati
Jeritan-jeritan itu seakan memilukan hati
Kita terenyuh menatap semua
Ngeri rasanya.....
Kita ingin pejamkan mata seakan tak mau melihat
Mayat yang bergelimpangan
Tapi jerit tangis itu terus merasuk ketelinga
Anak-anak kehilangan ibunya, mereka sendiri.....
Tanpa keluarga dan sahabat
Banyak orang mencari-cari keluarganya
sampai sekarang.....
Harapan mereka pun memudar saat melihat
orang yang mereka cinta....
Sudah terkapar menjadi mayat
Dipinggir kota itu...dipuing-puing reruntuhan itu..dijalanan itu
masih banyak mayat-mayat terkapar
Mungkin keluarga...kerbat...atau sahabat
kita tak tahu
Tuhan....kita bersimpuh dihadapanmu merelakan semua
Bencana yang telah terjadi adalah teguran-Mu
Doa-doa dipanjatkan diseluruh pelosok negeri
Pengharapan demi ketenangan, kedamaian, kesabaran dan keikhlasan dihati
Dari semua cobaan ini...
Kuatkan hati..untuk bangkit menyongsong hari lebih baik

Note : Sebuah puisi dari bencana tsunami aceh 2004
By. Liswanti
Garut, 1 Januari 2005

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...