JUST FOR YOU Part 1

Liswanti Pertiwi | Senin, Desember 02, 2013 | |

Brukkk!!

Suara pintu yang dibanting begitu keras oleh Iwan, hatinya berasa hancur, marah dan kesal, karena siang tadi dia melihat secara langsung pengkhianatan yang dilakukan oleh temannya Rudi dan kekasihnya Ani.

“Kenapa wan...pulang sekolah ko marah-marah?” tanya Ibu.
“Ga apa-apa bu..” jawab Iwan ketus.
“Ga baik marah-marah mulu...cepet tua nanti” canda Ibu.
“Iya...” sambil beranjak dari depan TV.

Tubuh Iwan dibanting keatas kasur yang empuk, dia menarik napas panjang, dalam benaknya masih jelas terlihat bagaimana Rudi dan Ani begitu mesra bercengkraman satu sama lain, tangan halus Ani begitu erat digenggam Rudi, wajah Ani yang putih menjadi merah merona saat Rudi mencium keningnya dengan hangat.

Iwan marah dalam hati. “Akhhh brengsek Rudi, dasar serigala berbulu domba, Ani juga pengkhianat, gadis selugu dia ternyata tukang...selingkuh”.
***
Pagi yang begitu mendung, semendung hati Iwan yang baru saja patah hati, sarapan pun berasa tak bernapsu, wajahnya begitu sangat kusam, tak ceria, padahal Iwan adalah seorang laki-laki yang ceria, wajahnya tampan, biarpun tampilannya sedikit acak-acakan, maklumlah dia anak band, tapi jangan salah otaknya itu sangat encer, dia langganan juara sekolah, berbagai olimpiade fisika sudah dia ikuti.

Biarpun dia adalah sosok lelaki yang selalu menjadi kebanggaan orang tuanya, Iwan tetaplah seorang manusia, yang punya perasaan, dan akhirnya dia merasakan dikhianati.

Ditaman kota Iwan terduduk sendiri di bawah pohon yang rindang, sejuknya angin mampu merendam amarah yang bergejolak, ditemani gitar kesayangannya, Iwan menghilangkan kepenatan dihati dengan alunan lagu dari Band Geisha yang dia nyanyikan. 

“Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia..hapuskan memoriku tentang dia..hilangkanlah ingatanku..jika itu tentang dia..kuingin kulupakannya.

Bruuk!!

Usai bernyanyi, Iwan melempar gitarnya, dengan air mata yang terus jatuh.Iwan menundukkan kepala, menangis sesegukkan.

“Ya Tuhan tolong jangan buat hati ini begitu hancur” teriak Iwan.
“Aku kuat..yakin kuat, ayolah Iwan kamu harus bangkit, ga bisa seperti ini terus, cewek itu bukan dia saja, masih banyak yang lebih baik, kamu pasti bisa menemukan yang lebih dari seorang Ani” ucap Iwan dalam hati.

Iwan pun menumpahkan kekesalannya dengan melempar botol minuman seenaknya...”Akkhhhhh..semuanya pengkhianat”

Plungggg!! Bruuk !! “Awwww....” teriak suara seseorang.
“Siapa neh yang lempar botol” teriak seorang perempuan berhijab.
“Aduh..kena orang” ucap Iwan menyesal.
“Kamu ya..yang lempar ini” tanya dia sambil menunjuk ke arah Iwan.
“Heh..enak saja, jangan fitnah loh..inikan taman umum, bisa aja yang lain..bisa dari sana..sana..situ, bisakan” Iwan menggelak.
“Masa? Emang ada orang disana, ga ada tuh, yang ada cuma kamu, ada juga orang diseberang sana, masa botol kosong begini bisa dilempar dari arah sejauh itu, yang paling dekat juga..ya..kamu”.
“Emmm...ya...bisa aja dari atas gitu”
“Dari pesawat yang tadi melintas..atau dari burung yang tadi terbang, dasar orang aneh”
“Siapa yang aneh, lo aja kaliee...dasar cerewet” balas Iwan.
“Iya aneh...emang aku ga tau apa, dari tadi kamu teriak-teriak, nangis, aku lagi pengen nenangin diri keganggu terus...dasar aneh..cowok cenggeng, lebay loh”.
“Euuuuhhhh..berisiiiikkk!! ge cabut..byeee” kesal Iwan sambil pergi meninggalkan perempuan itu.
“Ihhh...cowok aneh, awas kalau ketemu lagi, habis loh” ucapnya kesal.
***
Liburan semester pun datang, mungkin itulah hari yang sangat ditunggu oleh Iwan, dia sepertinya ingin lebih menenangkan pikiran dan hatinya, karena beberapa bulan belakangan dia harus menahan diri, dikala dia bertemu dengan Rudi dan Ani yang semakin hari, semakin bagitu lengket dan mesra.

Saat latihan band pun, dia harus kuat menjaga emosinya melihat kebersamaan mereka, dan liburan ini semua aktivitas pun berhenti, tak ada latihan band juga sekolah. 

“Wan...tolongin ibu dong, angkatin jemuran ya...lagi repot neh” teriak Ibu.
“Ade aja deh bu...Iwan lagi benerin gitar neh”.
“Ade lagi bantuin ibu masak, kan nanti malam mau ada tamu, tolong ya sayang”.

Iwan pun tak bisa membantah lagi.”Iya bu..”. Dia memang paling tidak bisa melawan perintah ibunya.
“Enak seh liburan, ga ketemu si pengkhianat, tapi kalau libur begini, diem dirumah pasti deh pekerjaan rumah menumpuk, suruh ini...suruh itu, sudah kayak emak-emak aja” ucapnya dalam hati.

Sambil mengangkat jemuran, Iwan menirukan gaya ocehan Ibunya. “Iwan..biar kamu libur sekolah, tidak berarti kamu malas-malasan, Cuma nonton, tidur, main gitar..bantuin ibu, tuh kayak ade kamu Nia rajin bantuin ibu, padahal baru SMP”.

“Ayoo...terusin wan...ga ridho bantuin ibu, mau dijewer apa?” tanya Ibu kesal.
“Eh..ibu, ga ko..beneran..sueer..Iwan sayang ibu, diangkatin semua”.
“Terus, apaan barusan niru-niru ucapan ibu gitu...”.
“Belajar acting bu, kan iwan mau ikut pensi 2 bulan lagi”.
“Hemmm, ya udah terserah kamu, yang penting habis ini, kamu beli buah ke supermarket ya, tadi pagi ibu lupa”.
“Ditambahin lagi deh kerjaannya” bisik Iwan.
“Hayo ngomong apaan barusan?”
“Ga ko bu, ok deh..nanti Iwan pergi, emang tamu dari mana bu, sibuk banget”.
“Nanti malam ada teman kuliah bapak dulu, dia baru pindah dari Singapore 3 minggu lalu, sekarang mereka bekerja sama dengan perusahaan bapak”.
“Ohhhh....gitu toh”.
***
“Malam yang gelap dan sunyi, begitu hening terasa, jiwaku pun tertunduk diam memandangi angin yang bertiup lembut. Akankah hatiku ini terus jatuh, kedalam jurang yang begitu gelap..hingga tak ada setitik sinar yang menolongku, aku yang disini hanya bertemankan pena yang mulai patah” tulis Iwan dalam kertas. 
Iwan menghela napas. “Jomblo deh...ampun..ampun”.
Tok..tok..tok!!

“Masuk” ucap Iwan.  
“Kak, tamu bapak udah dateng tuh, disuruh turun sama ibu..cepet, pake baju rapi katanya, jangan pake kaos oblong doang, kemeja kek sama jeans, yang keren, yang ok” ucap Nia.  
“Berisik loh de, kakak ngerti kok..” jawab Iwan ketus. 
“Ih dibilangin juga, habis kakak tuh kayak orang ga punya baju aja, itu mulu yang dipake, anak band kok ga gaul”. 
“Euuuhhh...berisik ah, mau dicubit apa, gemes juga neh ama si tembem” ucap iwan sambil mencubit pipi Nia.
“Sakit tau...kak” 
“Hehhe...ya udah kamu turun duluan giihh..kakak nyusul”.
***
Begitu terkejutnya Iwan saat dia melihat tamu yang datang kerumahnya, ternyata ada dia (perempuan) yang sempat bertengkar dengannya di taman kota.

“Diakan si cewek cerewet itu, kok ada disini” ucap Iwan dalam hati.
“Diakan si cowok aneh” ucap perempuan itu dalam hati.
“Eh..wan cepat sini, kenalin ini pa Ali teman kuliah bapak dulu, ini istrinya bu Yani, dan ini anaknya Putri dan Fitri adenya” ucap Bapak.
“Malam om, tante...hai Putri, kiki kenalin saya Iwan anak pertama Bapak Hermawan”
“Tampan ya pak....” puji bu Yani.
“Ah tante biasa aja kali...hehhe”.
Iwan merasakan ada suasana yang aneh, saat dia melihat perempuan berhijab itu yang ternyata bernama Putri sedang memandanginya dengan sinis dan penuh amarah, ada rasa kesal yang belum tuntas diselesaikannya.
“Mari pa..bu kita makan malam dulu, ayo Putri..Fitri” ajak Ibu.
Mereka pun makam malam dengan penuh kekeluargaan, kedua teman lama itu pun tampak saling menumpahkan rasa kangen, saling tertawa lepas, dan begitu bahagia. Tapi tidak dengan Putri dan Iwan, mereka tampak dingin dan seperti akan melakukan perang.
Makan malam pun usai dan berlanjut dengan acara minum teh di pekarangan rumah sambil menikmati malam yang indah, berhiaskan rembulan serta bintang yang bersinar menghiasi bumi.
Tampak kedua keluarga itu sangat dekat, padahal baru bertemu, tapi tidak dengan Iwan yang hanya terdiam duduk sendiri melihat keakraban mereka.

“Hai Iwan...kemarin itu, kayaknya ada yang belum kita selesaikan ya?” tanya Putri ketus.

Iwan terkejut bukan main, saat melihat Putri sudah ada dihadapannya. Dan menatapnya dengan tajam.

Iwan pun bangkit dari tempat duduknya. “Baiklah..ayo kita selesaikan”.

**********To be continued...*********

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...