SURAT TERAKHIR BAYU

Liswanti Pertiwi | Rabu, Maret 05, 2014 | |
Inilah jejak terakhir Bayu dikota kembang.

Mungkin ini juga terakhir kalinya Bayu akan merasakan hawa sejuk yang membuatnya nyaman, atau bahkan suara lembut yang setiap pagi memanggilnya dengan manja "kang Bayuuu....", sampai-sampai dia lupa dengan tugas kuliah yang semakin menumpuk dan bahkan jadwal kuliah yang semakin padat, itu karena kepenatan ibukota yang membuatnya lari sementara waktu kekota yang membuatnya tenang.

Dua minggu sudah Bayu menyepi dan menyendiri disebuah villa milik sahabatnya yang terletak di Lembang Bandung. Bayu bisa merasakan hari-hari indah berada dikota ini, bukan saja dimanjakan dengan alam yang begitu indah dan masih alami, tapi disini Bayu juga bisa merasakan arti cinta yang sesungguhnya.

"Gw disebut playboy, cewek manapun bisa gw taklukin, tapi kenapa dengan Siti?", ucap Bayu dalam hati dengan pertanyaan yang selalu mengusik pikirannya.

Sembari membayangkan wajah ayu Siti yang selalu tertutup dengan jilbab, membuat Bayu semakin tak menentu, ada yang bergejolak dalam hatinya, senyuman Siti mampu menghanyutkan Bayu kedalam bayangan-bayangan indah, apabila Siti selalu bisa mendampingi dirinya, mengisi harinya dengan cinta yang begitu suci.

"Kang Bayuuu...ini tehnya, punten pagi ini emak belum bisa datang, lagi kepasar" sapa lembut Siti.

Saat Bayu baru 3 hari di villa, awalnya dia hanya ingin berlibur dan menikmati suasana sejuk disana, sampai akhirnya sosok perempuan cantik datang menghampirinya dan menyajikan teh hangat dipagi yang begitu indah, padahal mentari baru saja bersinar menghangatkan bumi, dan suara kicau burung pun baru bernyanyi riang, dipikiran Bayu bahwa dia sekarang berada disurga ditemani bidadari cantik.

"Jadi kamu ini Siti anaknya Emak Ipah ya...?" tanya Bayu.
"Muhun kang"
"Makasih ya ...."

Tatapan Bayu masih saja tertuju pada Siti yang pagi itu memakai gamis berwarna biru dengan jilbab berwarna senada yang menutup sampai perut, padahal Siti baru saja beranjak pergi dan menghilang dari pandangan Bayu, tapi dia tidak menyadarinya.

"Loh .. mana dia" 

Tetap saja Bayu belum sadar, bahwa Siti sudah berlalu setengah jam yang lalu.

"Wah C Doni, bohongin gw neh, katanya anak emak Ipah itu gendut, galak dan suka marah-marah, eh ternyata begitu manis..." ucap Bayu sambil tersenyum sumringah.

Bayu pun beranjak dari teras depan, dan bergegas masuk kekamar untuk mengambil handphone dan menekan nomor 085632165***.

"Yohaaa....bro, gimana liburannya" sapa seorang lelaki dari seberang telepon.
"Asyik bro, apalagi ada bidadari cantik yang nemenin gw" jawab Bayu.
"Hahahaha...udah ketemu yoo..Awas loh berani macem-macem ama gebetan gw"
"Halah..pantes lo ngomong gendut dan galak, ternyata demen juga"
"Masbuloh....hahaha, udah ah gw ada kuliah, cepet pulang ada tugas ilmiah nunggu lo"

Pembicaraan itu pun terputus seketika.

Bayu mun mulai membuat strategi untuk bisa dekat dengan Siti, dipikirnya Siti itu sama seperti perempuan yang selama ini bisa menjadi pacar-pacarnya. Strategi yang digunakannya pun hampir sama mulai dari bunga, kejutan romantis atau bahkan puisi-puisi indah, dan ternyata itu tak mampu meluluhkan hati Siti untuk bisa jatuh kedalam pelukan Bayu.

Saat Bayu hendak mencuri-curi pandang pun, Siti akan langsung berpaling, apalagi saat jalan berdua dengan berpura-pura minta ditemani jalan-jalan, alasannya "belum tahu daerah sini", Bayu hendak jalan beriringan sambil ingin memegang tangan Siti, tapi Siti semakin menjauh.

"Punten kang sanes muhrim" ucap Siti.
"Maksudnya, kamu ngomong apa Sit?"
"Maaf, tadi akang Bayu mau megang tangan Siti ya, kita teh bukan muhrim, jadi ga boleh"
"Ohhhh....iya maaf Siti, ga sengaja".

Biarpun dengan sikap Siti yang selalu menghindar, tak membuat Bayu menyerah begitu saja. Setiap hari Bayu semakin gencar mendekati Siti, sampai-sampai dia mau membantu pekerjaan Siti di dapur, baik mencuci piring bahkan memotong sayuran, padahal dirumahnya mana mau dia seperti itu.

Hari demi hari Bayu seakan terhipnotis oleh aura kecantikan Siti, dia selalu mengikuti kemana pun kecuali kalau Siti sudah pulang kerumahnya.

Bayu jadi semakin mengenal sosok seorang Siti yang sholehah, terkadang Bayu sering malu sendiri, saat adzan berkumandang Siti akan mengajaknya kemesjid, atau mengingatkan sudah waktunya shalat.

"Kang Bayu..sudah waktunya shalat, saya mau kemesjid dulu..akang mau ikut shalat disana" ajak Siti.
"Ohhh..iya..ini...ok deh nanti aku nyusul ya sit..." jawab Bayu gelagapan.

Sebenarnya Bayu bukan tidak ingin ikut Siti melaksanakan shalat, karena dia belum mendapat hidayah, bahkan saat SMP dia sangat rajin ngaji dan shalat, tapi karena pergaulan diibukota yang membuat Bayu menjadi melupakan kewajibannya dalam beribadah.

                                                                 ***
                                                                             
Saat seekor kuncing jatuh didepan Siti, membuat Siti terkejut dan hampir terjatuh, tapi untungnya Bayu langsung menangkap tubuh Siti, dan untuk pertama kalinya hati Siti terbawa suasana, dia bisa melihat wajah Bayu dari dekat, yang telah membuat jatungnya berdetak kencang. Tapi dia langsung tersadar, dan berlari meninggalkan Bayu.

"Siti !! kamu tak apa-apa" teriak Bayu.

Tanpa diketahui Bayu, Siti menangis sendirian didapur, entah apa yang membuat Siti menjadi seperti itu.

"Ya Allah maafin Siti..tadi ga sengaja, Siti takut dosa, tapi ini teh beneran...naha jantung Siti teh deg-degan kieu, apa bener kata teh Susi, kalo orang jatuh cinta teh pasti deg-degan".

Ternyata selama ini Siti memendam satu perasaan indah akan sosok Bayu, disaat Bayu mulai mencari cara ingin dekat dengan Siti, disana pun hati Siti punya harapan yang sama yaitu ingin selalu bisa bersama dengan Bayu.

                                                               ***

Hari-hari berlalu, sampai akhirnya suatu hari saat Bayu akan menyatakan isi hatinya kepada keluarga Siti, betapa terkejutnya Bayu saat dia melihat rombongan sebuah keluarga, sudah datang didepan rumah Siti dan disana Bayu bisa melihat Siti terlihat begitu cantik dengan kebaya yang dikenakannya serta jilbab berwarna pink yang dihias dengan bunga-bunga indah. Aura kecantikan yang memancar pada wajah Siti, mampu membuat Bayu meneteskan airmata.

"Apakah dia akan menikah?" tanya Bayu dalam hati.
"Maaf Pa..ini mau ada acara apa ya ko rame sekali" tanya Bayu pada seorang lelaki paruh baya yang melintas dihadapannya.
"Oh itu den, anaknya emak Ipah mau dilamar" jawab lelaki itu.
"Dilamar?"
"Mari den...."

Hati bayu bagai tersambar petir, jantungnya berdetak kencang, jiwanya seakan ingin berontak untuk bisa berlari kehadapan Siti dan membawa dia pergi bersamanya, tapi langkahnya menjadi begitu berat, tubuhnya terasa kaku, dan hanya satu kesalahan Bayu, dia tidak pernah bertanya pada lelaki itu "siapa yang akan dilamar, apakah Siti?". Bayu tak pernah tahu bahwa Susilah (kakak Siti) yang akan dilamar.

"Ya Tuhan, kenapa hatiku begitu terluka seperti ini, apakah ini karma..karena selama ini aku hanya bisa menyakiti perempuan, tak bisa menghargai pengorbanan dan cinta mereka" ucap Bayu sambil meneteskan airmata.
"Siti...entah kenapa, waktu sesingkat ini, kamu mampu membuatku berubah, biarpun kamu hanyalah anak seorang penjaga villa keluarga, tapi kamu baik, bukan hanya rupa, tapi hatimu juga memancarkan kecantikan dan ketulusan, oh Siti aku sungguh mencintaimu, kamu segala-galanya bagiku".

Semalaman Bayu hanya bisa merenung, dan untuk pertama kalinya, Bayu mengambil air wudhu dan shalat, ternyata dia mendapat hidayah dari seorang gadis desa. Bagi Bayu sudah lama sekali dia tidak melakukan shalat, dia pun berdzikir dan berdoa. Setelah ketenangan sudah didapatkannya, Bayu pun bergegas berkemas, dia memutuskan untuk pulang esok pagi, tak lupa dia pun menuliskan sebuah surat untuk Siti, dia tak ingin menemuinya esok, karena taku melukai hati orang lain lagi.

Assallamualaikum.......
Dear Siti

Siti...maafkan aku, karena aku tidak sempat berpamitan langsung padamu, sekarang aku sedang dalam perjalanan, aku harus bergegas pulang ke Jakarta. Tapi sebelumnya aku ingin mengakui sesuatu yang selama ini ada dalam hatiku, maaf bukan bermaksud untuk menganggu hubunganmu dengan lelaki itu, atau bahkan mengacaukan perasaanmu, tapi ini sebuah pengakuan yang sejujur-jujurnya.

Mungkin ini juga pertama dan terakhir aku datang kekota ini, bukan karena aku tidak suka dengan suasana kota ini, justru aku mencintainya dan nyaman berada disini, apalagi ada kamu yang menemani aku.

Siti, sejujurnya tadi malam aku hendak datang kerumahmu untuk melamarmu, aku ingin membawamu keJakarta dan hidup bersamaku, karena kalau pacaran pasti kamu tidak mau, katanya kamu selalu ingin berta'aruf dengan seorang lelaki, aku ingin sekali mewujudkan itu, tapi ternyata niatku itu terlambat. Tadi malam aku lihat rombongan satu keluarga datang berkunjung kerumahmu, dan kamu dengan tulus menyambut mereka, tapi kenapa itu membuat hatiku berasa sakit.

Jujur saja aku yang dulu hanya seorang lelaki yang hanya bisa menyakiti perasaan perempuan, menduakan mereka, oh bukan saja dua, tapi lebih dari empat perempuan aku pacari, aku pikir..aku ini orang yang tampan, pintar dan dari keluarga berada. Aku seperti orang yang haus kasih sayang dan perhatian, tapi setelah bertemu denganmu semuanya berubah.

Saat bersamamu, aku sadar aku bukanlah lelaki sempurna, banyak kekurangan yang ada dalam diriku, dan hanya kamu yang bisa membuat aku berubah, ketulusan dan kebaikanmu mampu membuka pikiranku akan kehidupan, bahkan dalam beribadah yang selama ini tak pernah aku lakukan, saking aku sibuk mencari perhatian dari perempuan-perempuan supaya bisa disanjung, padahal dihadapan Tuhan aku bukanlah apa-apa, aku hanyalah manusia yang penuh dosa.

Siti semalaman aku merenung dan berdzikir, aku temukan rasa ikhlas itu, dan kini aku merelakanmu pergi dengan yang lain, mengarungi rumah tangga yang sakinah bersama lelaki impianmu, dan maafkan aku karena sudah lancang mencintaimu, jujur saja aku sangat menyayangimu, rasa sayangku semua karena Allah....Siti aku sangat menyukaimu, itu yang selama ini ingin aku katakan.

Tapi karena kamu sudah menemukan yang lain, aku doakan semoga kamu bahagia, aku tak akan pernah datang lagi kekota ini, karena tempat ini terlalu indah buatku, dimana aku menemukan sebuah kejujuran dan ketulusan, kota ini akan menjadi kenanganku, oh atau bahkan akan menjadi sejarah hidupku, dimana aku bisa menorehkan jejak langkahku ketempat yang cantik, secantik hatimu, dan secantik bintang-bintang yang bisa kita lihat dimalam hari.

Siti......selamat tinggal, ini surat pertama dan terakhir untukmu...semoga kamu selalu dilindungan Allah SWT dan diberikan kebahagiaan selalu.

Wassalam
Salam Hangat selalu dariku

Bayu

                                                             ***
Pagi itu Bayu pun bergegas pergi, hanya bisa berpamitan kepada pa Asep suami dari emak Ipah yang tentu saja Ayah Siti, sepucuk surat pun Bayu titpkan untuk Siti, yang pagi itu tidak bisa datang kevilla, karena Siti sedang ada urusan lain, yang dipikir Bayu, Siti pergi dengan tunangannya untuk keperluan pernikahan. Padahal Siti sedang ada jadwal kuliah dan selama ini tidak Bayu ketahui.

Siti pun menangis sedih, saat surat yang Bayu tulis untuknya dia baca, dan mengetahu kenyataan bahwa Siti dan Bayu sebenarnya mempunya perasaan yang sama, dan kesalahpahaman dari pertunangan itu telah memisahkan sebuah cinta yang tulus.

"Kang Bayu...Siti juga cinta sama akang"

Tetesan air mata Siti pun jatuh, mengetahui kenyataan yang indah, tapi berakhir pedih. Siti tidak tahu harus bagaimana mengutarakan isi hatinya yang akan selalu terpendam, dan entah kapan rasa itu akan diungkapkan pada orang yang selama ini diinginkannya.

Tidak ada yang tahu kapan itu akan terjadi, semua adalah rahasia Tuhan....

                                                             
                                                         SELESAI






4 komentar:

  1. ceritanya seperti di ftv" mbak :)

    Bagus cerpennya ^^

    BalasHapus
  2. bagus bgt cerpennya, oh ya jangan lupa kunjungan balik dan koment balik ya http://ane-aldi.blogspot.com/2014/03/tempat-magang-dengan-gaji-besar.html

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...