SEPARUH HATI YANG HILANG

Liswanti Pertiwi | Minggu, Juli 06, 2014 | |
Langit mendung perlahan memudar, wangi bunga melati dan mawar merah bertebaran, angin sejuk menyapu kulit. Tangisku pun tak mampu memecah sunyi, terasa begitu hening, hanya ada aku dan.....

Mungkin kalau aku tak mengenalnya tak akan seperti ini, mungkin juga kalau dia tidak menyapaku, kutak akan bersamanya, mungkin kalau aku tak mencintainya, hatiku tak sepedih ini.
“Ya aku terlalu sakit, tak bisa melihatmu......”
***
Adit terus tertawa, seperti tak ingin mendengar ucapanku, tak lama wajahnya pun berubah, terdiam dan meneteskan air mata. Disudut ruangan Winda sahabatku tampak cemas melihat kelakuan Adit, dia terus memegang tasku dengan erat dan sedikit gemeteran. 

“Ma..maaf, Dit, Nis...aku keluar aja ya” Ucap Winda gelagapan.
“Iya gpp...kamu tunggu aja diluar ya Win, aku beresin masalah ini sama Adit”.

Pikirku, Winda memang tak ingin ikut campur atau memang dia sedikit ketakutan melihat perilaku Adit yang berubah - ubah.

Aku pun tak bisa berkata apa – apa saat Adit marah, karena memang dia sangat kecewa dengan semua kenyataan itu. Kulihat Adit menggebrak meja dan membuatku terkejut. “Jadi...kamu ada hubungan apa dengan lelaki itu!!” teriak Adit.

Aku tahu Adit begitu marah saat tahu ada seorang lelaki datang kerumahku sore kemarin, dan memang dia tahu lelaki itu tak lain adalah mantan kekasih sewaktu disekolah.

“Kak...dia hanya berkunjung” kucoba jelasnya. “Ga mungkin!! Dia ingin kembalikan?” jawab Adit seakan tak percaya.
“Kak cukup, kamu jangan seperti ini, dengarkan aku”
“Ahhh” Adit semakin menjadi, kulihat Adit mengepalkan tangan dan memukulkannya kedinding, hingga tangannya berdarah Setelah puas meluapkan semua amarah di hatinya, dia pun terdiam. Perlahan kumulai mendekati Adit, yang entah berapa lama meluapkan amarahnya, berteriak hingga membuat hatiku terasa begitu sakit melihat dia melukai dirinya sendiri, sesakit dirinya yang menganggap aku tak setia.

Adit menarikku dan memelukku dengan erat, dia menangis, dan aku tahu apa yang dia rasakan. “Nissa..kumohon jangan tinggalkan aku, ku sayang kamu” ucap Adit dengan badan yang sedikit gemetaran. Kumerasakan tubuhnya melemas, kumengajaknya duduk, dan dia kembali memelukku, oh tidak sekarang aku yang memeluknya dengan erat.

“Kak” panggilan sayangku padanya. “Aku ingin kamu tahu, hatiku ini sama, hingga kini tak ada nama yang lain dihatiku selain kamu”.

Adit semakin erat memelukku, dia seperti tak ingin melepasku, dan ku tahu memang seperti itu. Adit sudah mengorbankan banyak sekali cita-citanya di ibukota, dan memilih tinggal di kota intan yang kecil, serta melanjutkan kuliahnya dikampus yang belum terkenal seperti dikota kelahirannya. Tak lain semua itu demi selalu dekat denganku.

“Kak, lelaki itu masa laluku, dengan seribu alasan dan rayuan apapun tak akan mampu membuatku berpaling darimu, dan bagiku kamu adalah satu-satunya lelaki yang kini selalu menempati ruang hatiku”.
“Bila kamu tahu, begitu sakitnya hati ini saat kumelihat ada lelaki itu dirumahmu, aku tak bisa berpikir baik, karena hati ini terlalu sakit bila kamu bersama dengan lelaki lain”.
“Aku sayang kamu kak...” bisikku lembut. “Aku juga Nis...jangan pernah berpaling dariku, aku hanya ingin kamu yang telah membuatku berarti dan bahagia”.

Kami pun beranjak pergi dari ruangan itu, dan kulihat Winda sedang tertunduk dibangku. “Hay Win...keUKS yuk...ek kenapa lo..ko nangis” tanyaku penasaran saat melihat wajahnya yang bulat memerah dan air matanya menetes.

“Kalian seh so sweet banget, ini karna kalian tuh yang bikin aku nangis kayak gini” jawab Winda. Dari nada bicaranya kelihatan kalau dia memang sedih. Aku dan Adit pun hanya bisa tertawa mendengar ucapannya. Winda pun tampak malu, kelihatan dari wajahnya yang memerah, dan akhirnya sama – sama ikut tertawa.

Kuobati luka di tangan Adit. “Lain kali jangan kayak gini lagi ya kak”.
“Emang kalau aku kayak gitu lagi, kenapa ?” tanya Adit. “Aku beneran bakalan ninggalin kamu”.
“Apa?” Adit terkejut dan mulai terdiam. “Hahahaha...wajahmu kak lucu amat kalau lagi kaget gitu”
“Jawab yang bener...” ucapnya tegas. “Enggaklah, ga mungkin lagi aku ninggalin cowok seganteng kamu, rugi donk...hahaha, apalagi kamu tuh kayak artis idolaku”.
“Siapa?” tanyanya penasaran. “Mau tahu aja...”.
“Hemmmm...jadi gitu, ya udah pergi neh”
“Pergi aja...” jawabku sedikit menggoda.
“Ga ah...terserah kamu mau idolain siapa juga, yang penting hati kamu itu ada aku selalu .... A D I T” ucapnya sambil mencium tanganku.

Itulah Adit yang selalu membuatku tersenyum bahagia, aku selalu menjadi perempuan yang begitu sangat berarti dalam hidupnya, aku merasa benar-benar dicintai dan disayanginya, biarpun aku tak bisa pungkiri bahwa Adit selalu cemburu dan marah kalau aku dekat dengan lelaki lain. Tapi tak apa, karena aku tahu hatinya itu begitu baik dan dia selalu ada untukku.
***
“Kamu kemana seh kak, kok ga bisa dihubungi kayak begini” ucapku cemas.
“Dah bisa dihubungi Nis....?” tanya Winda. “Belum...”.
“Dah berapa lama dia ga hubungi kamu” Winda seakan ikut cemas. “Satu bulan, semenjak dia balik ke Jakarta”.
“Jangan sampai dia kayak Angga ya, mentang-mentang dah lulus pergi gitu aja, sekarang Adit dah lulus wisuda dan balik kerumahnya...eh ngilang juga”.
“Adit tuh ga kayak Angga, dia beda...aku takut dia sakit”.

Satu bulan sudah kabar baik itu tak kunjung datang, setelah dia menyelesaikan studi strata satunya dan kembali keibu kota, terhitung hanya beberapa kali kami berkomunikasi, karena memang kesibukan kami, Adit mulai bekerja diperusahaan ayahnya dan aku pun sibuk mempersiapkan kuliah.

Sebelum tak ada kabar, Adit sempat bilang “Nis..badanku kenapa sering lelah ya, jantungku juga sering sakit”, aku pun menjawabnya “Kak..mungkin kamu terlalu lelah, istirahatlah”. Semenjak itu aku tak kunjung mendapat berita darinya, semoga saja tak ada hal buruk yang menimpa diri Adit.
***
Sore itu aku dan Winda baru saja selesai kelas terakhir, badan memang terasa lelah dan pikiran sedikit pusing dengan hitungan serta rumus – rumus yang banyak. Belum juga keluar gerbang kampus, kulihat diseberang jalan seseorang melambaikan tangan, sempat bertanya – tanya “siapa dia?”, lihat kanan kiri tak ada orang lagi, selain aku dan Winda.

“Win...liat tuh, siapa ya” tanyaku penasaran. Winda geleng – geleng kepala. “Ga tau Nis”. Memang mataku agak sedikit bermasalah, dengan penglihatan yang agak jauh. Kuberjalan perlahan, dan orang diseberang jalan pun semakin jelas terlihat, “deg” jantungku berdetak cepat, kakiku terasa kaku untuk melangkah, aku hanya bisa diam saat melihat dia, seakan itu hanya mimpi, setelah 2 bulan lamanya aku tak bisa melihat dan mendengar suaranya.

Tak kusadari air mataku menetes. “Adit” bisikku dalam hati, “Ya..itu kamu, itu benar-benar kamu sayang, aku melihatmu, ini tak mimpikan?” tanyaku dalam hati.

“Nis..Nis...itu Adit...hei..Nis, ayo itu Adit” ucap Winda, sambil menarik – narik tanganku, tapi aku masih terdiam, kakiku masih terasa berat untuk melangkah, apa karena gugup atau karena aku masih tidak menyangka dia benar – benar Adit.

Dia pun mendekatiku, dan kini tepat dihadapanku, tersenyum manis seperti biasanya, ada yang beda, badannya sedikit kurus. Tapi tubuhku melemas saat dia hendak memelukku, hingga membuatku terjatuh. “Nis..kamu kenapa?” tanya Winda cemas. Adit pun sama sedikit cemas denganku, “Nis...kenapa?”.

Dengan wajah tanpa dosa aku hanya bisa bilang “laper....”. Padahal aku hanya ingin menutupi rasa gugup saat kembali bertemu Adit. “Yuk..Nis kita makan” ajak Adit. Saat itu aku pun tak bisa menutupi rasa malu saat Adit mengajakku makan. “Tak usah aku mau pulang saja” jawabku.

Aku pun beranjak dan hendak pergi meninggalkan Adit. “Kemana Nis...kamu tak mau pergi bersamaku?” tanya Adit. “Emm..gini..emm..aku mau pergi sama Wi..winda” jawabku sedikit gugup.

“Eitts...Nis, kayaknya kalian butuh waktu berdua deh, aku pergi duluan ya” ucap Winda sambil pergi meninggalkan kami. “Hei...Win” teriakku. “Bye...hati – hati ya kalian” teriak Winda dari kejauhan. Kami pun memutuskan pergi bersama kesuatu tempat, tapi tidak untuk makan, melainkan menyelesaikan semua masalah yang ada, “kemana saja dia selama ini?” hatiku selalu bertanya – tanya akan keberadaan dirinya.

Taman Kota memang menjadi pilihan terbaik untuk kami saling bicara dari hati ke hati.  Suasananya sejuk dihiasi pepohonan yang rindang, rumput yang hijau dan rapi, bunga bermekaran, tampak beberapa mahasiswa sedang belajar sambil bersantai menikmati suasana serta anak – anak yang bermain gembira.

“Suasananya masih sama ya Nis...sejuk, ga kayak dikota...” ucap Adit mencairkan suasana yang sedikit kaku, mungkin karena sudah terlalu lama kami tak bertemu. “Biasa aja” ucapku sedikit ketus. Mendengar jawabanku seperti itu, Adit tampak memandangku. “Kamu pasti marah Nis...aku tahu itu”.
“Aku tak akan bisa marah Dit..itu hak kamu, mau peduli atau tidak kepadaku, tapi aku juga punya hak untuk tahu kenapa kamu memperlakukanku seperti itu”.
“Aku bukan tak peduli padamu, tapi aku tak berdaya...” jawab Adit. “Maksudmu..?” tanyaku balik. “Saat terbaring tak berdaya, hatiku menangis Nis...aku merindukanmu, aku sungguh tak mampu berbuat apa-apa untuk bisa menemuimu”.

Sesaat tangisku pun jatuh, mendengar jawaban Adit. “Kamu sakit? Kenapa tidak beritahu aku ?” tanyaku sedih. “Aku ingin memberitahumu, tapi aku tak bisa...aku benar-benar tak berdaya Nis, aku tak akan sanggup meninggalkanmu, makanya setelah aku sembuh, aku ingin segera menemui kekasih hatiku...percayalah Nis”.

Ya aku melihat kesungguhan itu di mata Adit, aku yakin dia tidak membohongiku. Dan hati ini pun selalu meyakinkanku bahwa Adit sangat mencintaiku. Saat itu aku pun tak mampu menahan rasa rinduku padanya, dan pelukan Adit mampu menghilangkan beban dihatiku yang selama ini selalu gelisah tak bisa bersamanya.
***
Perjalanan cintaku dan Adit mencapai puncak kesedihan, disaat studi telah kuselesaikan, saat itu juga aku menerima kenyataan pahit bahwa aku dan Adit tak akan bisa hidup bersama sebagai sepasang  suami istri.

Tepat satu hari sebelum pertunangan, kabar buruk itu mampu membuat hatiku hancur, seperti ada yang hilang, tubuhku lemas dan napasku terasa sesak, air mataku tak berhenti mengalir, saat adik Adit yaitu Sara berkata sambil menangis “Halo Kak Nissa, cepat kesini aku ada dirumah sakit bersama papa mama” ucapnya sedikit parau. “Ada apa Sara ? kenapa ?” tanyaku cemas. “Kak...kak Adit..dia kena serangan jantung” jawab Sara sedih.
Bumi ini seakan berhenti berputar, dadaku semakin sakit mendengar berita itu,  hatiku terasa begitu hancur, pedih rasanya, aku tak tahu harus bagaimana menjalani hidup tanpa Adit disisiku. Kuberusaha menguatkan hati serta jiwa ini untuk melihat keadaan Adit, dan kucoba menerima takdir yang Tuhan tuliskan untukku, bahwa aku memang tak bisa berjodoh dengan Adit.
***
Suasana hening itu masih begitu terasa, langit serasa ikut berduka, semendung hatiku yang dirudung pedih, tangisan pun mampu memecah sepi, saat itu pun bunga-bunga bertaburan mengiringi kepergiannya ketempat peristirahatannya yang terakhir.

“Nis...yuk kamu terlalu lama disini, bukankah ada meeting hari ini” bisik Winda yang mampu membangunkan lamunanku.
“Eh iya Win...yuk” jawabku sambil beranjak dari pemakaman itu.
Aku berjalan perlahan, hati ini sepertinya tak ingin beranjak dari sana, tapi aku harus kuat bahwa kini Adit akan menjadi masa laluku dan kenangan indah yang akan selalu membekas di hati, biarpun senyuman dan candanya selalu terbayang, dan aku tak mampu melihatnya lagi.

Ya seperti keinginannya Adit, aku tak boleh terlalu sedih, biarpun separuh hati ini hilang, kuyakin suatu hari nanti akan datang seseorang yang mampu menggantikannya, dan hati itu bisa kembali utuh dalam sebuah cinta yang indah.

Kucoba menghapus air mataku lagi. “Kugapai hidup yang baru Dit, ku yakin kamu telah bahagia disana, dan hari ini aku ikhlas Dit, karena kuyakin aku bisa meraih kebahagiaan yang baru, meski aku tak bisa pungkiri kamu akan selalu ada di hati ini” bisikku dalam hati. “Ya...Dit, separuh hati yang hilang, kelak nanti akan kembali utuh dan indah pada waktunya”.
           

SELESAI

2 komentar:

  1. aahh sedih banget endingnya mbak. jadi terharu :((

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih...memang sedikit kebnyakan nangis..tapi tetap harus bhagia :)

      Hapus

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...