SEKOLAH DINI ?

Liswanti Pertiwi | Kamis, Agustus 14, 2014 | | |
"Mah..pengen sekolah disana" ucap Chantika sambil menunjuk kearah TK depan rumah.

Ya beberapa waktu ini saya dan suami memang sedang memikirkan pendidikan buat anak pertama kami, apalagi dia sudah meminta sekolah, tapi umurnya baru 4 tahun Oktober nanti, memang teman dilingkungan rumah ini yang berumur 2 tahun sudah disekolahkan, namun saya dan suami memiliki pertimbangan khusus untuk menyekolahkan anak diusia dini.

Dok. Pribadi
Kalau dulu saya dibinggungkan dengan sebuah pilihan, yang akhirnya memutuskan akan kembali bekerja, tapi ternyata Tuhan memberi rencana lain yang jauh lebih indah kepada saya, yang mungkin mengharuskan saya tidak meninggalkan anak-anak untuk bekerja, maklum ibukota, saya juga sedikit khawatir meninggalkan mereka dengan pengasuh. Disaat kebinggungan itulah, seorang sahabat saya menawari saya untuk bekerja padanya, tanpa harus meninggalkan anak dan mampu mengontrol keuangan usahanya cukup dirumah, imbalan yang diterima pun sama dengan gaji bulanan bekerja fulltime yang dulu sudah ditawarkan sebuah perusahan kepada saya, bedanya tidak ada jenjang karir dan jaminan kesehatan "jaminan kesehatan sudah dapat dari suami. tenang...heheh".

Akhirnya setelah diskusi dengan suami, saya pun mengambil pekerjaan dari sahabat saya, biarpun dalam 1 minggu saya meski datang kekantornya 2 kali, tak jadi masalah, karena anak bisa dibawa. Saya pun bisa bekerja dengan tenang, sambil mengasuh anak, sambil kerja mengawasi dan mengontrol keuangan usaha dari rumah, pengeluaran dan penerimaan pun dapat saya terima depan cepat, sekarangkan sudah canggih apapun bisa dengan teknologi internet, kalau bukti transaksi untung ada kurir kantor yang mengantar kerumah.

Lalu apa hubungannya mendapat kerja dengan sekolah dini ?

Tentu ada hubungannya bagi saya sendiri, kan niat saya bekerja untuk mencari uang sebanyak mungkin demi masa depan anak, termasuk sekolahnya. Kalau bekerja fulltime, waktu saya sebagian dikantor tanpa bisa memperhatikan anak, tapi kalau freelance, saya bisa bekerja sambil mengawasi anak, dengan begitu pikiran tenang, tabungan anak pun bertambah, biarpun saya tak bisa menjadi seorang manajer keuangan seperti yang dicita-citakan selama ini, tak apa, semoga saja Tuhan memberikan rencana indah lain kepada saya.

Kembali kepertanyaan. Kalau dulu saya sempat berpikir untuk memasukkan chantika ke PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di usianya yang mau 4 tahun, tapi sekarang tidak. Apalagi setelah menimbang, memutuskan dan mendengarkan para ahli "kayak sidang ya..hahah", yang tak lain keputusan suami dan nasihat-nasihat dari orang tua serta mertua, yang tak lain adalah pendidik yang sudah lebih banyak tahu tentang psikologi anak kalau sekolah sedini mungkin, "ada positif negatif" begitu kata beliau. Jadi saya pun tidak jadi memasukkan anak kesana, kan saya pun tidak kerja diluar rumah, maka saya bisa mengajari anak dirumah.

Buku Chantika
Nah kebetulan saudara juga banyak yang menjadi guru, saya pun bertanya "bagaimana kurikulumnya, apa pelajarannya?", ternyata itu bisa kita lakukan sendiri di rumah. Kalau misalkan seorang wanita karir, tapi ingin mengajari anaknya dengan waktu yang terbatas, bisa juga dilakukan. Cukup luangkan waktu 1 jam saja saat pulang kantor untuk belajar sambil bermain dengan anak, setidaknya kita pun tidak kehilangan waktu bersama dengan anak.

Memang orang tua sekarang banyak yang menyekolahkan anak ke PAUD, supaya mereka banyak tahu dan pintar. Dan ini menjadi pelajaran buat saya saat dulu ditanya sama orang tua dan mertua "kenapa ingin anak sekolah dini?", saya jawab "biar banyak tahu dan pintar". Yang akhirnya dikasih penjelasan panjang sekolah, dari psikologi anak sampai pendidikan itu sendiri. Setelah mendapat penjelasan yang cukup panjang saya bisa mengambil kesimpulan seperti ini.

Sekolah dini untuk anak, dengan begitu akan merampas kemerdekaan anak saya sendiri "gamau saya disebut penjajah sama orang tua..hahah", karena usia yang masih kecil, adalah masa dia untuk bermain, istirahat dengan baik, supaya pertumbuhannya pun baik, tanpa terbebani dengan jam sekolah, biarpun hanya 1 minggu 4 kali, apalagi chantika suka bangun tidur jam setengah 8 pagi, apa saya harus paksa dia bangun untuk kesekolah, sedangkan dia masih mengantuk, hasilnya bisa-bisa anak saya sakit. Tentu saja saya tidak mau memaksakan kehendak saya sendiri, karena yang tahu kondisi anak, ya orang tua sendiri.

Diusia 0-5 tahun adalah masa paling indah buat anak, biarkan anak bermain sepuasnya. Saudara saya bilang begini "kan di sekolah dini, anak belajar mengenal warna, huruf, menyanyi, ya seperti belajar sambil bermain lagi", nah kalau seperti itu saya bisa lakukan sendiri, kan waktunya bisa sesuka hati, bisa bangun tidur, siang atau sore, gimana anaknya saja. Saya tinggal menyiapkan fasilitas penunjang untuk dia belajar, buku "banyak dijual di toko, tinggal nyari", video "lagu dan lain-lain bisa diunggah di Youtube" gampangkan. Atau anak belajar bersosialisasi. untuk saja anak saya paling gampang kalau urusan bersosialisasi, dan gampang berteman dengan anak seusianya. Mau ngomong bahasa sunda nyambung, indonesia juga nyambung.

Mengenalkan anak akan warna, binatang, buah-buahan sudah saya lakukan dari usia dia 2 tahun, jadi saat ini sepertinya anak tidak perlu sekolah dini, apalagi setelah orang tua bilang "jangan takut anak bodoh dan tak tahu apa-apa", karena semua tergantung keturunan dan gen dari orang tuanya, dan memang terbukti, saya saja tidak pernah masuk TK, umur 4 tahun sudah lancar membaca, apalagi suami, jadi saya tidak pernah takut anak saya menjadi bodoh, dari perkembangannya justru saya bangga, Chantika bisa langsung mengerti apa yang saya ajarkan, termasuk bikin kue..hehehe.

Memang tak bisa dipungkiri, dari kanan kiri atau yang lainnya, selalu bilang "jangan jadi ibu egois, kalau anak pengen sekolah, sekolahin saja", justru karena itu saya tak ingin memaksakan kehendak saya kepada anak. Kalau suatu hari nanti anak tidak mau sekolah, masa harus saya paksa "bener ga?", kan anak-anak seumuran Chantika bisa gampang jenuh, boro-boro sekolah, dalam hal mainan saja, kalau sudah bosan langsung dibuang.

Sekolah dini memang penting, tapi semua tergantung orang tuanya, mau menyekolahkan sedini mungkin atau lebih memilih mengajari sendiri ?. Saya akan memilih mengajari sendiri, selain menjadi ibu rumah tangga yang memang punya pekerjaan lain dirumah, saya masih punya banyak waktu tersisa yang bisa digunakan untuk mengajari anak belajar menulis, menghitung, menyanyi sampai menggaji, saya punya keyakinan sendiri akan kemampuan yang saya punya, hasil dari belajar selama ini.

Sekolah sedini mungkin ada positif dan negatifnya, positifnya anak akan belajar banyak hal, jadi banyak tahu, kalau negatifnya anak akan kekurangan jam istirahat dan bermain, apalagi kalau anak yang punya kebiasaan setelah mandi kembali tidur, susah kalau begitu. Belum lagi kalau anak sekolah sedini mungkin itu akan mudah jenuh saat nanti dia sudah sekolah ketahap selanjutnya, yakin deh, soalnya saya sudah sering melihat yang seperti ini, malah dilingkungan saya sendiri, anaknya sekolah dari usia 1 tahun setengah, saat masuk ke sekolah dasar dia jadi malas belajar dan sekolah. Semoga ini tidak terjadi sama anak-anak kita ya. Amin.
Sumber : Diambil dari Google
Sekolah dini untuk chantika memang sangat perlu ? dan saya sepakat dengan suami untuk dia sekolah sesuai kesukaannya, bukan di PAUD melainkan kursus musik. Kebetulan anak suka musik dan tari, jadi kali ini saya bersiap-siap mencari sebuah sanggar atau sekolah musik yang bisa menggajarkan anak 4 tahun, "semoga dapat..amin", karena kebanyakkan lihat diinternet, harus usia 6 tahun, jadi sedikit kesulitan. Apalagi musik seperti piano sangat bagus untuk perkembangan otak anak, katanya anak memudahkan konsentrasi belajar, saya juga bisa rasakan sendiri kalau mendengarkan musik sambil belajar, bisa membuat saya gampang menghapal.heheh....

Gimana dengan sahabat semua, apakah akan menyekolahkan anak sedini mungkin atau mengajari sendiri ?, karena saya yakin apa yang diputuskan dan diinginkan oleh orang tua, pasti semua demi kebaikan anak-anak serta masa depannya. "Semoga kita semua jadi orang tua yang hebat dan idola bagi anak-anaknya".



NB : Sumber gambar : 
http://www.merchantcircle.com/business/IN.HOME.DRUM.GUITAR.PIANO.VIOLIN.LESSONS.215-970-7274


16 komentar:

  1. Saya menyekolahkan anak langsung TK karena kala itu belum ada PAUD. Bella di PAUD dulu selama 2 tahun. tahun depan baru TK.
    Memang harus ada keseimbangan antara belajar dan bermain. Aak2 jangan terlalu dipleter dengan belajar saja. Dia juga harus bermain dan bersosialisasi, itu gunanya sekolah di PAUD dan TK.
    Saya dulu sih langsung SD karena di kampung belum ada TK
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener pakdhe, maka nya saya selalu diberi nasehat sama orang tua, jangan dipleter terus belajar, anak-anak gampang bosan.

      Hapus
  2. Wah ponakan saya malah baru usia 4 tahun udah sekolah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. makaya saya bilang semua tergantung orang tuanya, ada yang masih kecil sekolah, ada juga yg ga mas Fandhy

      Hapus
  3. anakku dulu 3tahun udah skolah mak. alesan utama karena waktu tu aku kerja dan dia anaknya pemalu banget jadi aku pikir latihan bersosialisasi gitu ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah kalau pemalu memang harus sering banyak bertemu dengan teman sebayanya mak...biar anaknya jadi berani, tapi malah menurut pengalaman saya anak pemalu, malah akan tumbuh menjadi pemberani mak

      Hapus
  4. Hmm... segalanya memang harus dipertimbangkan dari segi kondisi si anak juga. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali mbak Hilda...biarpun sudah pengen, saya rasa kasihan saja gitu...

      Hapus
  5. Saya dan suami sepakat untuk menyekolahkan anak sesuai kemampuannya, mak. Jadi nggak ada paksaan. Namun tetap, kami arahkan sesuai usianya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siip deh mak Mira....memang harus sesuai usia, takutnya kalau bukan usia sekolah, anak malah jadi terbebani ya.

      Hapus
  6. klo gw ga setuju anak gw masuk PAUD, di usia segitu anak blm seharusnya di bebani sama jadwal dan tanggug jawab. ada waktu dimana anak masih butuh waktu buat main dan mengexplore kemampuan dan kreatifitasnya tanpa ada tekanan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. siip deh mas yandhi, sama kalau begitu, saya juga gamau nyekolahin dulu, biarpun sudah 4 tahun

      Hapus
  7. wah emang perlu banget tu mbak salam ya mbak buat adeknay dari mas Angki Jogja hehe semngat sekolah dek ^-^

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah disalamin..berpa kilo katanya?hehehehe....semangat sekolahnya nanti saja udah umur 5 tahun

      Hapus

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...