TAK ADA YANG SULIT UNTUK MENJADI ISTRI YANG BAIK

Liswanti Pertiwi | Senin, Desember 01, 2014 |
Ilustrasi gambar (sumber www.dakwatuna.com)
Seorang sahabat pernah berkata kepada saya (sebut saja Dini) “bagaimana mau disebut istri yang baik, kalau masih membicarakan suaminya dibelakang, bagaimana mau menjadi istri yang baik kalau suka menjelek-jelekan suami, jadi istri yang baik tidak sulit, yang terpenting jaga hati, pikiran dan mulut, mau itu jelek atau bagus mending urusan rumah tangga simpan saja didalam rumah, ga usah di bawa keluar”.

Apa yang diungkapkannya bukan semata-mata, karena dia sedang marah atau kesal pada seseorang, tapi karena dia selalu mendengar keluhan (alias rumpian ibu-ibu) didepan halaman rumahnya. Otomatis dia selalu mendengar apa yang mereka ucapkan, biarpun tidak ikut ngumpul dengan mereka, lah kata Dini, gaya bicaranya kayak pengen didengar oleh satu RT.

Ternyata semaua ucapannya benar, ketika berkunjung kerumahnya, pasti yang saya lihat kegiatan beberapa Ibu itu merumpi didepan rumah Dini, dan seenaknya duduk manis diteras rumahnya, tanpa seizin yang punya rumah.

Mungkin ini akan menjadi sebuah renungan, atau bahkan pelajaran buat kita, bahwa tidak semua mengumpul dengan tetangga atau lingkungan sendiri itu hasilnya bisa positif, ya mungkin bilangnya silaturahmi, “ngapain aja di rumah, kayak gamau gaul sama tetangga”, seperti itu mungkin, ucapan Dini yang selalu dia dengar setiap hari.

Mereka sengaja duduk diteras rumah Dini, karena Dini jarang mau kumpul dengan tetangganya, bukannya sombong atau tidak mau bergaul, tapi Dini ingin menjaga kehormatan suaminya, keluar hanya seizin suaminya. Dini hanya keluar untuk belanja sayur kepasar, dia ini sosok Ibu rumah tangga yang aktif sebenarnya, di rumah bukannya diam saja, tapi dia bekerja sebagai seorang wirausaha sekaligus petani.

“Lis, kamu dengar, apa yang mereka bicarakan?” tanya Dini sambil menunjuk kearah jendela, “Ya ga denger gimana, ngomongnya sambil teriak-teriak gitu?”.

Saya dan Dini, juga bukan manusia sempurna, pasti ada salahnya, bahkan mungkin kami masih jauh dari kata istri yang baik, masih ada keluh kesahnya kalau cape dengan kerjaan di rumah, tapi kalau harus membicarakan urusan rumah kepada orang lain, biarpun saudara sendiri, sepertinya tidak mungkin, karena urusan rumah tangga kita itu bersifat rahasia. Kalau yang dibicarakan benar, kalau tidak, dosa kita sebagai istri begitu sangat besar, karena suami adalah imam dalam rumah tangga, jalan seorang istri menuju surga.

“Kelemahan dan kelebihan suami istri harus bisa saling melengkapi, apalagi suami yang mencari nafkah, tidak baiklah membicarakan suami, karena hal yang sepele”.

Saya jadi banyak belajar dari Dini, tidak selamanya kumpul dengan lingkungan bisa menghasilkan hal baik, seperti kejadian diatas, yang tadi saya bilang, itu membuka mata saya, bagaimana untuk berperilaku menjadi manusia yang mampu menjaga hati, dan tentunya berusaha menjadi istri yang baik itu tidak sulit kok, kalau dilakukan dengan kesadaran sendiri, bahwa mau mengucapkan apa-apa tuh meski dipikir dulu, jangan mentang-mentang lagi kesal sama suami, langsung curhat kesana kemari, yang akhirnya itu membongkar rahasia pribadi kita sendiri, dampaknya kita tidak akan dihargai orang lain.

Contoh kecil saja sewaktu ada yang punya masalah dirumah (sebut saja si A curhat ke si B dan C), lalu si B ingin kasih masukan, tidak akan diterima, karena bisa jadi si A menganggap si B sama saja, mungkin si B juga pernah berbuat hal yang sama, jadi semua ucapan si B tidak pernah dianggap sama si A.

Kalau seperti itu, masukan sebaik apapun tidak akan pernah dihargai. Saya selalu merenung, apa yang dikatakan Dini benar, biarpun dia selalu ngomong apa adanya, tapi dia selalu berusaha menjaga kehormatan suaminya, memang tidak sulit untuk menjadi istri yang baik, selama kita bisa menjaga diri, menjaga hati, menjaga pikiran dan mulut kita, berkumpul dengan lingkungan itu boleh, tapi ada batasannya, jangan sampai kita terpancing untuk membuka rahasia yang tidak seharusnya orang lain dengar.

Istri yang baik, yang mampu menjaga kehormatan suaminya, tidak ada yang sulit, kalau apa yang kita jalani semua dilakukan karena Allah SWT.



8 komentar:

  1. Memang perlu adanya saling keterbukaan dan saling menguatkan

    BalasHapus
  2. Kalo ibu2 sekitar rumah saya kebanyakan kerja atau sibuk antar jemput anaknya, maklum di komplek. Ketemu pas arisan aja, yg banyak suka ngerumpi justru mbak2nya (ART), ngerumpiin majikannya. Saya juga ga suka mak kalo kumpul2 malah ngomongin orang apalagi suami sendiri. Kalo ada sesuatu saya lebih suka ngadu atau minta saran ke satu teman yg dianggap paling dekat dan bijaksana :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ditempat saya juga gitu mbak Kania....ibu2nya pada sibuk antar jemput....kumpul kalau arisan, kalau keteman saya..aduh geleng-geleng saya, binggung ngadepinnya.....sedih ya...kalau melihat orang yang kayak gitu...
      setiap orang berbeda-beda .... saya juga ada 1 satu teman untuk bisa diajak ngobrol, tapi jauh banget sekarang.

      Hapus
  3. Terima kash sudah ikutan ya Mak :)

    BalasHapus
  4. Kejadian serupa pernah menimpa sy jg, sekumpulan ibu2 ngerumpi di dpn rmh. Ga cm ngimongin suami, bahkan hubungan yg sifatnya rahasia suka jg diomongin. Kalau yg ini,bapak2 jg suka ngomongin. Astagfirullah. Btw, trims ya sudah ikutan GA kami :) salam kenal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti samaan ya ceritanya mbak..hihi

      iya sama-sama mbak

      Hapus

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...