TUHAN, DALAM SETIAP LANGKAH KUSEBUT NAMAMU

Liswanti Pertiwi | Kamis, Januari 29, 2015 | |
Dok. Pribadi
Tepat dihari Jumat, dimana kaum lelaki akan melakukan shalat jumat sebagai sebuah kewajiban yang harus dilakukan. Saat hari itu pun putra kedua saya lahir pada pukul 9 pagi dimeja operasi. 30 Nopember 2012 menjadi hari kelahirannya, dan memang sangat dinanti. Saat kelahirannya, bahkan disambut oleh gerimis hujan yang turun, suasana pun terasa begitu sejuk, dan shalawatan terdengar disebuah mesjid yang melantun begitu merdu.

Berharap bahwa kelahirannya akan membawa kedamaian dalam hati kami, menjadi cahaya dalam keluarga kami. Tapi, dihari itu pun saya harus melalui waktu yang begitu panjang untuk bisa menyentuhnya. Beratnya normal 2,7 kg dan panjangnya 49 cm, dan dalam kandungan pun normal 38 minggu. Entah mengapa saya tidak bisa langsung menyentuhnya atau bahkan melakukan IMD, karena bayi lelaki saya harus dimasukkan kedalam incubator, supaya kondisinya stabil. “Bayinya sakit” bisik seorang perawat, saya sadar orang-orang berlalu lalang, telpon sana sini, saat saya sedang dalam tahap pemulihan setelah ceasar.

Dan saat hendak keluar, saya baru tahu kalau ada masalah dengan kondisi anak saya. Paru-paru dan jantungnya belum matang, entahlah istilah medisnya apa, yang jelas bayi itu belum kuat berada diluar. Anak lelaki yang saya beri nama Dimas Nurjamil, dirawat diinkubator selama satu minggu, sempat disarankan untuk mencari rumah sakit yang ada NICU nya, tapi semua rumah sakit terdekat penuh. Saya semakin merasa bersalah, apa ini karena saya?, karena saya tidak bisa menahan rasa sakit, dan harusnya bisa dipertahankan sampai anak itu benar-benar matang didalam perut. Saya merasa menjadi ibu paling egois, karena tidak menahan rasa sakit sebentar saja, dengan diberi obat penguat mungkin, atau entahlah…hari itu saya binggung.

Suami pun menguatkan saya, bahwa hanya ada satu jalan “pasrah kepada Tuhan”, bila dia milik kita pasti akan bertahan biarpun hanya dalam incubator, tapi kalau bukan milik kita, harus bisa menerima semua dengan lapang dada. Dengan hanya terbaring tak berdaya setelah menjalani ceasar, saya hanya merenung. Semua amarah yang bercambuk dalam diri, rasa bersalah yang ada dihati, perlahan mulai luluh. Karena saya percaya dengan kuasa Tuhan, saya berdamai dengan diri sendiri, untuk menjadi lebih baik dan pasrah kepada Yang Maha Kuasa, bahwa dalam setiap langkah ini pastilah ada jalan.

Dari semua harapan dan doa yang kami panjatkan, akhirnya anak kedua saya pun sembuh dan bisa pulang, saya yakin dengan pasrahnya kami, Tuhan memberi kesempatan kepada kami untuk merawat dan mencintai anak itu dengan baik. Hingga setahun kemudian, tepatnya bulan Desember 2013 kami kembali mendapat cobaan yang begitu menyakitkan lagi, dan itu kembali terjadi pada putra kami Dimas.

Dokumen Pribadi (Dimas Saat Dirawat?
Dimas sempat panas selama 4 hari, tidak tanggung-tanggung sampai 40 derajat. Wajahnya sudah terlihat pucat, lemas dan tidak bisa makan saat kami bawa keUGD. Sempat dibawa pulang dulu setelah dapat obat, tapi kondisinya tidak juga membaik. Akhirnya saat sore datang dia kembali dibawa ke UGD, tebakan pun benar kondisinya sudah mengkhawatirkan, HBnya pun hanya 5 dan sudah dibatas merah "istilahnya saya ga ngerti apa".  Dimas sempat menolak diinfus, sakit hati saya melihatnya, dia menjerit, menangis, dan melawan "padahal sudah lemes gitu". Tusuk sana sini, karena ga nemu buat jarum infusnya masuk, akhirnya bisa dikaki. Tapi saat larut malam dia menangis lagi, dan infusan lepas, akhirnya perawat pun mencari lagi dan infusan pun pindah ketangan.

Karena kondisinya sudah lemah, akhirnya hari itu pun Dimas melakukan banyak tes darah, dan mengharuskannya untuk segera transfusi. Tapi karena badannya belum juga turun, transfuse pun dilakukan keesokkan harinya.

2 labu darah yang masuk ketubuh Dimas, biarpun 1 labu itu tidak semuanya dimasukkan, mungkin ada aturan tertentu untuk bayi. Saya pikir Dimas kena DBD, ternyata bukan, penyakit yang kami cemaskan pun bukan. Dan ternyata itu karena bakteri, bisa saja dari makanan yang dia ambil dari lantai tanpa kita tahu "namanya juga bayu" atau apapun bisa terjadi karena kurang higienis. Saya kembali menjadi Ibu yang tidak baik, merasa bersalah, karena tidak menjaga dan memperhatikannya dengan lebih baik, hingga membuatnya sakit. Saya pikir bahwa semua yang dilakukan dalam merawatnya sudah baik dan bersih, tapi saya kecolongan, entah karena dia suka saya bawa bermain diluar, atau karena hal lain. Saya yang salah, karena kurangnya kemampuan saya. 

Saya seakan kembali ditegur, untuk menjadi Ibu yang lebih baik lagi, lebih memperhatikannya dengan baik. Saya hanya bisa kembali pasrah kepada Tuhan, supaya anak saya diberi kekuatan dan kesembuhan. Dan Tuhan pun kembali memberi kesempatan kepada saya untuk memperbaiki semua kesalahan, anak saya sembuh, bahkan hingga sekarang dia menjadi anak yang sehat dan selalu ceria.

Saya selalu yakin bahwa hanya Tuhan akan selalu ada mendampingi kita. Saya pun tak ingin terus terlarut dalam rasa bersalah, saya ingin memperbaiki diri. Selalu mencintai dan berdamai dengan diri sendiri, serta menjaga anak-anak dengan baik.


“POSTINGAN INI UNTUK MENGIKUTI GIVEAWAY ECHAIMUTENAN”


23 komentar:

  1. Sehat selalu ya Dimas... :)

    BalasHapus
  2. Sehat terus ya Dimas sayang :)

    Andiyani Achmad
    stylediaryofmilkteabunda.blogspot.com

    BalasHapus
  3. Bisa merasakan mak, bagaimana kalutnya perasaan saat anak kita lagi sakit. Alhamdulillah Dimas bisa melalui saat kritisnya. Semoga sukses GA-nya ya mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali mak. Campur aduk sekali perasaan ini saat anak sakit.
      Terima kasih mak.

      Hapus
  4. saya dulu jg lahiran anak kedua caesar. rasanya bersalaaah banget. kenapa kok nggak bisa ngeden dst. tapi ya akhirnya bisa memaafkan diri sendiri. :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya mbak...suka kepikiran kalau ceasar..saya dua-duanya malah ceasar..kareena ada masalah...

      Hapus
  5. diliputi rasa bersalah itu juga sering kualami waktu anak sakit. tapi pada akhirnya, ngga ada yng bisa kita lakukan selalin pasrah dan berdoa, serta memaafkan diri sendiri. *peluk :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. peluk juga mak.....
      banget merasa bersalah kalau anak sakit..hati berasa ikutan sakit juga

      Hapus
  6. Hwaaa anak qta seumuran mak,selisih seminggu aja hehe. Sehat terus ya sayang, titip peluk n cium ya mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh ya..kali saja nanti boleh kenalan..hehehe, mumpung seumuran.
      terima kasih mak.....iya mak sudah peluk ciumnya...

      Hapus
  7. Ya Allah... sedih liat anak terbaring sakit . Umur segini memang sering datang penyakit seperti yg 4 anak saya alami.
    Tapi saya selalu ingat pesan ibu saya "Anak itu besar dengan sakit" . Jadi agak lega. Dan terbukti, alhamdulillah setelah usia SMP dst, tidak begitu lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sedih banget memang mak...apalagi pas diinkubator gitu..hati terluka banget...Alhamdulillah sehat kok sekarang

      Hapus
  8. Dimas..sehat selalu ya... :*
    Makasi banyak mak dah ikkutan :*

    BalasHapus
  9. semoga kami juga cepat diberi momongan

    cara root android

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...