CAHAYA SEPASANG MATA INDAH YANG MEREDUP

Liswanti Pertiwi | Senin, Februari 02, 2015 | | | |

Disebuah malam yang begitu gelap, disebuah keramaian dengan pakaian yang serba hitam. Terasa sesak ditengah-tengah puluhan sepasang mata yang saling mengisi. Didepan tampak sebuah pertunjukkan drama siap digelar, sesaat suasana pun mulai terasa hening, sepi, dan hanya ada suara alunan musik yang begitu merdu.

Sepasang mata ini pun seakan tak mampu berpaling dari setiap pertunjukkan yang mereka mainkan, hingga membuatku terhanyut dengan suasana drama cinta. Lamunanku pecah, saat seorang teman lama yang datang menemuiku ditempat itu, mengajakku keluar dan membicarakan banyak hal.

Diluar langit pun semakin gelap, gerimis turun, dan angin pun bertiup menembus kulit. Seorang lelaki tampak berjalan dari kegelapan, dan dia pun tepat dihadapanku. Tapi bukan menyapaku, melainkan teman yang duduk disebelahku. Mereka saling tersenyum, bercanda, dan aku hanya bisa melihat dia bagai pemandangan yang begitu indah.

Sang lelaki yang memiliki sepasang mata yang indah, menyejukkan dan penuh arti saat dia mulai menatapku. Kulitnya putih, rambutnya ikal, badannya tinggi, biarpun sedikit kurus, tapi senyumnya begitu menawan. Saat tangan kami saling bersentuhan, dan teman ku hanya tersenyum, saat kami menyebutkan nama dengan rasa gugup. Sebuah rasa yang membuat jantung berdetak kecang, dan hati pun mulai diketuk dengan rasa cinta. Rasa yang tumbuh, dari cahaya sepasang mata yang menyinari hati.

Waktu terus berjalan, bulan mulai berganti, dan tetap di tahun yang sama. Sang lelaki mulai menunjukkan rasa sukanya. Tak kenal lelah dengan jauhnya jarak yang ditempuh, hanya untuk mengejar cinta. Dikota yang terasa asing baginya, dia mencariku hanya untuk satu pesan yaitu “cinta”.

Hati ini pun tak mampu berbohong, bahwa perasaan kami sama. Sang lelaki mengungkapkan rasa cinta dengan sepenuh hati, jantung pun semakin berdebar-debar dibuatnya. Tapi kami harus menjalani rasa rindu yang begitu panjang, karena jauhnya tempat dimana kami tinggal. Saat sedih dan bahagiaku, kuungkapkan dalam sepucuk surat yang kukirim kepadanya. Begitu pun dengannya, menuliskan semua perasaan isi hati yang dikirim kepadaku.

Perjuangan kami untuk bersama menemukan satu titik cahaya baru, saat dia memutuskan untuk tinggal dikota yang sama denganku. Menjalani hari-hari sebagai sepasang kekasih, biarpun keputusannya telah membuat penolakan yang begitu keras dari keluarganya. Tapi kegigihannya mampu menunjukkan keyakinan kepada orang tuanya, bahwa kota asing mampu membuatnya berubah.

Dia sosok lelaki yang pintar, dan pekerja keras. Begitu pun saat dia mampu meyakinkan orang-orang terdekatku. Bahwa dia akan selalu menjaga dan melindungiku dengan sepenuh hati. Rasa bahagia pun mampu kami tuliskan dalam setiap cerita. Puisi-puisi cinta yang selalu diukirkannya mampu membuatku terhanyut, bagai drama cinta yang telah kusaksikan.

2 tahun berlalu kami menjalani rasa cinta yang begitu menyenangkan, tanpa ada sedikit pun celah kegalauan yang mampu membuatku menangis. Sampai akhirnya sang lelaki jatuh sakit, tanpa pernah aku tahu, bahwa selama ini penyakit terus menggerogoti tubuhnya. Hanya dua alasan yang dia ucapkan kepadaku tentang sakitnya “ku tak ingin kau mengasihaniku, dan ku tak ingin air matamu jatuh karena rasa sakitku”.

Didetik-detik terakhir pun, dia masih mampu membuatku tersenyum dan bahagia, “cintaku pun hanya kamu yang akan menerangi hatiku, bahkan sampai aku mati” ucapnya dengan lembut. Cahaya sepasang mata itu pun semakin bersinar diakhir napasnya.

Langit siang itu begitu mendung, bahkan hujan rintik-rintik pun jatuh. Begitu sunyi dan sepi, hanya ada aku, keluarganya dan sang lelaki yang terbaring lemah dengan napas yang hampir terputus. Dia semakin lelah, dan tangannya pun gemetaran, menahan sakit saat jiwa itu akan pergi. Cahaya sepasang mata indah itu pun meredup, begitu tenang, dan tersenyum dengan bebas diakhir cerita hidupnya.

Tangis pun pecah, dan pikiran ini pun seakan kosong, saat kematian datang menjemputnya. Hati pun mulai retak, karena cinta pertamaku dibawa pergi kepangkuan Tuhan. Dan cahaya dari sepasang mata yang menyejukkan hatiku ini pun telah meredup untuk selama-lamanya, yang tak akan mampu lagi menyinari sinar hatiku yang mulai merasakan kesedihan. Sang lelaki kekasih hati, cinta pertama yang terindah pergi untuk selamanya.


ARTIKEL INI DIIKUT SERTAKAN DALAM "MY FIRST LOVE GIVEAWAY
APRINT STORY




25 komentar:

  1. Tak ada sehelai daunpun yang gugur tanpa diketahuiNYA
    Semoga berjaya dalam GA bersama saya
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Pakdhe..semoga sukses juga buat Pakdhe

      Hapus
  2. Kisahnya sangat menyentuh Mbak... Selamat mengikuti kontes semoga suksed ya...

    BalasHapus
  3. terkagum dengan pemilihan kata yang digunakan dalam tulisan indah ini
    sukses mak untuk GAnya

    BalasHapus
  4. Mak... kisahnya sangat menyentuh.... jd ikutan melow...
    Sukses GA-nya ya mak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe...aku sendiri jadi berasa buka luka lama..mak

      Terima kasih sudah berkunjung

      Hapus
  5. tangis yang tak bisa dibendung :)
    goodluck give away nya iyak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih....

      iya tangisan yang meyakitkan

      Hapus
  6. Emaaakkkkkk
    Menyentuh smpek kesini nih *nunjuk dada
    Sukses ngontesnya ya mak

    BalasHapus
  7. Emaaakkkkkk
    Menyentuh smpek kesini nih *nunjuk dada
    Sukses ngontesnya ya mak

    BalasHapus
  8. :'(((( menyentuh banget mbak, pemilihan katanya pas dan indah sekali. Sukses GA nya ya mbak.

    BalasHapus
  9. Hmm..hiks..hiks..sukses ya mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih..perlu tisuee mak..hehehe

      Hapus
  10. Duh, kisah cita pertama yg sedih & mengharukan... Sukses GA-nya ya Mak... :)

    BalasHapus
  11. Allah lebih sayang dia ya mak ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak Kania...Allah ternyata lebih sayang padanya, diusia 25 dia sudah berpulang

      Hapus
  12. Salam kenal mak, tulisannya keren

    BalasHapus
  13. hiks..sedih banget Mak. Sukses GAnya ya Mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa yang telah berlalu...memang menjadi kenangan menyedihkan
      terima kasih

      Hapus

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...