DAHSYATNYA IBADAH HAJI : KENIKMATAN SEBUAH PERJALANAN ABDUL CHOLIK KE TANAH SUCI

Liswanti Pertiwi | Sabtu, Maret 21, 2015 | | | | |
Judul Buku : Dahsyatnya Ibadah Haji
Catatan Perjalanan Ibadah di Makkah dan Madinah
Dok. Pribadi
Penulis : Abdul Cholik
Penerbit : Quanta PT. Elex Media Komputindo
Tahun : Cetakan Pertama 2014
ISBN : 978-602-02-4810-3
Tebal : ix + 233 halaman
Harga : 47.630

Dok. Pribadi
Sebagai seorang muslim tentu mempunyai keinginan untuk bisa melaksanakan rukun islam ke lima yaitu menunaikan ibadah haji. Begitu pun dengan saya sendiri, bahkan sebagai seorang anak, saya selalu berkeinginan untuk bisa memberangkatkan Ibu terlebih dahulu ke tanah suci, yang kini usianya sudah menginjak 52 tahun.


Alasan ini sama persis dengan yang diutarakan seorang penulis bernama Abdul Cholik dalam buku karangannya yang berjudul “Dahsyatnya Ibadah Haji”. Buku ini sangat menarik dan mudah dipahami pembaca, karena dikemas dengan gaya bahasa yang sederhana. Saya pun terbawa suasana saat membaca buku ini dari awal hingga akhir. Seakan seperti melihat secara langsung tahapan-tahapan penulis dalam melakasanakan ibadah haji.

Dalam buku ini pun ada berbagai tips yang diberikan penulis, dan memang sangat penting untuk diikuti bagi pembaca ataupun calon jemaah haji. Supaya rangkaian ibadah pun berjalan dengan nyaman dan tenang.

Dahsyatnya Ibadah Haji adalah catatan perjalanan ibadah di Makkah dan Madinah yang merupakan pengalaman langsung sang penulis Abdul Cholik dalam melaksanakan rukun islam ke lima pada tahun 2006. Alasan yang mendasari penulis melaksanakan ibadah haji disaat dirinya sudah pensiun dari kedinasan sebagai seorang militer, itu dikarenakan sebuah keinginan untuk anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak terlebih dahulu. Bukan itu saja, penulis pun mempunyai keinginan supaya sang Ibu yang pertama berangkat ke tanah suci. Banyak sekali cerita seru dalam buku ini yang sangat menarik dan membuat saya terharu.

Kisah pertama ini dimulai dengan berbagai persiapan penulis sebelum berangkat ke tanah suci. Dari bab 1 sampai 12, penulis menceritakan apa saja yang harus dipersiapkan. Sebagai calon jemaah haji tentu saja, salah satu yang harus dilakukan adalah melengkapi berkas administrasi dikantor Departemen Agama, sampai dengan memeriksakan kesehatan.

Manasik haji adalah salah satu tahapan penulis dalam menyiapkan diri mengikuti rangkaian ibadah haji. Disini calon jamaah haji bisa punya banyak pengetahuan tentang rukun, wajib, sunnah dan proses perjalanan serta pelaksanaan haji.

“Mengingat kegiatan manasik hajin ini sangat penting, maka saya menyarankan agar para calon jemaah haji rajin mengikuti bimbingan di KBIH masing-masing”. (Halaman 5).

Disini penulis juga meyakini bahwa sebelum berangkat berhaji harus bisa meluruskan niat.

“Saya dan istri perlu meluruskan niat, yaitu naik haji hanya karena Allah atau naik haji sebagai ibadah. Niat yang lurus ini sungguh sangat penting, agar ibadah yang akan kami laksanakan sekali dalam seumur hidup ini mendapat ridha dari Allah SWT”. (Halaman 7).

Dengan niat itulah penulis berharap dalam perjalanan haji mendapat kenikmatan yang luar biasa, serta barakah dan diberi kekuatan lahir dan batin dari Sang Maha Kuasa. Dari tahapan bab awal ini, saya bisa melihat bagaimana penulis menyiapkan segala sesuatu dengan baik dan sederhana. Semua dilakukan tanpa perlu ribet dan biasa saja. Kan yang terpenting adalah ibadah.

Penulis selalu berpikir apa yang terpenting itu yang harus dibawa, seperti bawa uang tidak usah berlebihan, paspor dan identitas lainnya disimpan ditempan yang aman, kamera serta handphone dan semua itu bisa dimasukkan dalam satu tas yang bisa dikalungkan dileher biar semuanya aman. 

Bahkan penulis pun tidak banyak membawa barang, karena itu bisa memenuhi bagasi, maka penulis pun membuat checklist khusus yang isinya berupa pakaian, penutup kepala serta perlengkapan penting lainnya, begitu pun dengan buku doa dan dzikir. Sedangkan barang yang sekiranya bisa ditemukan ditanah suci, seperti peralatan mandi dan barang berat (muthu dan cobek) tidak usah dibawa, karena itu bisa memperberat isi koper.

Dok. Pribadi
Penulis sangat teliti betul dalam menyiapkan segala keperluan yang akan dibawa ke tanah suci. Sampai urusan menyiapkan tanda dalam koper pun dilakukan, supaya setelah berada disana tidak kesulitan mencari barang sendiri, dan bisa menemukan semuanya dengan cepat.

Setelah semua persiapkan selesai dan penulis menuju asrama haji untuk kemudian berangkat ke tanah suci dengan jemaah lainnya. Setelah tiba di Jeddah, penulis pun memulai rangkaian ibadah haji. Dibab 17 hingga bab 46, penulis menceritakan perjalanan ibadahnya yang begitu nikmat dan luar biasa. Perjalanan pertamanya pun dimulai dengan melakukan thawaf. Disini penulis mengingatkan supaya pria ataupun wanita memanuhi peraturan saat berpakaian ihram.

Penulis beserta istri dan rombangan lain pun melaksanakan thawaf di Masjidil Haram.

“Hati mulai berdebar-debar ketika dari kejauhan tampak menara Masjidil Haram menjulang. Subhanallah, pelan-pelan masjid yang dihiasi lampu terang benderang itu semakin dekat. Tak sabar rasanya ingin segera masuk dan melihat Baitullah”. (Halaman 54-55).

Disini saya dibuat terharu, merinding akan keinginan yang semakin kuat, untuk bisa pergi ketanah suci dan melaksanakan ibadah di Masjidil Haram. Menyuarakan takbir, doa dan dzikir disini.


Penulis pun menceritakan perjalanannya yang penuh dengan perjuangan, berdesak-desakan dengan berpuluh-puluh ribu jemaah dari seluruh dunia. Penulis dan istri tak kuasa menahan tangis, yang pada akhirnya bisa melihat Kakbah secara langsung. Penulis pun memulai ibadahnya, dengan mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali disertai doa. Keinginan penulis untuk mencium Hajar Aswad yang merupakan Sunah Rasulullah SAW, harus dilalui dengan penuh perjuangan. Karena semakin mendekati Hajar Aswad, desakan-desakan jemaah haji semakin kuat, sang istri sampai terjepit, maka penulis pun tidak bisa mencapai Hajar Aswad. 

“Dengan menghadap dinding Kakbah yang disebut Multazam, kami berdoa dengan khusyuk. Alhamdulillah, thawaf sudah kami laksanakan dengan lancar dan selamat”. (Halaman 63).

Perjalanan penulis pun dilanjutkan dengan melaksanakan sa’i, yang tempatnya masih berada dalam lingkungan Masjidil Haram, dengan menuju bukit Shafa. Disana pun penulis melaksanakan sa’i dari Shafa ke Marwah sebanyak tujuh kali perjalanan. Disini penulis menyarankan untuk menggunakan karet gelang, supaya tidak salah hitung dalam melaksanakan ibadah ini. Setelah itu penulis pun mulai melakukan Tahallul yaitu berupa memotong rambut, tapi disini penulis tidak memotong rambutnya sampai gundul.   

Selama berada di Jeddah, Maktab bagaikan rumah bagi penulis. Karena disinilah penulis tinggal, dan melakukan berbagai aktifitas selama melakukan ibadah haji. Banyak kegiatan yang dilakukan penulis, baik itu rutin melaksanakan shalat di Masjidil Haram, jalan-jalan menikmati suasana disekitar Maktab, menikmati makanan, mencuci dan sebagainya. Itu dilakukan sembari menunggu ibadah selanjutnya, yaitu wukuf di Arafah.

Penulis menceritakan, bahwa selama menjalankan ibadah penting sekali untuk selalu menjaga kesehatan dan kebugaran. Menjaga pola hidup sehat sampai nanti melakukan puncak ibadah haji pada tanggal 9 Zuhijah. Disini penulis berbagi tips menjaga kesehatan selama beribadah haji, mulai dengan Makan secara cukup dan bergizi, minum secara cukup, pakai jaket saat musim dingin, sampai dengan memeriksakan kesehatan, kalau sekiranya badan sudah terasa tidak enak. 



Dok. Pribadi

Setelah dua minggu berlalu, akhirnya penulis menyiapkan diri untuk melakukan inti dari ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah. Kehadiran jemaah di Arafah merupakan suatu kewajiban, maka sudah tentu seluruh jemaah haji termasuk yang sedang sakit harus berangkat, tak perlu khawatir, karena bagi jemaah haji disipkan ambulans.

Penulis dan seluruh rombongan yang sudah berpakaian ihram menuju Arafah dengan menggunakan bus. Disini penulis tidak henti-hentinya bersyukur, karena masih bisa duduk dengan nikmat dalam bus yang ber AC. Karena diluar sana banyak jemaah haji yang berdesak-desakan dan berpanas-panasan menggunakan truk menuju Arafah.

Dipadang Arafah penulis serta seluruh jamaah haji lainnya tinggal bersama dalam tenda. Banyak sekali yang dilalui penulis selama di Arafah, salah satunya yaitu banyak jemaah haji yang tidak mendapat jatah makan. Tapi dengan inisiatif sesama jemaah haji, mereka pun memasak mie instan.

Prosesi Wukuf di Arafah pun dimulai, disini saya dibuat merinding saat membacanya. Karena disaat itu penulis mencurahkan segala isi hatinya, dari setiap perilaku dan perbuatannya selama ini.

“Saat wukuf inilah air mata tak terbendung. Sungguh, saya benar-benar menangis. Ingat segala kesalahan, kelalaian, dan dosa-dosa yang pernah saya buat. Utamanya ketika masih muda dulu”. (Halaman 118).

Disini penulis menceritakan, bagaimana dahulu sewaktu muda dirinya selalu bersikap bandel dan nakal, yang terkadang sampai menyakiti orang tuanya. Bahkan disaat diminta pertolongan oleh orang tua atau kakek neneknya, penulis selalu menghindar dengan berbagai alasan.
Penulis pun tak bisa membendung air matanya lagi mengingat semua perbauatan yang telah dilakukannya selama ini, dan memohon pengampunan atas segala kesalahannya.

“Ya Allah, ampunilah segala dosaku, baik dosa besar maupun dosa kecil, dosa yang saya sengaja maupun tidak, yang kelihatan maupun samar-samar, dosa masa lalu, sekarang dan yang akan datang”. (Halaman 122).

Kemudian penulis pun melanjutkan rangkaian ibadah haji dan berangkat menuju Muzdalifah, dan akhirnya menetap di Mina. Disini penulis juga menceritakan bagaimana tak sedikit perjuangan yang dilaui, tapi begitu nikmat rasanya. Dari mulai antre cukup lama untuk masuk bus, sampai jalan tempuh yang dilalui menuju mina cukup jauh.

Dok. Pribadi
Setelah itu penulis melakukan lempar jumrah, dengan melalui terowongan Mina. Disini penuh sesak dengan jemaah haji, tapi biarpun begitu, penulis, istri serta seluruh jemaah bisa meyelesaikan lempar jumrah dan berdoa, hingga akhirnya kembali kemaktab serta melakukan tahallul (potong rambut). Lempar jumrah pun dihari kedua dilakukan penulis di malam hari dan dihari terakhir dilakukannya pada siang hari. Biarpun terik matahari menyegat, itu tidak melunturkan semangat penulis dan jemaah lainnya dalam melakukan rangkaian ibadah yang nikmat luar biasa.

Seperti yang kita tahu, bahwa dibalik perjalanan ibadah haji menyimpan banyak cerita, baik itu haru, bahagia dan lainnya. Begitu pun dengan apa yang dialamin penulis, bahwa disaat melakukan lempar jumrah, dirinya tersesat saat akan pulang ke maktab. Oleh karena hafal jalan menuju maktab, maka penulis beserta istri yang beristirahat untuk minum, kehilangan rombongan. Bahkan penulis pun hilir mudik selama satu jam lebih, karena dirasa sudah terasa kelelahan, akhirnya penulis pun mengucapkan istighfar dan memohon ampun serta petunjuk, penulis pun bisa menemukan makhtabnya.


“Kepada saudara-saudara yang akan berangkat menunaikan ibadah haji, hindari kesombongan walau hanya sebesar biji sawi”. (Halaman 148).


Setelah di Mina, penulis pun kembali ke Makkah, karena ada satu ibadah lagi yang harus dilakukan, yaitu thawaf wada yang dilaksanakan sebanyak tujuh kali mengelilingi Kakbah. Dan akhirnya rangkaian ibadah haji pun bisa dilalui penulis dan istri dengan lancar, aman dan tertib sesuai tuntunan.

Pada bagian akhir yaitu bab 47 sampai 61. Penulis pun melanjutkan perjalanan ke Madinah, ternyata jalan yang ditempuh pun tidak sedikit, karena membutuhkan waktu 4 sampai 5 jam. Disini seluruh jamaah melaksanakan shalat arbain berjemaah di Masjid Nabawi.

“Selama berada di dalam Masjid Nabawi tak henti-henti kami mengagumi kemegahan dan keindahan masjid ini. Ada sebagian atap yang bisa dibuka. Dimesjid Nabawi terdapat suatu tempat yang selalu ramai dikunjungi para jemaah haji. Tempat itu bernama Raudhah”. (Halaman 164).

Disini saya semakin terpancing untuk bisa pergi ke Makkah dan Madinah. Bagaimana tidak?, dalam buku ini saya disuguhi dengan berbagai foto keindahan Makkah dan Madinah yang luar biasa. Foto perjalanan penulis mampu memancing kesedihan saya, yang selalu bertanya dalam hati, “Kapankah panggilan itu akan datang kepada saya?”.

Selama di Madinah, penulis pun banyak melakukan doa dan ibadah, seperti shlat wajib, shalat sunnah, membaca Al-Quran, berdzikir, perbanyak sedekah, serta amalan lainnya. Bahkan bukan itu saja, disela-sela ibadah, penulis pun banyak melakukan ziarah dan rekreasi, seperti mengunjungi makam, masjid, tempat bersejarah dan objek lainnya.

Perjalanan ibadah haji memang sangat menarik untuk bisa dilakukan, begitu pun dengan apa yang ada di dalam buku “Dahsyatnya Ibadah Haji”, banyak sekali pengalaman seru dan menakjubkan penulis dalam buku ini, yang bisa membuat saya banyak mendapatkan poin penting, ilmu dan rasa keinginan yang kuat untuk segera melakukan ibadah haji.

Sebagaimana dalam Al-Quran Surat Ali Imraan ayat 96-97, yang berarti :

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. PAdanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (diantaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlan dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

Ada beberapa poin penting yang bisa saya ambil setelah membaca buku ini :
  • Persiapkanlah mental, materi dan niat dengan sebaik mungkin. Jadikanlah berhaji adalah sebagai sebuah ibadah karena Allah SWT, bukan karena pujian.
  • Bawalah barang-barang secukupnya dan tidak usah berlebihan.
  • Banyaklah berdzikir, berdoa dan perbanyak istighfar.
  • Ibadahlah dengan baik, dan laksanakanlah tahapan ibadah haji dengan teratur, sehingga bisa menciptakan ibadah yang aman, nyaman dan tertib.
  • Manfaatkanlah waktu selama ditanah suci dengan banyak beribadah, berdoa dan sedekah.

Beribadah haji adalah keinginan dan harapan setiap muslim untuk bisa melaksanakannya. Semoga panggilan itu segera datang kepada saya dan keluarga, menginjakkan kaki di tanah suci dan beribadah dengan aman dan nyaman tanpa hambatan sedikit pun.

ARTIKEL INI DIIKUTSERTAKAN PADA LOMBA MENULIS

RESENSIBUKU DAHSYATNYA IBADAH HAJI


http://blogflamboyan.com/resensi-buku/lomba-menulis-resensi-buku-dahsyatnya-ibadah-haji


8 komentar:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Lomba Menulis Resensi Buku Dahsyatnya Ibadah Haji
    Dicatat sebagai peserta
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
  2. Impian saya berangkat haji bareng papa-bunda karena ingin merasakan kedahsyatan ibadah haji. Tapi, kata bunda kalau nanti ada uang umrah dulu gak apa....

    Good luck kontesnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga terwujud ya berangkat haji bareng mama papanya

      terima kasih

      Hapus
  3. sangat ingin ke tanah suci bersama keluarga, pasti nikmat banget apalagi kalau sudah berkeluarga :)
    semoga sukses lombanya ya Mba :)

    mampir2 jgn lupa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih..semoga mimpinya terwujud ya

      Hapus
  4. keren sekali bukunya pakde yang satu ini, berasa pengen haji juga... mulai nabung aaah

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya neh tambah terharu juga..merinding kalau dengar cerita tentang Kakbah

      Hapus

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...