MENGOLAH LAHAN KEBUN SEBAGAI INVESTASI JANGKA PANJANG

Liswanti Pertiwi | Minggu, Maret 15, 2015 | | |
Kira-kira kalau misalkan punya lahan kebun yang luas, maunya ditanami apa?, saya yang dulu ga mengerti sama sekali pertanian "maklum bukan lulusan pertanian", jadi kalau disuruh nanem dikebun hanya ikut-ikut saja. Disuruh ditanami jagung "ayo", ditanami cabe "hayukk". Setelah mengeluarkan uang, dan kemudian digarap, ternyata hasilnya tidak sesuai harapan. Kadang banyak ruginya, belum lagi biaya pupuk yang mahal, hadeuuuh bisa bikin pusing deh. Sekalipun untung tidaklah seberapa, apalagi kalau hasil pertanian ada yang nyuri sebelum panen, nyesek "sakitnya tuh disini (nunjuk dada)".

Mengolah lahan kebun supaya bisa bermanfaat dan menghasilkan, memang harus sama orang yang benar-benar ngerti dan tidak gampang dibohongi kalau nanya. Tentu saya ingin kebun itu bisa menjadi investasi jangka panjang sebagai tabungan masa depan.
                                                                                    
Lalu apa neh yang harus ditanam di kebun yang hanya ada 100 tumbak?. Bikin perkebunan mangga, malah keasyikan bagi pencuri, ditanami singkong, harganya tidak seberapa kalau dijual kepasar. Kalau ditanami sayuran dan lain-lainnya, jauh dari saluran air. Binggung? tentu saja, saya ingin loh lahan kebun itu benar-benar bermanfaat.

Dok. Pribadi
Saat JAbon usia 2.5 tahun
Ketemulah solusinya, dari sahabat saya yang tinggal didaerah Pameungpeuk Jawa Barat. "Kieu weh, neng lis kan jarang uih ka Garut, mening oge kebon dipelakan jati atawa jabon, lebih untung" (artinya : Begini saja, neng lis kan jarang pulang ke Garut, mending kebun ditanam jati atau jabon". Langsung browsing tuh apa itu jabon?, kalau jati seh saya sudah tahu, ada jati perak, jati emas dan sudah lihat jenisnya serta keuntungannya.

Yang saya suka jabon ini, bisa tumbuh diberbagai jenis tanah, mau tanah berbatu juga bisa. KAn kalau dikampung suka banyak yang ternak tuh, pasti deh suka ngambil daun sana sini. Nah ternak ternyata ga suka sama daun jabon, jadi aman bagi saya kalau nanem ini. Kayu jabon ini juga lebih banyak manfaatnya dibanding kayu jenjen atau bahkan albasia. Dan lebih banyak digunakan di industri meubeul, tripleks, papan, dan lainnya.

Lalu pilih mana jati atau jabon. Nah karena kebetulan saya punya modal waktu itu (tahun 2011) hanya 3 juta. Kalau misal beli benih pohon jati harganya mencapai 3000/buah (sekitaran 10-15 cm). Maka saya memilih jabon yang harganya jauh lebih murah 1000/buah (sekitaran 10-15cm) dan membeli sebanyak 500 benih pohon. Untuk 100 tumbak lahan kebun, saya bisa menanam 3-400 pohon, dan sisanya disimpan, takutnya ada yang mati tiba-tiba benihnya.

Teman saya pun menyarankan untuk menanamnya saat pertama kali musim hujan, karena katanya kondisi tanah lagi bagus dan sangat cocok. Saya sebenarnya tidak mengerti perawatannya bagaimana?, alhasil teman selalu mengingatkan diawal-awal untuk memberikan pupuk orea 3-5 biji perpohon. Dan memang benar hasilnya menakjubkan dalam waktu 2.5 tahun sudah tinggi-tinggi. 

Daun Jabon : Sumber gambar
Kebon Jabon : Jabon.wen.id
Daun Jabon sendiri tidak perlu pemangkasan, karena memang akan rontok sendiri. Maka saya tidak perlu khawatir, apalagi pohon ini tidak perlu perlakuan khusus. Usia pohon ini bisa dipanen sekitar 5 -6 tahun, tapi menurut teman saya lebih bangus bisa mencapai 8 tahun. Bahkan harganya juga menggiurkan, usia pohon teman saya 8 tahun dan laku dijual perpohon mencapai 1.5 juta "wow...kebayang dong kalau 100 pohon".

Eiits..tapi saya tidak terlalu mengkhayal terlalu tinggi, karena takut jatoh hahaha. Saya anggap menanam jabon ini sebagai investasi jangka panjang, yang bisa menjadi tabungan masa depan anak-anak. Dan bisa mengolah lahan kebun dengan tepat dan menguntungkan, apalagi bagi orang seperti saya, yang memang tidak mengerti sama sekali pertanian.
 

Nah pasti pada bertanya uang 3 juta itu buat apa saja?..ini dia rincianya.
  • 500 buah benih pohon Rp. 1000,- = Rp.   500.000,-
  • Biaya penggarap (2 orang)       = Rp.   500.000,-
    (penggarapan 3 hari)
  • Biaya makannya selama 3 hari    = Rp.   500.000,-
  • Biaya pupuk dan lain0lain       = Rp. 1.000.000,-
  • Biaya tidak terduga             = Rp.   500.000,-
  • Total keseluruhan Rp. 3.000.000,-
Nah bagaimana modalnya tidak besarkan? hehehe. Sebenarnya Ayah saya juga pernah menanam jenjen atau albasia, tapi harga jualnya pun tidaklah seberapa. Maka dari itu mending nanem pohon jati atau jabon yang lebih menguntungkan. Selain menanam pohon bisa menguntungkan, kondisi lingkungan pun akan tetap asri, tapi hati-hati banyak pencuri pohon juga. 

Nah kalau ada lahan kebun kosong tidak terawat, mending mulai saat ini diolah dan lakukan penghijauan. Biar adem selalu, dan pastinya jadi lahan bisnis menguntungkan nantinya.





8 komentar:

  1. pohonnya tinggingga sih....? kalo ditanam ditepi sungai bisa ngga sih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pohonnya tinggi...malah kalau ditepi sungai bagus..kan ada serapa air..jadi cepet tumbuhnya.

      Hapus
  2. Wah bener banget. saya juga pengen saya ng gak punya lahan luas. Bermanfaat banget untuk masa depan. nabung gak terasa.hehehe

    BalasHapus
  3. info yang menarik.

    sebenernya indonesia ini kaya dengan banyak hal, ntah itu hasil bumi atau rempah2nya. dan semua itu jika tidak dijaga maka akan musna ditelan modernisasi dll. harusnya pohon seperti ini menjadi perhatian khusus untuk dilestarikan

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...