Waspada! Jagalah Karya Kita

Liswanti Pertiwi | Sabtu, Mei 16, 2015 | |
WASPADA!, ya mungkin itu yang ingin saya ungkapkan hari ini. Semalam memang perasaaan sedang tidak nyaman, bahkan sampe bikin status di facebook, bukan tanpa alasan, tapi ingin memberi tahu "dia" bahwa saya kecewa. Tapi semua itu berakhir dengan delcon BBM sampai berhentinya dia menjadi teman saya diFB.
Ini buku puisi saya zaman sekolah
Apa seh yang terjadi?, ya dia (sebut saja R, eh jangan deh banyak inisial R, lengkapnya saja RSA). Teman?, ya tepatnya sudah 6 tahun semenjak dulu saya mulai bekerja. RSA telah menjadikan salah satu puisi saya sebuah lagu untuk band abal-abalnya (baru merintis katanya, pengen jadi artis), tanpa seizin dan tanpa mencantumkan nama saya, melainkan menjadikan puisi ini adalah "MILIKNYA".

KOk bisa?, kronologinya bagaimana?. Banyak yang bertanya semalam, baik BBM, WA, Inbox FB dan lain-lainnya. 
Begini, sekitar tanggal 12 April 2015 kemarin. Saya mendapat telpon dari RSA yang meminta bantuan mengerjakan tugas membuat puisi untuk adiknya. Oklah, karena saya merasa dah percaya dan udah temenan lama, masa ga mau bantuin tugas adiknya. Tak salah ingat percakapannya seperti ini.
Lis : Puisi apaan seh, buat kapan?
RSA :Puisi apa saja deh, mau cinta, keindahan dan lain-lainnya. Katanya seh butuh 2. Buat besok seh, bisa ga?
Lis : Kalau buru-buru ga bisa, yang ada aja dan gampang, boleh?
RSA : Bolehlah, tentang apa?
Lis : Tentang cinta, dan satu lagi terserah saya ya.
RSA : Oklah...ga apa
Lis : Ya udah tar malam ya?, mau kirim email kemana?
RSA : Ga usah, tar saya tlp dan catet disini, biar cepet.
Dari sana saya tidak berpikir apa-apa, namanya membantu, saya kasih puisi lama dan satu lagi ngarang seadanya dalam pikiran saya. Sampai tadi malam, seorang teman (sebut saja A), dia ini sebenarnya mantan pacarnya yang baru putus beberapa minggu. Kita ngobrol banyak di BBM, dan disana saya tahu bahwa RSA menggunakan puisi yang saya beri untuk tugas adiknya, sebagai lagu untuk band abal-abalnya.
Nyesek?, sedih?, kecewa?, semuanya campur aduk, bukan saja tanpa meminta izin, tapi dia telah menyalahgunakan kepercayaan. Kemudian saya pun menanyakan kepada adiknya perihal tugas itu, dan tahu apa jawabannya?. "Saya ga minta kakak, untuk bikinin puisi ke kak Lis kok, lagian sayakan tidak ngambil jurusan sastra, sayakan di teknik kak" jawabnya. Tambah nyesek tuh, soalnya diawal dia bilang, adiknya sedang ngambil sastra.
Kemudian saya pun hubungi dia, dan meminta penjelasan, tau apa kata dia?. "Emang iya, lagian ga lo pakekan" jawabnya santai. Dari sana terjadi komunikasi yang cukup panjang, sampai ada sedikit keributan. Intinya saya meminta hak saya dan permohonan maaf, tapi apa?, dari bbm sampai fb didelcon dia.
Dan ini kedua puisi yang saya berikan, dan yang dibuat lagu berjudul "Rasa Itu".

RASA ITU

Jika aku disini masih mengingatmu
Hingga bayanganmu tampak selalu ada
Jika aku disini masih merindukanmu
Hingga ku tak mampu berpaling darimu

Rasa itu akan selalu ada
Bahkan saat kau pergi dariku
Rasa itu akan semakin dalam
Karena aku masih mencintaimu

Jika saja kau tak pernah pergi dariku
Aku akan selalu bahagia disisimu
Tapi aku tahu ini adalah takdirku
Yang membawamu pergi keatas langit

Rasa itu biarlah menjadi kenangan
Karena kau anugerah terindah yang kumiliki
Rasa itu akan selalu ada
Hingga nanti…

Maafkanlah aku yang selalu menangis
Karena kau telah berlalu dariku
Dan hatiku tetap mencintaimu

Garut, 2 Desember 2003
By. Liswanti

MIMPI

Ketika sunyi…sepi di malam hari
Tak ada cerita tentang sebuah arti

Melangkahkan kaki untuk pergi
Tapi
Tak kunjung menepi

Ku terpojok diujung jalan yang sunyi
Terdiam dan merasa sendiri
Dalam gelap sepi..Ada langkah kaki
Membuat bulu kuduk berdiri

Jiwa dan hati
Semakin dibuat mati berdiri
Karena langkah kaki sudah berhenti
Bayangannya sekejap hilang dimalam hari

Siapa yang ada dalam sepi
Ternyata Ayah yang sedang mencari
Membawaku pergi
Dari alam mimpi….

Jakarta, 14 April 2015
By. Liswanti


"Rasa Itu" adalah puisi koleksi saya sewaktu sekolah, dan menjadi puisi kenangan saya tentang seseorang. Mungkin yang mengenal saya, akan tahu buat siapa puisi ini ditujukan.
Tulisan "rasa itu", ada didokumen puisi saya
sewaktu sekolah. Maaf tulisannya sedikit
acak-acakan.
Jujur, selama ini saya memang sering membantu teman, saudara, bahkan tetangga, yang minta bantuan dibuatkan puisi untuk tugas sekolah. Tapi mereka ga pernah macam-macam, seperti RSA. Pernah suatu ketika ada teman meminta puisi kepada saya, dan akhirnya meminta izin dibuatkan lagu. Saya ok..ok saja, malah akhirnya kami membuat grup band, tapi seiring waktu berjalan, dan tinggal berjauhan, kami pun bubar "soalnya cuma buat menyalurkan hobi nyanyi katanya".
Dan dari kejadian ini, saya semakin intropeksi diri, tahajud dan berdzikir. Takutnya saya pernah ada salah, yang bisa saja melukai orang lain tanpa disadari, "disini saya mohon maaf lahir bathin, karena saya hanyalah manusia biasa", apalagi bentar lagi bulan sucikan.

Selain intropeksi diri, tentunya saya semakin berhati-hati, mengingat semua ini telah memberikan pelajaran yang sangat berharga. Biarpun niat menolong, tetap harus waspada, karena apa?. Karena menghasilkan tulisan itu sulit, butuh proses panjang, dari ide sampai menghasilkan karya terbaik yang disukai semua orang. Saya yakin banyak yang pernah merasakan hal sama seperti saya, dimana rasa kecewa, karena tertipu atau tulisannya diambil. Tapi biarlah ini menjadi sebuah pelajaran buat kita semua, terutama saya, bahwa kepercayaan itu mahal harganya.

Maka hendaknya kita selalu "waspada", dengan apa yang kita miliki dan tentunya kalau memiliki sebuah karya cipta, meski hati-hati, karena tidak semua isi pikiran orang itu sama. Soal puisi ini saya sudah ikhlas, karena saya yakin bahwa ini akan menjadi awal untuk mencapai kebahagiaan dan kesuksesan. Apalagi Tuhan itu tidak tidur, tahu mana yang benar, kalau apa yang diusahakan diawal dengan niat tidak baik, tentunya hasilnya pun bisa mengecewakan. Begitu pun sebaliknya.

Akhir kata "Mohon maaf lahir bathin ya..mau puasa neh".

19 komentar:

  1. Jadi pelajaran ya Mak butt kita agar lbh hati2 lagi. Semoga hikmahnya, Mak Lis jadi makin dikenal karna karyanya yg bagus. In shaa Allah akan diganti yg lebih indah, aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mak jadi pelajaran berharga.

      Amin Ya Rabb

      Hapus
  2. Nggak etis tuh
    Juga gak punya rasa malu deh
    Bisa ditegur langsung agar nggak semakin menjadi-jadi
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah ditegur pakdhe ampe ngelus dada saya..
      keterlaluan banget.

      Hapus
  3. Ditegur saja mbak. Bilang kalau mbak tidak berkenan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah mas...tapi ya begitu deh, malah omongannya ga enak dihati.

      Hapus
  4. Koq gak ada rasa malu ya dia ngaku2 itu karyanya.... apa mungkin dikira Mak Lis bakal gak pernah tahu bhw dia mengambil karya Mak Lis...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa juga mak Rita..disangkanya ga akan tahu..apa memang kebetulan mantannya sakit hati, jadi dilaporin ke aku ya..hehe

      Hapus
  5. sing sabar yah mbak. Semua akan berlalu. semoga tersangka sadar yah. amiin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin..makasih mba Tari..eh raisa..hehe

      Hapus
  6. Saya pernah juga mengalami, Mbak.
    Ide skripsi saya dicuri.
    Awalnya disuruh dosen buat proposal bab 1,2,3 untuk mata kuliah metode penelitian (sebelum skripsi).
    Saya bikin sebaik-baiknya.
    Pada saat evaluasi akhir semester, semua proposal dikembalikan dgn banyak coretan revisi. Punya saya enggak.
    Dan judul proposal itu muncul sbg judul skripsi teman sekelas saya. T_T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ternyata ya ga dimana-mana...ada saja yang suka nyuri tulisan mba..akhirnya gimana tuh?, bikin judul baru atau lanjut mba septy.

      Hapus
  7. rasanya pasti kesal sekali. saya pernah sih dulu ngalamin, tapi foto. puisi sejauh ini belum pernah ngalamin kejadian kayak mbak Lis. semoga temennya mbak dibukakan hatinya ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. semoga saja mbak Diah

      Karya fotonya dicuri ya mba

      Hapus
  8. Aduh koq gitu bgd ya mak...
    Ngeselin dah..
    Ikhlasin aja deh mak..biar Gusti yg mbales, dan mbak lis insyaAllah akan mendapatkan ganti yg lebih lebih dan lebih amiinn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin Ya Rabb

      Bukan ngeselin lagi..ngelus dada terus saya.

      Hapus
  9. Beda kasus sih Mbak, kalau saya dulu pernah tapi tugas kuliah. Percaya deh mbak, itu nanti nggak bakal berkah buat dia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener saya yakin itu ga bakal berkah mak ika

      Hapus
  10. itu melanggak hak kekayaan intelektual loh mbak. bisa diaduin itu ke polisi. hak cipta. seenak jidat aja ngambil karya orang. huuu. susah deh memang kalau lebih senang instan ketimbang berpikir kreatif.

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...