Pengelolaan Sampah Dan Pentingnya Mengubah Perilaku

Liswanti Pertiwi | Kamis, Oktober 29, 2015 | | | | |
Dokumen Pribadi
Sampah lagi?, tentu dong, masalah sampah bikin saya gregetan banget deh. Beberapa waktu lalu saya menulis Antara Sampah, Lingkungan Dan Kepedulian, yang bercerita tentang acara Clean Up Jakarta Day, dimana kegiatan ini merupakan aksi sosial membersihkan sampah di 30 titik Ibukota Jakarta, bisa baca tulisannya DISINI.

Saat ini lingkungan kita sedang tercemar kabut asap yang semakin membuat sesak dan pengap, jarak pandang hanya beberapa meter saja. Selain itu, banyak pula masyarakat yang sudah mulai terkena dampaknya, salah satunya masalah pernafasan. Kabut asap ini hampir berbulan-bulan lamanya belum juga terselesaikan, semua masalahnya karena perusak lingkungan dan pembakaran hutan.

Begitu pun dengan masalah sampah yang sudah mencemari lingkungan, bukan saja sungai, tapi juga lautan, bisa banjir loh setiap tahun kalau hujan datang, kan saluran air banyak tersendat, bener ga?. Nah, saya, kamu, dan kita semua, saatnya untuk merubah perilaku dengan semakin peduli pada lingkungan. 
Sumber: Diskusi Netizen dan Media
Dimulai dari diri sendiri bisa menjadi nilai plus buat kita sebagai masyarakat yang sangat mencintai lingkungan, yakni dengan mengelola sampah. Bisa tuh dengan memisahkan mana sampah yang bisa di daur ulang atau tidak. Seperti yang dikatakan bu Agnes Swastikarina Gusthi selaku Direktorat, Ditjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3, bahwa sampah mempunyai value dan bisa mengembangkan green business.

Sampah kemasan atau produk memang menjadi beban lingkungan, baik itu botol plastik, kantong plastik, kemasan mie dan lain-lainnya. Seperti yang diungkapkan Bapak Nur Adi rata-rata penggunaan kantong plastik perorang di Indonesia itu sekitar 700 lembar pertahun, mencapai 4000 ton perhari. Yang diperkirakan sekitar 100 milyar kantong plastik terkonsumsi di Indonesia pertahun, *ngeri banget seh, sampah semua tuh*.

Dalam acara Diskusi Netizen dan Media "Peran Masyarakat Sipil Dalam Pencapaian Pola Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan", yang bertempat di Ruang Sonokeling Kementrian Negara Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, semua dibahas, bagaimana sampah saat ini sudah sangat mencemari lingkungan.

Sumber : Diskusi Netizen dan Media
Pengelolaan Sampah Dan Pentingnya Merubah Perilaku

Bayangin deh kalau lautan penuh sampah, ngeri ga?. Tentu saja ngeri, apalagi kita tidak akan bisa melihat pemandangan indah lautan, dan keceriaan anak-anak bermain pasir. Maka dari itu, yuk ah kita merubah perilaku. Banyak cara yang bisa kita lakukan dalam kehiduapan sehari-hari, seperti:
Sumber: Diskusi Netizen Dan Media

  • Bila kesehariaan kita menggunakan tissue, baik tissue wajah atau toilet. Mulai saat ini lakukan pengurangan dalam penggunaan tissue di fasilitas publik.
  • Gunakan kemasan ramah lingkungan. Bisa dengan menggunakan botol minum isi ulang, seperti tumbler.
  • Ketika hendak ke pasar, supermarket, dan pusat pembelanjaan, lebih baik membawa dan menggunakan tas/kantong belanja guna ulang. Sehingga penggunaan kantong plastik bisa dikurangi.
  • Biasakan untuk memisahkan sampah organik dan non organik di rumah. Seperti menurut bu Agnes, botol plastik yang bening itu mempunyai nilai jual di pasaran. Jadi, kalau ada botol bekas minuman boleh tuh disimpan.
Pada kamis, 22 Oktober 2015 kemarin, kita menjadi tahu bahwa dalam sebuah riset oleh Tim Peneliti Ilmu Lingkungan dari University Of California tahun 2015 yang dikatakan pa Nur, bahwa "Tiongkok dan Indonesia adalah dua negara penyumbang limbah plastik terbesar di lautan. Limbah ini meliputi limbah botol, dan kantong plastik, serta zat-zat sisa makhluk hidup lainnya, "duh tambah ngeri". Maka dari itu, alnagkah baiknya kita dengan sungguh-sungguh merubah perilaku, bukan saja kita sendiri, tapi juga dari produsen. 

Dalam pengelolaan sampah beban tanggung jawab produsen tidak hanya pada saat proses produksi barang dan atau kemasan saja, namun diperluas hingga masa pakai , masa guna barang dan atau kemasan itu berakhir. Peta jalan (road map)persepuluh tahun pembatasan sampah, pendauran ulang sampah, dan pemanfaatan kembali sampah yang wajib dilaksanakan oleh produsen.


Sumber: Diskusi Netizen dan Media
Selain itu, strategi penerapan kewajiban produsen dalam pengurangan sampah, mulai dari sektor manufakturmencakup materialdan bahan yang tergolong consumer goods (kemasan dari produk sehari-haridalam rumah tangga), termasuk industri makanan dan minuman. Kemudian sektor peritel mencakup tas/kantong belanja yang digunakan pada sektor ritel. Dan yang terakhir adalah sektor jasa makanan serta minuman mencakup wadah dan peralatanan makan minum.

Dan memang sudah kita ketahui bahwa beban lingkungan bisa lebih banyak dari 3 sektor di atas, yang setiap hari menghasilkan berton-ton sampah. Sedangkan kemasan ramah lingkungan, bisa dimulai dengan botol minum isi ulang, baik berupa galon air, dan botol kaca untuk minuman bersoda dan lainnya.


Pemateri dalam Diskusi Netizen dan Media (dokumen Pribadi)
Menjaga lingkungan ini juga penting dilakukan oleh penyedia fasilitas publik, dengan menyediakan tempat sampah yang berstandar. Fasilitas publik, mulai dari pasar tradisional, pusat perbelanjaan, hingga taman rekreasi, harus bisa berstandar ramah lingkungan. Bisa menyediakan tempat sampah organik dan non organik, sehingga sampah dapat dikelola dengan baik.

Untuk memperbaiki kualitas lingkungan hidup yang lebih baik, diperlukan strategi melalui penerapan pola produksi dan konsumsi berkelanjutan (SCP). Penerapan SCP ini perlu di dukung dengan perubahan pola produksi dan konsumsi serta gaya hidup masyarakat, melalui edukasi, kampanye, penerapan prinsip yang berkelanjutan, pengembangan standar produk yang ramah lingkungan dan pelayanan publik.


Sumber: Diskusi Netizen dan Media
Pola konsumsi berkelanjutan ini bertujuan untuk mendorong agar kegiatan konsumsi dilakukan lebih ramah lingkungan yaitu memperhatikan dampak mulai dari barang di produksi sampai di buang, dalam mengkonsumsi apapun. Serta meminimalkan penggunaan sumber daya, sampah dan polusi. Targetnya tidak hanya membidik konsumen dalam hal ini pembeli, tetapi juga seluruh perangkat yang terlibat dalam kegiatan konsumsi, termasuk didalamnya penjual, distributor, hingga pengelola.


Mulai sekarang kita memang harus mulai menyadari, bahwa kalau perilaku tidak bisa berubah, sudah pasti kondisi akan terus seperti ini, lingkungan tercemar oleh sampah yang dihasilkan setiap hari. Apalagi penduduk setiap harinya juga bertambah, dan sudah pasti konsumsi akan terus meningkat. Seperti yang dikatakan Ahmad Nurhasim selaku Ketua AJI Jakarta, bahwa ketika konsumsi berlebihan muncul persoalan lingkungan, seperti sampah, limbah elektronik, sampai perubahan iklim.

Maka dari itu, sudah pasti selain kita memahami dalam pengelolaan sampah, juga pentingnya merubah perilaku. Dan semua pihak harus mulai bergerak, dan bisa saling bergotong royong untuk menjadikan lingkungan semakin baik, bersih dan sehat.

24 komentar:

  1. Postingan penting nih.

    Manteb dah penyuluhannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya tuh kemarin penyuluhan seru banget, banyak ilmu yang kita dapat

      Hapus
  2. Yuk, buang sampah pada tempatnya ^^

    BalasHapus
  3. Yuk, buang sampah pada tempatnya ^^

    BalasHapus
  4. Kalau bagi saya sih membuang sampah sembarangan seperti ssedang membuang duit aja heiheiheihieiee. Prilaku memang harus diubah. Itulah revolusi mental

    BalasHapus
    Balasan
    1. ih bener banget itu mas, sama halnya orang yang merokok ya #uppps hehe

      Hapus
  5. sampah kalau sedikit g masalah..masalhnya kalo sedikit itu tiap orang ngelakuin hal yang sama :(((((

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan menyedihkan kalau sudah begitu ya

      Hapus
  6. Alhamdulillah sudah melakukan seperti yang disarankan; meski kadang di pasar diketawain kenapa bawa2 box untuk tempat ikan atau daging.
    Dan satu lagi yang selalu aku contohkan ke Hana, kemana2 bawa kantong plastik kecil (yang bekas tentu saja) untuk menampung sampah selama di jalan.

    BalasHapus
  7. buang sampah sembarangan ini memang selalu jadi problem di indonesia. Makanya, harus dimulai dari diri sendiri agar nggak buang sampah sembarangan :|

    BalasHapus
  8. dari jaman sekolah gw udah biasain bawa botol mimun. kata nyokap dari pada beli mending bawa dari rumah. sampe sekarang gw dapet effeknya, selain ngirit setidaknya gw bisa ngurangin sampah, i lov u mom

    BalasHapus
    Balasan
    1. mama mas yandhi keren, udah membiasakan anaknya sejak dini bawa botol minum ya

      Hapus
  9. masalah sampah memang gak ada habisnya yah mbak :(
    padahal udah banyak akibat buruk yang diakibatkan oleh sampah ini tapi masih saja ada orang yang gak sadar dan terus membuang sampah sembarangan :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget. Sampah tiap hari ampe berton-ton

      Hapus
  10. Mungkin gak ya, kantong2 itu dibuat dari bahan2 yg bisa hancur jadi kompos? beberapa waktu lalu sy pernah nulis soal komponen elektronik yg dibuat dari bahan organik supaya dapat segera hancur ketika dibuang ke alam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tergantung pabriknya yang memproduksinya mas, saya juga belum paham masalah itu. Tapi semua orang sudah pasti pengen seperti itu. plastik bisa langsung hancur ketika dibuang.

      Hapus
  11. judulnya seharusnya 'mengubah' bukan 'merubah', karena tidak ada imbuhan mer- yang ada me- meng- dan kata dasarnya ubah, jadi mengubah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas sarannya, sudah saya koreksi

      Hapus
  12. Yang pasti dimulai dari diri sendiri yang soal sampah ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya biasakan diri sendiri buang sampah pasa tempatnya

      Hapus
  13. revolusi mental yang sulit banget secara hampir setiap hari lihat orang yang gak peduli dg sampah

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...