Catatan Sang Mantan: Kenangan Terakhir

by - Kamis, Oktober 20, 2016

Ilustrasi By Canva
[Lifestyle] Entah sudah berapa lama kau terduduk diam menantiku, menanti kisah kita yang berlalu. Di ujung jalan kau tampak malu-malu menatapku, merasa bersalah meninggalkanku. Dengan wajah pucat dan mata yang menatap rindu, aku tau kau masih mengharapkanku. Padahal hanya 2 bulan saja kau meninggalkanku tanpa pesan, tanpa surat, bahkan tanpa puisi yang selalu kau kirimkan kepadaku.

Mendekatimu kembali ada rasa ragu, tapi hati ini tak mampu berpaling darimu. Dengan tangan yang gemetar, kau mencoba menggengam tanganku. Ketika kuhempaskan tangan ituu, ada rasa kecewa di raut wajahmu. Aku tahu isi hatimu itu. Isi hati yang masih mencintaiku. Hanya satu yang ingin kutahu, kenapa kau meninggalkanku?

Satu minggu berlalu kau terus datang menghampiriku, dan aku pun tetap diam. Hatiku pun menyerah, ketika kau berikan catatan itu, catatan yang pernah kita sama-sama tulis. Catatan tentang bahasa cinta, puisi, isi keraguan, pengakuan, semangat terindah, dan tentang kita. Ya, aku tau disitu ada pengakuanmu. Pengakuan ketika kau mulai lelah untuk hidup. Tapi aku menjadi semangatmu, semangat untuk terus melihat indahnya dunia. Aku masih ingat tentang pengakuan itu.

Andai aku mampu bangkit dari ketidakmampuanku
Kuingin mengejarmu dan tak pernah meninggalkanmu sendiri
Bekerja saja kutak mampu, apalagi ku datang kepadamu
Aku begitu jahat membiarkanmu menangis
Aku begitu jahat tak pernah mengirimkan surat kepadamu
Maafkan aku, tolong maafkan aku
Percayalah kekasihku, dalam hati dan pikiranku hanya ada kamu
Hingga akhir napasku, aku tak akan berpaling darimu

Aku tahu kau tak akan pernah menyerah dari rasa sakit itu. Aku tahu kau tak akan meninggalkanku dalam sepi. Aku tahu kau akan selalu menggengam tanganku hingga akhir.

6 bulan berlalu, ketika kita kembali bersama, kau masih tersenyum melihatku yang berseragam putih abu-abu. Kau bertanya, "kapan kau dewasa, kapan aku bisa membelikanmu gaun pegantin yang indah". Aku hanya tersenyum mendengar itu, mendengar pertanyaan yang tak pernah bisa aku jawab hingga kini. Andai saja kutahu bahwa itu senyuman terakhir, andai saja kutahu bahwa itu hari terakhir kau mengantarku pulang. Ingin rasanya kuterus genggam tanganmu, hingga akhir napasmu.

Siang itu aku menunggumu di gerbang sekolah, bahkan rintik hujan sudah turun. Sekolah sudah mulai sepi, hanya ada mahasiswa yang berlalu lalang. Hari itu aku pulang dengan hati yang terasa begitu sakit, bukan karena aku kecewa karena kau tak datang menghampiriku. Tapi rasa sakit yang entah itu pertanda baik atau buruk. Hingga sore itu datanglah ibumu menjemputku.

Ilustrasi Catatan
Kakiku sudah gemetar, dan air mata ini tidak mau berhenti mengalir. Kau masih sempat tersenyum kepadaku, dan duduk bersandar di bahuku. Perlahan napasmu mulai menghilang, dan kau lepas genggaman tanganku. Hai kekasihku, mengapa kau tinggalkanku, bukankah kau akan menungguku dewasa, membelikanku gaun pegantin yang indah. Apakah ku mampu melepaskanmu, melepaskan kenangan indah tentang kita, melepaskan semua mimpi yang pernah kita buat bersama. Tapi kutahu, kamu sudah terlalu lelah, jadi kuikhlaskan kau pergi.  

3 tahun kau selalu mengisi catatan kosong itu dengan nama kita. Kau pernah berkata, kalau kau pergi dari dunia ini, catatan itu akan menjadi kenangan terakhir. Ya, kenangan terakhir, kenangan tentangmu kekasihku, menjadi catatan terindah. Dan tulisan ini akan menjadi sebuah catatan sang mantan yang pergi meninggalkanku selamanya. Catatan yang menjadi kenangan terakhir.

Kini, biarkan aku mulai membuka catatan baru, dengan hati yang berbeda. Tapi, kamu harus tau kekasihku, kamu akan selalu menjadi kenangan terindah yang pernah aku miliki dalam hati ini. Biarkan aku tetap mengenangmu dalam sepi, dan izinkan aku bisa memiliki cinta yang lain.


Garut, April 2006
Sebuah catatan terakhir
      

You May Also Like

21 komentar

  1. Jd mau nyanyi lagu kenangan terindah.. akhh so sweet..akhirnya bisa kuat dan membuka hati yg baru.

    BalasHapus
  2. Lupakan mantan, lupakan masalah...
    aku tidak ingin mengingat mantan lagii...
    aaahh... aku sedih :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kisah mantannya pasti terasa pahit ya mas?

      Hapus
  3. Kalau inget mantan saya mah suka sedih deh, walaupun saya laki laki tapu hati juga sama lunak jadi sangat sedih deh mbak kalau inget mantan teh, ahi hi hi.

    BalasHapus
  4. Buanglah mantan pada temannya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantanku terkubur mba dan pergi selama-lamanya

      Hapus
  5. ciye ciyee...ngomongin mantan..
    hmm satu aja sih, mantan bs jadi teman...dan teman suami juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, ini mah mantan yang telah berlalu

      Hapus
  6. Ihiks... Aku jadi baper. Teringat kenangan di masa lalu. Huhuhu...

    BalasHapus
  7. Kalau isi diary-nya kayak gini emang bagus diposting di grup ya, Mbak. Bahasanya indah. Lah kalau diary saya isinya nyampah dengan kata2 yang tidak teratur. Kagak ada indah-indahnya. Walaupun saya suka bacanya. Hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inni tuh termasuk tulisan saya dulu yang acak-acak mba

      Hapus
  8. Mengingat mantan bisa menyebabkan kita tersenyum atau cemberut ya
    Apik
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
  9. Kalo aku ya mba pasti nggak akan sanggup nulis ulang tentang mantan gini , banyak yang buruknya ketimbang indahnya hiks..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha, aku kalau yang buruk mana mau nulis mba, ini karena yang indah-indah saja, dan dia pun udah ga ada.

      Hapus
  10. wah mbak kenangan yang menyakitkan , sedih , hiks

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.