Serunya Eksplor Pasar Tomohon Dan Taman Bahowo

by - Jumat, November 25, 2016


[Wisata Indonesia] Beberapa waktu lalu saya menikmati perjalanan ke Minahasa Sulawesi Utara selama 3 hari 2 malam bersama Sarihusada, Nutrisi Untuk Bangsa dan Detik. Jelajah Gizi menjadi program tahunan dari Sarihusada untuk mengeksplorasi nilai gizi di balik kekayaan pangan khas Indonesia. Jelajah gizi adalah jalan-jalan unik, yang kegiatannya bukan saja menikmati kekayaan makanan dan kuliner khas, tapi melihat potensi-potensi lokal dan budayanya. Karena, kecukupan gizi masyarakat, sangat erat kaitannya dengan potensi dan budaya lokal.

Untuk hari pertama jelajah gizi Minahasa diisi dengan menikmati berbagai makanan khas hasil pangan dari danau Tondano hingga bukit Temboan Rurukan. Untuk cerita hari pertama bisa langsung baca saja di "Jelajah Kuliner Bergizi Dari Danau Tondano dan Bukit Temboan".


Di hari kedua, saya bisa menikmati udara sejuk dari hotel Jhoanie Hotel Tamohon sambil menikmati pemandangan Gunung Lokon dari balik jendela. Di tempat pertama saya dan teman-teman menginap cuacanya memang sangat dingin. Apalagi Tamohon juga dikenal kaya dengan kekayaan alam pegunungan yang sejuk, asri dan menawan. Tomohon juga dikenal dunia sebagai kota bunga dan sayur. Di Tomohon sendiri ternyata banyak sekali destinasi wisata yang bisa dikunjungi, mulai dari bukit doa Tomohon, air terjun Pinaras, gunung Mahawu, Vihara Ekayana, hutan pinus, eko wisata desa Rurukan, danau Linauw, hamparan kebun buga, hingga pasar Tomohon.

Eksplor Pasar Tomohon

Photo By Liswanti
Hari kedua, peserta jelajah Gizi Minahasa menuju pasar Tamohon untuk melakukan kegiatan market games, sekaligus eksplor pasar ini. Pasar tradisional Tamohon ini adalah pasar terbesar di Minahasa. Disini banyak sekali penjual sayuran, kebutuhan pokok, hingga makanan ekstrim.

Di pasar Tomohon, kelompok yang telah di bagi di hari pertama melakukan market games, yakni harus membeli bahan makanan/makanan dari pertanyaan yang panitia berikan. Setiap grup memiliki pertanyaan yang berbeda dengan modal yang diberikan 30 ribu. Saya sendiri grup 3 (cakalang) membeli pisang goroho, dabu-dabu, kolombi dan bagea, dengan sisa uang 13.000. Acara pun berlanjut dengan presentasi Prof. Ahmad tentang kandungan gizi dari setiap bahan makanan yang setiap kelompok beli. 

Kegiatan di pasar Tomohon pun berlanjut dengan eksplor pasar Tomohon. Dimana setiap kelompok membuat foto dan video tentang aktivitas di pasar Tomohon. Dengan waktu 15 menit, setiap kelompok mulai berjalan mengelilingi pasar. Dan aktivitas jelajah gizi Minahasa berlanjut untuk mengunjungi Taman Bahowo.

Taman Bahowo     

Photo By. Liswanti
Jelajah gizi Minahasa bukan saja diisi dengan kuliner, mengenal budaya lokal, tapi juga dengan ikut bakti sosial "Ini Aksiku untuk alam". Taman Bahowo terkenal sebagai tempat wisata hingga edukasi, karena disini pun ada hutan Mangrove, sekaligus pusat pembibitan Mangrove atau tanaman bakau. Sejak Maret 2016, kawasan ini dijadikan proyek penanaman pohon Mangrove, yang juga didukung oleh Aqua (Danone Grup) dengan memberikan bibit. 

Tanaman Mangrove ini bisa menjadi "benteng" untuk wilayah darat dan laut. Seperti yang diungkapkan Novanti, selaku ketua Kelompok Mangrove Tunas Baru Bahowo, bahwa Mangrove ini juga bisa menahan dari ombak besar, buktinya 2 tahun lalu ada ombak besar, tapi tidak sampai ruamah, karena dihalau oleh Mangrove. Saat ini ada 70% bakau yang masih hidup/bertahan, dan 30% lagi akan dilakukan proses penyulaman (pohon mangrove yang sudah mati akan dihidupkan lagi).

Taman Mangrove ini sendiri terletak di Bahowo Kelurahan Tongkaina Kecamatan Bunaken Manado Provinsi Sulawesi Utara. Saat ini hutan Mangrove yang masih bertahan ada di tempat ini, bahkan awalnya hanya untuk penghijauan, tapi sekarang ini di Bahowo juga dilakuka pembibitan dan penjualan. Akirnya bisa menambah penghasilan masyarakat sekitar. Program ini sendiri di dukung konsorsium wisata bahari, LSM, dan pemerintah setempat. Untuk bibit bakau/Mangrove sendiri dijual 2.500 perpohon. Apalagi manfaat bakau ini banyak, bukan saja menahan ombak, tapi juga racun dan sampah.

Photo By Sutiknyo (www.lostpacker.com)
Saya dan peserta jelajah gizi lainnya juga melakukan penanaman Mangrove, termasuk pa Arif dan Prof. Ahmad. Setelah selesai melakukan penanaman Mangrove, saya dan beberapa peserta kembali ke desa Bahowo dengan melewati tempat berlumpur, ternyata mengasyikkan juga, kan jarang-jarang main lumpur ☺☺☺. Dan dari utan Mangrove ke desa Bahowo sejauh 1 km. Oh iya, ternyata neh di Taman Bahowo ini ada sekolah Seipantai, begitu yang diutarakan oleh mba Sheela dari Manengkel Solidaritas. Dimana sekolah ini tentang pendidikan lingkungan, seperti ekosistem, pengolahan sampah, dan dasar-dasar jurnalis. Anak-anak kelas yang sekolah disini dari kelas 4, 5, dan 6, dan biasanya dilakukan di akhir pekan.

Setelah asyik makan siang dengan hidangan laut, lalu melakukan penanaman mangrove dan bakti sosial, peserta jelajah gizi pun di ajak untuk melakukan kegiatan snorkeling, tapi sayang hari itu saya tidak ikut serta, karena kondisi saya sedang berhalangan. Biarpun tidak bisa ikut snorkeling, peserta yang tidak ikut, bisa melihat aksi anak-anak melakukan Manengkel, yakni menangkap ikan dengan tangan kosong atau tombak.

Malam terakhir di Manado


Kegiatan di hari kedua belum usai, karena setelah melakukan bakti sosial dan kegiatan seru di Bahowo, peserta jelajah gizi istirahat di Lion Hotel dan melakukan persiapan untuk dinner di Resto Pantai Malalayang Manado. Biarpun malam terakhir, tapi disini ada banyak keseruan yang tidak bisa terlupakan dan sangat berkesan sekali. Karena ini bukan dinner biasa, tapi juga diisi dengan pengumuman pemenang kelomok, hingga dihibur dengan penampilan tarian daerah, salah satunya tarian Maengket.

Ada banyak sekali sajian seafood yang bisa dinikmati, tentunya dengan berbagai makanan khas. Satu meja diisi dengan 2 kelompok, yakni 6 sampai 8 orang. Dan malam itu kelompok 3 (cakalang) memenangkan juara 1 untuk Vlog saat eksplor Pasar Tomohon. Acara di malam itu pun ditutup dengan foto bersama dan Mannequin Challenge. Dan videonya bisa dilihat di bawah ini neh.

You May Also Like

24 komentar

  1. Seru banget. Apalagi menjelajah pasar tradisional ya. Dan menikmati kuliner2nya #SayaSukaMakan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru mba, karena disini kita bisa mengenal kuliner setempat yang jarang banget kita coba, salah satunya pisang goroho.

      Hapus
  2. Waw ... seru nbanget kegiatannya nih, Mbak Lis. Jadi mupeng hehe. Jelajah pasar tradisional, kulier dan pasti mengasyikkan tuh di hutan mangrovenya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, saya baru kali ini ikut menanam pohon mangrove yang sangat bermanfaat untuk menahan ombak.

      Hapus
  3. Saya rasa ini kegiatan Sarihusada untuk mengajak 10 blogger hura-hura jalan-jalan gratis saja :-)

    Mudah-mudahan ada manfaat dari kegiatan ini yang dapat ditarik untuk Sarihusada sendiri :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jelajah gizikan jalan-jalan unik mba. Bagi saya ini jalan-jalan yang membawa banyak manfaat, bukan hura-hura mba. Kegiatan kami mengenal keberagaman pangan, kuliner setempat yang bergizi, dan mengenal kebudayaan sserta bakti sosial dengan menanam pohon Mangrove yang bermanfaat untuk menahan ombak.
      Justru kegiatan ini sangat bermanfaat, terutama saya sebagai Ibu yang selalu ingin memberikan nutrisi terbaik untuk anak. Berbagai jenis ikan disini bisa menambah referensi makanan bergizi untuk anak.

      Bisa di baca disini mba, jenis makanan bergizi: http://penacinta.blogdetik.com/2016/11/25/jelajah-kuliner-bergizi-dari-danau-tondano-hingga-bukit-temboan

      Apalagi kegiatan ini diselenggarakan Sarihusada untuk mengeksplorasi nilai gizi di balik kekayaan pangan khas Indonesia. Blogger pun bisa memperhatikan kekayaan pangan dan kearifan lokal yang terkait dengan kecukupan gizi masyarakat Indonesia.

      Hapus
  4. Ungkap tentang "bagea" sama ngga ya dengan bangket ? Indonesia magh sungguh kaya pisan . . . bersyukur pada Nya.
    Alhamdukillah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang saya lihat disana, kue bagea ini adonannya dicetak dan dibungkus dalam daun enau atau daun lontar lalu dipanggang hingga kering. Nah beda sama bangket.

      Indonesia luar biasa ya bunda.

      Hapus
  5. Keren banget mbak.. Beruntung deh bisa ikutan

    BalasHapus
  6. Asyik banget menang trus jalan-jalan ya mba. HIhii
    Aku belum pernah ke Manado, kuliner dan pemandangan alamnya kece ya mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku baru 2 kali ini mba jalan-jalan dari ngeblog hehehe. Yuk mba ke Manado, kece banget tempatnya.

      Hapus
  7. lumayan asik bisa jalan2 kesana ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagi saya asyik banget mas, bisa mengenal kebudayaan sana, keberagaman pangan dan makanan khasya yang belum pernah saya coba.

      Hapus
  8. ihh seru banget acaranyaaa :D... apalagi dengan icip2 kuliner khas sana :D.. aku jg mauuu... pasar tomohon itu yg juga ngejual binatang2 kayak anjing dan kucing buat dimakan ya mbak? :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe benar sekali mba, makanya di atas aku bilang semua lengkap, termasuk makanan ekstrem hehe

      Hapus
  9. aku pertama ke tomohon terkaget-kageeet bangeeet mbaaa hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terkaget ke pasarnya itu ya mba. Sama aku mba, yang lain pada lihat, aku ga berani.

      Hapus
  10. Terakhirnya lucu banget ada #MannequinChallenge! Kalo di Menado aku cuma tahu Pasar Tomohon, soalnya banyak banget dibicarain sama orang-orang, terutama travel blogger yang aku kenal :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita juga kesana mba, eksplor pasar Tomohon. Dan lihat semua kegiatan disana, termasuk pasar ekstrem.

      Hapus
  11. Waaah seru banget nih jelajah gizi minahasa. Banyak makanan enak disana ya maaaak. Ngeliat pasar ekstremnya ngeri nggak sih mak? Hihiii

    BalasHapus
  12. Jadi pengen ikutan jelajah gizi ne mbak, seru kayknya ya

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.