Pentingnya Orangtua Mengenal Perilaku Anak Di Usia Pra-Sekolah

by - Kamis, September 21, 2017


[Dunia Anak] Memiliki 2 anak yang sudah sekolah dan pra-sekolah memang luar biasa nikmatnya. Sebagai orangtua saya jadi belajar kembali. Saat mempersiapkan anak pertama masuk dunia sekolah tidak terlalu ribet, karena dia cepat paham. Tapi, berbeda ketika saya mempersiapkan anak kedua masuk dunia sekolah. Anak kedua saya akan menginjak 5 tahun. Itu artinya dia sudah memasuki usia pra-sekolah.

Sebagai orang tua banyak hal yang harus dipersiapkan dan diketahui, terutama tentang perilaku anak di usia pra-sekolah. Apa yang harus dipersiapkan dan dilakukan. Seperti pada 14 September 2017 bertempat di Harlequin Bistro, saya mengikuti acara Parenting Club bersama ClozetteID, yang membahas tentang "Kenali Perilaku Anak Di Usia Pra Sekolah". 

Mengenal Perilaku Anak


Dalam acara ini hadir Ayudia Bing Slamet dan dr. Rini Sekartini. Acara yang diikuti para mom dan buah hatinya ini, semakin seru dengan disediakannya playground buat anak-anak. Dimana, peserta bisa belajar tentang perilaku anak, sedangkan buah hatinya asyik bermain dan mengikuti simulation room yang menghadirkan kak Budi. Tentunya anak juga senang saat kak Budi bercerita.

Terus, petingkah orangtua mengenal perilaku anak?

Tentu saja itu penting ya. Dalam acara ini dr. Rini Sekartini mengawal pembahasan tentang pentingnya pemberian nutrisi dan stimulasi di 1000 hari pertama kehidupan. Tentunya ini juga berhubungan dengan perilaku anak. 

Anak-anak itu memiliki hak tumbuh, berkembang, hingga mendapat perlindungan. tumbuh kembang itu sudah termasuk ciri khas anak, yang sudah pasti memiliki kebutuhan dasar, seperti:
  • Fisis biologis: Nutrisi, imunisasi, kebersihan badan & lingkungan, pakaian bersih, pengobatan, olahraga dan bermain.
  • Kasih sayang: Rasa aman & nyaman, dilindungi, dan pola asuh demokratik.
  • Stimulasi: Sensorik, motorik, emosi, kognitif, mandiri dan kepemimpinan.
Dalam perkembangan otak anak di 1000 hari pertama kehidupan, kombinasi stimulasi dan nutrisi dini ini penting sekali. Mulai dari pembentukan dan pematangan sel-sel otak itu membutuhkan nutrisi, yang kemudian rangkaian sinaps otak membutuhkan stimulasi. Semua itu saling berhubungan untuk membentuk tatanan sirkuit otak anak.

Nutrisi ini memang sangat penting sekali, terutama di 1000 hari pertama kehidupan. Tentu dulu kita mengenal 4 sehat 5 sempurna, sekarang kita mengenal adanya gizi seimbang. 1000 hari pertama kehidupan juga penting adanya ASI Eksklusif, MP-ASI, dan makanan anak. Tujuan makan sendiri untuk mencukupi kebutuhan, dan mendidik kebiasaan makan. Bisa juga membiasakan makan 5-6 kali sehari, mulai dari snack pagi, sarapan pagi, makan siang, snack sore, makan malam dan snack malam. Terkadang hal yang seperti itu kita juga lupa ya. Nah, mulai sekarang bisa dibiasakan, terutama kepada anak-anak.

Ilustrasi nutrisi
Selain nutrisi dan stimulasi yang harus diberikan secara seimbang, seorang anak juga harus dipantau tumbuh kembangnya secara berkala, dari mulai berat badan dan tinggi badannya. Terutama neh di 1000 hari pertama kehidupannya. Jangan sampai kita luba dengan apa yang dibutuhkan anak. Karena kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang itu harus optimal.

Setelah kita tahu kebutuhan anak, tentu di usia anak yang akan masuk dunia sekolah, kita harus mengetahui banyak hal. Apa saja yang harus orang tua ketahui tentang perilaku anak di usia pra-sekolah?

Di usia pra-sekolah (usia 3-6 tahun yang bersiap akan masuk dunia sekolah) banyak yang harus diketahui. Apalagi tentang mengendalika emosi anak. Sebenarnya apa itu perilaku? Menurut para ahli, perilaku merupakan suatu produk hasil kerja dan aktivitas otak. Perilaku adalah berbagai respon yang terkoordinasi, untuk beraksi atau tidak beraksi dari seorang anak (secara individu atau berkelompok), terhadap adanya rangsangan internal dan atau eksternal. 

Respon anak yang terkoordinasi bisa didapatkan baik itu bawaan sejak lahir atau melalui proses belajar. Karakteristik khusus dari segi waktu untuk anak usia pra-sekolah itu dari usia 3-6 tahun. Di usia pra-sekolah menjadi masa untuk mengevaluasi kesiapan anak untuk sekolah formal. Perilaku anak di usia pra-sekolah bisa di lihat dari perkembangan kemampuan akalnya.


Dalam hal ini anak akan mulai banyak bertanya, seperti halnya Dimas yang sudah banyak bertanya banyak hal, apapun itu yang terkadang membuat orangtuanya bisa menjawab, sulit menjawab, hingga selalu lucu dalam menjawabnya. Pernah loh Dimas bertanya begini di depan umum "mama perutnya endut, ada dedenya ya mah?", nah disini sempat bingung dan malu saja buat menjawabnya hehe. Tapi itualah anak-anak yang suka bertanya banyak hal.

Dalam perkembangan akal anak pra-sekolah akan mulai belajar perbedaan antar orang, tentunya disini anak akan mulai memperhatikan orang-orang sekelilingnya. Selain itu anak juga dapat mengingat lebih dari satu pemikiran atau ide pasa satu waktu yang sama. Di usia pra-sekolah anak juga masih belum dapat mengekspresikan apa yang dibayangkan di otaknya dengan apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan anak masih suka lambat untuk membuat keputusan.

Maka dari itu, sebagai orang tua kita perlu paham dan membimbing anak di masa-masa perkembangan akalnya. Saat dia bertanya, usahakan menjawab dengan jaawaban sederhana yang bisa dimengerti. Di masa pra-sekolah ini anak seakan menjadi sosok pemerhati.

Untuk dapat menilai perilaku anak bisa berdasarkan parameter yang melibatkan semua aspek perilaku anak, mulai dari akal, fisik dan sosial. Atau bisa juga berdasarkan penilaian yang reguler dan rutin, serta menyesuaikan parameter perilaku sesuai tahapan perkembangan otak anak. Ada beberapa tanda bahaya neh yang perlu diketahui para mom tentang perilaku anak di usia pra-sekolah, seperti:

  • Akal: Belum bisa memegang pensil dengan ibu jari dan jari telunjuk, sangat kesulitan untuk coret-coret, belum bisa membuat kalimat dari tiga kata, belum bisa meniru gambar lingkaran, hingga tidak dapat menceritakan.
  • Fisik: Disini anak seringkali jatuh dan kesulitan dengan tangga, meneteskan air liur terus menerus, belum bisa melempar bola di atas kepala, belum dapat melompat di tempat, dan menunjukkan ke-pasif-an fisik yang tidak wajar.
  • Sosial: Sangat tidak mempunyai ketertarikan bermain dengan anak-anak lain, sangat tidak tertarik permainan interaktif, tidak menampakkan kesukaan terlibat dalam permainan "pura-pura", seringkali meronta-ronta tanpa kontrol bila marah atau kesal, hingga sangat agresif. 
Tentunya tanda bahaya ini harus diwaspadai dan menjadi perhatian para orangtua. Sehingga saat anak sudah masuk sekolah, dia sudah siap. Sinergisme kemampuan akal, fisik dan sosial akan akan memberikan keseimbangan perilaku dan kecerdasan pada anak di usia pra-sekolah. Maka dari itu, di usia pra-sekolah para mom atau orangtua harus bisa memperhatikan betul perkembangan akal, fisik dan sosianya. 


Nah di parentingclub.co.id para mom bisa mencari tahu dalam mengenali kepintaran si Kecil. Setelah menjawab pertanyaan, ita akan tahu bagaimana hasilnya, dari mulai akal, fisik dan sosial. Itupun yang dilakukan Ayudia Bing Slamet kepada anaknya, dia melakukan tes, dan hasilnya baik sekali. Jadi kalau para mom yang penasaran dengan kepintaran si Kecil bisa cek di parentingclub.co.id.

Acara kemarin neh, juga kehadiran kak Budi yang menemani anak-anak di simulation room. Disana kak Budi bercerita banyak hal, dan bisa melihat langsung bagaimana anak-anak belajar neh. Storytelling atau bercerita itu baik juga buat perkembangan otak anak di masa tumbuh kembangnya, terutama akal, fisik dan sosial. Apalagi di usia pra-sekolah. Dalam mendongeng tentu yang tidak sembarangan juga, harus dilihat dulu usia pendengar, sehingga bisa mulai memilih cerita dan kata. 



Selain itu perhatikan juga keterlibatan pendengar (akal, fisik, sosial). Dan yang penting juga neh kalau sedang bercerita usahakan untuk perhatikan suara, ekspresi dan gerak, supaya anak-anak semakin antusias dan tidak bosan. Kalau perlu buat peralatan pendukung. Bisa deh kita mulai bercerita banyak hal kepada anak di rumah. Dengan banyak bercerita, berarti kita pun sedang mengasah perkembangan akal, fisik dan sosial anak, supaya anak semakin hebat.

Dengan mengenal perilaku anak di usia pra-sekolah, berarti para mom bisa membimbing dan memperhatikan tumbuh kembang anak, supaya saat masuk sekolah formal semakin siap. Tentunya perhatikan pula asupan nutrisi dan stimulasinya untuk jadikan si Kecil pintarnya beda.

You May Also Like

14 komentar

  1. Menurutku, sebagai orangtua memang penting banget untuk mengerti tumbuh kembang anak. Semua ada masanya, mbak Lis. Meskipun pernah dibikin mumet sama tingkah mereka, percayalah bahwa semua itu akan berlalu dan kita akan merindukan saat anak rewel. So, ya dinikmati saja ya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget. Masa anak-anak sekarang ini paling indah ya

      Hapus
  2. pas kelas 1 banyak ortu yg ga paham perilaku anaknya
    beberapa malah seharusnya dimasukkan ke inklusi,
    tapi memang harus jeli mbak

    BalasHapus
  3. Belajar akh, sebelum aku punya anak nanti. Eh.

    BalasHapus
  4. Mengasuh dan mendidik anak selalu penuh tantangan. Ketika anak2 kecil sering berpikir mungkin setelah anak-anak besar menjaga mereka akan lebih mudah. Tetapi setelah mereka besar, terlebih dengan perkembangan jaman seperti sekarang ini, tantangan pun semakin besar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba bagi saya zaman sekarang tantangannya sangat besar. Dan sebagai orangtua harus lebih cerdas ya. Terutama dalam mengenal perilaku anak

      Hapus
  5. Penting banget ya, mbak untuk mengetahui tahapan perkembangan anak setiap usianya. Biar kita tahu kalau ada yang terhambat atau tidak dalam tumbuh kembangnya

    BalasHapus
  6. betul ya mbak, apalagi kalau anaknya pendiam hrs banyak cari tahu ya, apa yg mereka alami . ank sulungku pendiam jd susah dia tahu apa senang atau lg sedih, beda sama yg kedua, dia lagi suka ataus eidh terlihat sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba kalau yg pendiam lebih sulit memahami ya. Dulu anakku yg cowok begitu, alhamdulillah sekarang enggak

      Hapus
  7. mama perutnya endut, ada dedenya ya..#eh salah fokus. Sama..dulu anakku juga nanya gitu, Mbak..
    Btw, memang tiap anak individual dan kita sebagai orang tua, terutama ibu, yang mustinya paling mengenal perilakunya..:)

    BalasHapus
  8. Hmmm asupan nutrisi dan stimulasi dua hal yang penting banget ya. Tengkyu sharingnya mbak

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.