Bunda Tanggap Alergi Dengan Gerakan 3K+ untuk Dukung Si Kecil Tumbuh Maksimal

 

tanggap-alergi-gerakan-3k+

[Dunia Anak] Anak bunda alergi? Atau anak bunda pernah anemia? 

Tenang, bunda tidak sendiri. Karena saya sendiri mengalaminya. Kedua anak memiliki alergi dan pernah mengalami anemia. Bunda, namanya alergi itu tidak bisa dianggap sepele, karena bisa menghambat tumbuh kembang anak. Apalagi kalau kita sebagai orangtua memiliki alergi, anak yang dilahirkan pasti berisiko alergi juga. Maka dari itu, bunda harus tanggap alergi dengan Gerakan 3K+ serta penuhi nutrisi anak yang tidak cocok susu sapi dengan inovasi baru SGM Eksplor Soya Pro-gress Maxx untuk dukung si Kecil tumbuh maksimal.

Risiko Alergi Si Kecil

Ketika melahirkan anak-anak pasti ada rasa khawatir akan berisiko alergi. Kalau suami saya aman dari alergi. Beda dengan saya yang sejak kecil sudah alergi suhu udara, terutama saat dingin, dimana kulit akan mengalami kemerahan dan gatal-gatal. Bahkan saat udara panas, kulit saya akan memerah, kemudian bersisik dan akhirnya mengelupas, sampai mengeluarkan darah. Dan itu berlanjut hingga duduk di bangku SMK. 

Tentu ini membuat saya tidak percaya diri pada saat itu. Kalau kulit sedang parah banget, akhirnya harus izin tidak sekolah. Karena debu di luar dan cuaca panas akan semakin memperparah kondisi saat saya kambuh alergi. Berobat juga rutin ke dokter spesialis kulit untuk penyembuhan. 

Terus bagaimana dengan anak-anak?

tanggap-alergi

Saya memiliki 2 orang anak yang jarak mereka sangat dekat sekali, yakni 2 tahunan. Dan keduanya sama-sama alergi. Anak pertama saya yang perempuan alergi susu sapi, itu ketahuan setelah lepas ASI. Jadi saya ingin lengkapi nutrisi anak dengan susu sapi, ternyata malah diare, muntah dan kulitnya merah. Untungnya ga lama juga. Tapi sekarang malah alergi kulit, sama seperti saya dulu. Bedanya dia ga tahan dengan cuaca panas. Saat kambuh, kulitnya selalu merah dan gatal. Sehingga harus selalu membuat tubuhnya dingin, dengan cara mengkompressnya.

Untungnya anak kedua saya masih aman dengan susu sapi. Bedanya dia ini sekarang alergi debu. Mungkin riwayat kelahirannya juga dulu. Bahkan di usia 1 tahun anak saya kena anemia defisiensi besi dan harus melakukan transfusi darah, karena Hb di bawah angka normal, yakni 5,7. 

Alergi di keluarga saya bukan hal baru, karena keponakan dan sepupu semuanya sering mengalami alergi, terutama susu sapi. Bahkan ada yang ketahuan sejak usianya di atas 1 tahun. Karena waktu itu ASI Ibunya sudah tidak keluar, sehingga dibantu dengan susu formula. Karena alergi susu sapi itulah, untuk melengkapi nutrisinya, maka diberikan susu soya, supaya tetap tumbuh maksimal. Semenjak itulah, saya paling suka ikut acara-acara yang membahas tentang alergi, anemia hingga nutrisi. Sehingga bisa menambah wawasan juga sebagai seorang Ibu. Apalagi anak ke 3 akan segera lahir.

Pentingnya orangtua mengenali alergi susu sapi sedini mungkin

Tahukah Bunda, si Kecil yang tidak cocok susu sapi sangat membutuhkan yang namanya nutrisi seimbang?

Karena di usia si Kecil inilah sedang dalam masa tumbuh kembang. Perlu diketahui juga anak dengan kondisi tidak cocok susu sapi juga berpotensi yang lebih tinggi mengalami yang namanya kekurangan Zat Besi. Benarkah?

tanggap-alergi-gerakan-3k+

Pada 31 Maret 2021, saya mengikuti webinar Festival Soya Generasi Maju, dengan tema "Pentingnya Kombinasi Unik Zat Besi dan Vitamin C untuk Dukung si kecil yang Tidak Cocok Susu Sapi Tumbuh Maksimal" yang juga dihadiri oleh narasumber, seperti:
  • Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(k), M.Kes selaku Konsultan Alergi dan Imunologi Anak.
  • Prof. DR. Dr. Saptawati Bardosono, MSc selaku Pakar Gizi Medik.
  • Anggi Morika Septie selaku Senior Brand Manager SGM Eksplor Soya Pro-gress Maxx.
Buat seorang Ibu yang anaknya sudah pernah mengalami anemia. Setuju sekali bahwa Zat Besi menjadi salah satu nutrisi yang penting untuk tumbuh kembang anak. Seperti yang disampaikan Prof. Saptawati Zat Besi memiliki peranan penting untuk mendukung perkembangan otak dan pertumbuhan fisik. 

Dimana dalam perkembangan otak Zat Besi berperan dalam pembentukan selaput saraf (mielinisasi) yang membantu proses penerimaan informasi pada otak dan meningkatkan proses belajar. Sedangkan dalam pertumbuhan fisik, zat Besi menjadi salah satu nutrisi untuk pembentukan hemoglobin yang berperan membawa oksigen ke sel-sel tubuh agar berfungsi optimal, sehingga mendukung anak untuk aktif bereksplorasi dan siap belajar.

Mendengarkan pemaparan Prof. Saptawati setuju sekali, karena anak yang kena anemia itu, pasti kurang konsentrasi dan selalu lemas juga. Dulu anak saya juga seperti itu lemah, letih dan lesu. Sehingga tidak semangat bermain juga. Perlu diketahui para orangtua juga, bahwa menurut data RISKESDAS 2018, ada 1 dari 3 anak Indonesia berusia di bawah 5 tahun mengalami anemia. 50-60% kasus anemia disebabkan karena defisiensi Zat Besi.

Terus apa saja ya gejala kekurangan Zat Besi ini?

tanggap-alergi

  • Dari yang ringan - sedang: Akan mudah lelah, gangguan kognitif dan tidak bertenaga.
  • Dari Berat - Fatal: Tidak nafsu makan, PICA (konsumsi bukan makanan/Phagophagia), dan Anemia Defisiensi Besi.
Bunda juga harus tahu, bahwa dampak defisiensi zat bisa ini bisa mempengaruhi banyak hal, mulai dari prestasi akademik rendah, mudah terserang penyakit, gangguan permanen pada sistem motorik dan sensorik, serta pertumbuhan fisik terhambat. Ini juga yang dialami putra saya dulu. Dimana dia terhambat dalam hal bicara, sering sakit terutama flu dan demam, bahkan hingga 3 bulan sekali harus periksa ke dokter. 

Dari pemaparan Prof, Saptawati bisa disimpulkan nih, ada beberapa hal yang sangat penting bunda ketahui juga: 
  • Untuk mengoptimalkan pemenuhan kebutuhan zat besi pada anak melalui nutrisi lengkap dan seimbang, yang tinggi kandungan zat besi.
  • Untuk anak usia 1-3 tahun (batita) membutuhkan Zat Besi 7 mg/hari, sedangkan 3-5 tahun (balita) membutuhkan zat besi 10 mg/hari.
  • Makanan yang kaya zat besi dan lebih mudah diserap (HEME) yakni berasal dari sumber makanan hewati seperti daging, ikan, dan hati.
  • Makanan yang kayak zat besi dan kurang mudah diserap (NON HEME) yakni berasal dari sumber makanan nabati seperti sayur, nasi dan kacang-kacangan.
  • Selain Zat Besi, dibutuhkan juga Vitamin C untuk mereduksi Zat Besi bentuk ion feri menjadi bentuk ion fero sehingga diserap oleh sel usus.
  • Selain memastikan asupan Zat Besi, penting untuk mengoptimalkan penyerapan Zat Besi.
  • Yang meningkatkan absorpsi besi terdiri dari: Sayuran hijau, kentang, makanan fermentasi, Vitamin A, Vitamin C, daging dan ikan.
  • Yang menghambat absorpsi besi terdiri dari: Teh, kopi, cokelat dengan makanan, antasid, beberapa bumbu seperti oregano, Kalsium terutama daru susu dan produk susu, makanan yang mengandung fitfat (sereal, gandum).
Selain itu menurut Prof Saptawati, bahwa pembatasan makanan yang tidak tepat pada si Kecil yang tidak cocok susu sapi dapat menyebabkan asupan nutrisi Zat besi tidak adekuat. Perlu diketahui bunda, menurut Prof. Saptawati kombinasi Zat Besi dan Vitamin C dengan rasio yang sesuai dapat membantu meningkatkan penyerapan Zat Besi di dalam tubuh di Kecil. Oleh karena itu, penting memberikan si Kecil sumber nutrisi yang kaya akan kedua nutrisi tersebut.

Apa saja makanan yang mengandung Zat Besi?

Zat Besi ini dapat diperoleh pada daging merah, ayam, ikan, sayuran, dan dilengkapi dengan susu berbasis Isolat Protein Soya yang mengandung Zat Besi dan Vitamin C agar si Kecil tumbuh maksimal.

Zat Besi sebagai salah satu nutrisi penting untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan fungsi kognitif si Kecil, termasuk anak yang memiliki kondisi tidak coco susu sapi. Tentu saja ini menjadi tantangan kesehatan juga, karena pasti muncul gejala mulai dari ruam merah, bersin, pilek, sakit perut hingga diare. 

tanggap-alergi

Prof. Budi mengungkapkan bahwa menurut WAO penduduk dunia yang mengalami alergi sebanyak 30-40% dan hingga 550 juta orang di dunia menderita alergi makanan. Di Indonesia sendiri ada 0,5-7,5% anak mengalami alergi susu sapi. Dimana protein susu sapi ini merupakan makanan penyebab alergi yang terbesar kedua setelah telur pada anak-anak di Asia. Bahkan menurut data dari RS Cipto Mangunkusumo Jakarta di tahun 20212, bahwa ada 31% dari pasien anak alergi terhadap putih telur dan 23,8% alergi susu sapi.

Bahkan World Allergy Organization (WAO) melaporkan bahwa 1,9-4,9% anak-anak di dunia alergi susu sapi (ASS). Sehingga tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Alergi susu sapi merupakan respon sistem imun yang tidak normal, yang berlebihan pada anak (hipersensitivitas) terhadap Protein susu sapi yang sebenarnya tidak berbahaya bagi orang lain.

Perlu bunda ketahui, penyakit alergi ini angka kejadiannya semakin meningkat. Sehingga sebagai orangtua harus waspada, karena kalau terlambat untuk mendiagnosa dapat merugikan tumbuh kembang anak.. Maka dari itu, bunda harus periksa anak sedini mungkin. Terjadinya penyakit alergi ini sering terjadi pada anak yang memiliki bakat alergi atau disebut Atopi. 

Apa itu Atopi?

Atopi ini adalah bakat alergi pada seseoranga nak yang diturunkan oleh satu atau oleh kedua orangtuanya. Untuk anak-anak yang atopi, harus dikenali sedini mungkin, supya bisa dilakukan pencegahan, sehingga alerginya tidak muncul seperti alergi makanan, eksim, asma, dan rhinitis alergi. 

Kalau sampai terlambat mengenali alergi dan menghambat tumbuh kembang anak, tentu saja akan timbul berbagai dampak. Seperti yang disampaikan Prof. Budi dampak alergi itu meliputi:
  • Kesehatan. Meningkatkan risiko penyakit degeneratif, seperti obesitas, hipertensi dan sakit jantung.
  • Ekonomi. Meningkatkan biaya pengobatan, dan meningkatkan biaya tidak langsung (kehilangan pendapatan karena sering tidak masuk kerja).
  • Psikologi. Mengakibatkan stress pada anak dan orangtua, serta menurunkan kualitas hidup si Kecil.
  • Gangguan tumbuh kembang. Anak dengan alergi mengalami keterlambatan pertumbuhan, karena berhubungan dengan jenis dan durasi pantang makanan.
Selain itu masih menurut Prof Budi, anak yang memiliki alergi susu sapi dapat terjadinya malnutrisi (kurang gizi) dan pertumbuhan terhambat. Pasti penasaran ya kenapa hal ini bisa terjadi?

Itu karena pada anak-anak yang alergi susu sapi, maka akan dieliminasi makanannya, tapi takutnya asupan nutrisi pengganti tidak baik atau buruk. Dan akibatnya gizi kurang dan pertumbuhan terhambat, karena pada anak alergi, kebutuhan diet yang meningkat. Selain itu, anak yang alergi susah makan, dan akan lebih parah lagi apabila seorang anak alerginya tidak pada satu makanan, entah itu alergi susu sapi dan makanan lainnya, sehingga diet restriksi jadi beragam. Paling penting, bahwa malnutrisi dan pertumbuhan terhambat ini karena suplementasi tidak adekuat. 

tanggap-alergi
Ilustrasi alergi susu sapi (photo by Canva)
Terus bagaimana ya untuk bisa mengidentifikasi gejala alergi susu sapi? Tentunya ada yang ringan, sedang dan berat juga bunda. 
  • Gejala alergi susu sapi yang ringan sampai sedang: Regurgitasi berulang, muntah, diare, konstipasi, dan darah pada tinja. Selain itu bisa anemia defisiensi besi, dermatitis atopik, angioedema, urtikaria, pilek, batuk kronik, hingga kolik persisten.
  • Gejala alergi susu sapi yang berat: Gagal tumbuh karena diare dan atau regurgitasi, muntah dan atau anak tidak mau makan. Selain itu anemia defisiensi besi karena kehilangan darah di tinja, enteropati karena kehilangan protein, dematitis atopik berat, laringoedema akut, hingga syok anafilaksis. 
Perlu bunda ketahui juga, anak yang alergi susu sapi itu ada risiko kekurangan zat gizi tertentu, mulai dari:
  • Asupan tidak adekuat. Dimana karena adanya pembatasan makanan karena restriksi diet yang tidak sesuai akan mempengaruhi zat gizi harian. Dimana asupan zat besi, kalsium, fosfor dan Vitamin C secara signifikan lebih rendah pada anak dengan pembatasan makanan dibandingkan tanpa pembatasan makanan.
  • Adanya inflamasi akibat gejala alergi pada saluran cerna dapat memicu blood loss, mempengaruhi penyerapan zat gizi dan berpotensi meningkatkan risiko defisiensi zat besi. 
Perlu diketahui juga anak-anak yang sudah menderita anemia defisiensi zat besi, perlu diberikan suplemen zat besi, dimana dosisnya harus tepat. Maka dari itu untuk anak yang alergi susu sapi peranan orangtua juga sangat penting sekali dan tentunya harus tepat, yakni bisa dengan melakukan gerakan 3K+

Bunda Tanggap Alergi dengan Gerakan 3K+

tanggap-alergi-gerakan-3k

Peran orangtua disini sangatlah penting, ketika memiliki anak yang alergi susu sapi. Maka dari itu, bunda harus tanggap alergi dengan gerakan 3K+. Kalau dulu kita mengenalkan adalah 3K yakni Kenali, Konsultasikan dan Kendalikan. Kini, telah disempurnakan menjadi 3K+, yakni:
  • Kenali gejalanya.
  • konsultasikan ke dokter, yang bisa dilakukan melalui telepon atau online agar si Kecil mendapat penanganan yang tepat. 
  • Kendalikan faktor penyebab tidak cocok susu sapi dengan alternatif nutrisi yang tepat.
  • Kembangkan dan asah potensi prestasi si Kecil dengan stimulasi yang tepat untuk dukung si Kecil yang tidak cocok susu sapi tumbuh maksimak dan siap jadi anak Generasi Maju.
Bunda harus mengenali sedini mungkin, apakah si Kecil memiliki risiko alergi, supaya segera dilakukan pencegahan. Apabila sudah muncul alerginya, bunda juga harus tahu apakah benar ini alergi? Gejala alergi yang dapat dicurigai sebagai alergi seperti di kulit akan muncul ruam merah dan bengkak. Kalau di saluran pencernaan itu akan diare dan muntah, serta di saluran pernafasan akan mengalami batuk, pilek dan mata berair.

Maka dari itu, kalau sudah mengetahui gejalanya, bunda harus segera dikonsultasikan ke dokter untuk memastikan si Kecil muncul gejala adalah alergi. Kalau benar itu adalah alergi, maka dokter akan segera memastikan pemicu alergi tersebut, dan menanganinya sedini mungkin supaya si Kecil tumbuh kembang optimal. Apabila sudah diketahui pemicu dari alergi tersebut, harus segera mengendalikan, supaya pemicu itu bisa dihindari. Dalam kasus alergi susu sapi, sudah pasti harus menghindari makanan sebagai pemicu. 

Kalau bunda sudah bisa mengendalikan alergi susu sapi, si Kecil bisa tumbuh optimal. Maka, kelebihan-kelebihan yang dimiliki si Kecil bisa dikembangkan, dan alergi tidak bisa menghambat potensi prestasi si Kecil. 

tanggap-alergi

Selain itu, apabila seorang anak sudah konsultasikan ke dokter anak dan sudah didiagnosa alergi susu sapi, tentu saja dokter anak akan memberikan obat-obatan sesuai indikasi dan gejala yang muncul. Tetapi yang paling penting, dalam tata laksana alergi susu sapi, si Kecil yang alergi harus menghindari protein susu sapi dan produknya. Maka dari itu untuk mengendalikannya, si Kecil harus diberikan nutrisi seperti:
  • ASI (Air Susu Ibu). Penting diperhatikan buat bunda yang memiliki anak alergi susu sapi, selama memberikan ASI, pantang mengkonsumsi protein susu sapi dan produknya atau olahan. 
  • Formula. Apabila tidak ada ASI, harus diberikan formula khusus. Seperti formula terhidrolisis ekstensif (gejala ringan-sedang), formula asam amino (alergi berat) dan formula isolat protein soya (gejala ringan-sedang). Jadi kalau tidak menemukan formula terhidrolisis ekstensif dan terkendala biaya, bisa menggunakan formula isolat protein soya.
  • Produk olahan.
Maka dari itu, pilihan buat bunda yang anaknya alergi susu sapi dan pengen harganya terjangkau bisa memilih isolat protein soya. Apalagi isolat protein soya ini sudah aman, bahkan menurut meta analisis yang disampai Prof. Budi, bahwa menunjukkan tidak ada efek negatif terhadap fungsi refroduksi dan endokrin, termasuk pada sistem imun dan kognitif. 

Anak alergi juga bisa sembuh kok. Bahkan kesembuhan alergi susu sapi di tahun pertama mencapai 45-55%, tahun kedua 60-75% dan tahun ke 3 mencapai 30%. Nah, buat bunda yang ingin memberikan formula isolat protein soya, bisa pilih solusi yang tepat dari SGM Eksplor Soya Pro-gress Maxx. 

SGM Eksplor Soya Pro-gress Maxx dan Festival Soya Generasi Maju

sgm-eksplor-soya

Mengingat alergi bisa menghambat tumbuh kembang anak. Maka dalam rangka memperingati Pekan Alergi Dunia, PT. Sarihusada Generasi Mahardhika (Sarihusada) meluncurkan sebuah inovasi baru untuk membantu memenuhi kebutuhan Zat Besi, Vitamin C dan Nutrisi penting lainnya untuk si Kecil di atas 1 tahun yang tidak cocok susu sapi, dengan menghadirkan SGM Eksplor Soya Pro-gress Maxx.

SGM Eksplor Soya Pro-gress Maxx ini dilengkapi dengan kombinasi unik Zat Besi dan Vitamin C, IronC, Isolat Protein Soya berkualitas serta minyak ikan dan Omega 3&6 untuk penyerapan nutrisi penting secara optimal dan dukung si kecil yang tidak cocok susu sapi tumbuh maksimal.

sgm-eksplor-soya

Kehadiran inovasi baru dari SGM Eksplor Soya ini tentu jadi solusi buat bunda yang anaknya tidak cocok susu sapi, untuk melengkapi nutrisinya supaya tumbuh maksimal menjadi anak generasi maju. Adapun isi kandungannya memiliki 5 kebaikan Pro-gress Maxx soya dengan isolat protein soya, sumber serat, 13 Vitamin dan 6 mineral, serta bebas laktosa.
  • Formula IronC dengan kombinasi Zat Besi dan Vitamin C yang membantu penyerapan Zat Besi.
  • Memiliki kandungan minyak ikan dengan kualitas lebih baik dibandingkan formula sebelumnya. Selain itu dilengkapi juga dengan sumber Omega 3 dan sumber Omega 6.
  • Memiliki kandungan Kalsium yang membantu dalam pembentukan dan mempertahankan kepadatan tulang dan gigi. Serta tinggi Vitamin D yang membantu penyerapan kalsium.
  • Sumber Serat Pangan.
  • Kandungan Vitamin C dan Zinc yang tinggi.
Kehadiran produk SGM Eksplor Soya Pro-gress Maxx ini tentu menjadi dukungan juga buat para bunda yang memilki alergi susu sapi. Selain itu, sebagai dukungan untuk si Kecil yang tidak cocok susu sapi tetap tumbuh maksimal, Sarihusada juga terus melakukan inisiatif dan inovasi. Selain dengan edukasi Gerakan 3K+, bunda bisa cek website alergi anak dengan mengunjungi www.generasimaju.co.id/AlergiAnak, dan tentunya mengikuti Festival Soya Generasi Maju yang tentunya seru untuk diikuti.

Dalam Festival Soya Generasi Maju ada banyak sekali rangkaian kegiatan edukasi seputar penanganan kondisi si Kecil yang tidak cocok susu sapi, yakni mulai dari:
  • Tanya Dokter yang merupakan sesi konsultasi seputar penanganan tidak cocok susu sapi bersama Experts.
  • Kreasi Resep Sehat. Dengan menu sehat mengandung Zat Besi dan aman untuk si Kecil yang tidak cocok susu sapi.
  • Tips Stimulasi. Dengan stimulasi untuk asah potensi prestasi si kecil bersama Psikolog Anak dan Keluarga.
  • Sharing Session. Berbagi inspirasi untuk dukung si Kecil tumbuh maksimal bersama Bunda Selebriti.
Dengan hadirnya edukasi ini tentu bisa membantu bunda semakin paham apa saja yang harus dilakukan, supaya anak tetap tumbuh maksimal, biarpun dengan kondisi alergi. Tentunya dengan gerakan 3K+ ini bunda sudah siap, dan tidak menganggap sepele akan alergi yang dirasakan anak. Jangan sampai alergi terus dibiarkan dan menganggu tumbuh kembang anak.

Sepertihalnya bunda selebriti yang hadir dalam acara ini seperti Natasha Rizky, Revalina S Temat dan Joanna Alexandra yang berbagi cerita bagaimana anak-anak kena alergi dan pentingnya gerakan 3K+. Apalagi dengan kehadiran kombinasi unik Zat Besi dan Vitamin C tentu memberikan solusi untuk anak-anak yang tidak cocok susu sapi tetap tumbuh optimal.

Saatnya bunda berikan juga inovasi baru SGM Eksplor Soya Pro-gress Maxx untuk anak tumbuh maksimal. Dan kalau anak sudah menunjukkan tanda alergi, bunda harus langsung kenali, knsultasikan, kendalikan dan kembangkan (3K+) sehingga anak bisa menjadi Anak Generasi Maju yang berprestasi.


21 komentar

  1. Dua hal yang bertentangan, alergi dan anemia. Serba repot jika allergi untuk melihat pemicunya. Sementara untuk anemia, perlu penanganan yang sedini mungkin untuk mengatasinya. Zat besi dan beberapa produk yang bermanfaat untuk meningkatkan zat besinya, termasuk SGM Explor

    BalasHapus
  2. ada baiknya memang alergi dikenali dan dibuat daftarnya untuk keamanan anak seperti yang Teh Lis lakukan, karena kadang daftarnya bisa cukup panjang. tapi senang ada solusi alergi susu sapi yang bisa digantikan dengan susu soya ya, nutrisi bisa jalan terus dengan aman

    BalasHapus
  3. Baru tahu kalau teh ternyata menghambat absorsi besi, padahal kita selama ini terbiasa saat makan diluar selalu pesan es teh dingin, mulai sekarang diganti es jeruk aja ya

    BalasHapus
  4. saya juga ngalamin teh Lis, anak sulungku alergi susu sapi

    duh waktu itu sedih banget, dan sulit banget cari susu untuk penderita alergi

    Beruntung Sari Husada paham ya? Dan tersedialah susu yang memenuhi gizi penderita alergi

    BalasHapus
  5. Challenging banget ya teh mengasuh anaj terlebih dua anak alergu. Strong teh Lis!
    Makin kesini makin paham bahwa alergi itu bisa menurun tapi bisa dibatasi bahkan bisa dicegah ya teh?

    BalasHapus
  6. Sebagai orangtua memang harus paham sekali mengenai kondisi-kondisi seperti ini. Apalagi alergi. Perlu mendapat diagnosa dokter sebelum memutuskan langkah pengobatan selanjutnya.

    BalasHapus
  7. Sudah ada solusinya meski kekurangan gizi zat besi pada yang memiliki alergi, bisa dengan susu Soya ini

    BalasHapus
  8. Anakku juga ada alergi, dan itu memang keturunan dari ayahnya. Tiap makan telur terlalu banyak pasti gatel-gatel dan jadi drama.

    BalasHapus
  9. Alhamdulilah saya belum pernah merasakan anemia, mbak. Sedangkan saya juga pernah mengalami alergi cuman waktu dulu saya alergi serangga kutu sehingga mengalami banyak bintik merah yang parah di tangan saya.

    Btw keren banget topik tentang alergi anak dari SGM ini, semoga anak-anak selalu menjaga kesehatan dan mudah terhindar dari macam penyakit

    BalasHapus
  10. menegtahui jenis alergi si kecil itu penting ya mbak, karena bisa tahu bagaimana pemberian asupan gizi yg tepar bagi si kecil
    asupan gizi yg tepat dan stimulasi yg sesuai bisa membuat anak tumbuh dgn baik ya mbak

    BalasHapus
  11. Aku waktu kecil juga alergi susu sapi mungkin sampai sekarang ya.

    BalasHapus
  12. Aku punya alergi makanan, Mak Lis. Dan itu gengges banget. Jadi rada picky karena kalau udah kambuh reaksinya ga nyaman, terutama ke kulit nih. Nah kalau adikku dia alergi susu sapi, tiap aku jajan susu cair atau yogurt dia suka nolak karena udah tau bakal kayak gimana. Apa karena alergi itu juga, aku suka lemes dan darah rendah, ya?

    BalasHapus
  13. Sebagai orang tua kita ingin anak-anak tumbuh masimal dengan gizi seimbang. Biasanya didapat dari tambahan susu. Sayangnya tidak semua anak cocok dengan susu sapi. Terkadang kalau dibiarkan tak minum susu pertumbuhan mereka kurang maksimal. Jadi untunglah ada susu soya ya, anak-anak kita tetap bisa menikmati susu tanpa harus mengalami alergi

    BalasHapus
  14. Jadi bunda itu kudu tanggap ya, menengetahui saat anak butuh zat besi sehingga segera memberikan nutrisi yang menunjang. Dan saya baru tahu kekurangan zat besi memiliki efek yang cukup banyak

    BalasHapus
  15. gerakan 3K+ Ini step step yang lebih mudah dicerna para ortu yaa Liz,

    Kalau dulu kita cuman pasrah aja sama dokter kala si kecil menderita atopi, sekarang bisa mengenali gejalanya dengan lebih detail dan yang penting, gerakan susu soya ini jadi lebih memudahkan anak yang menderita alergi susu

    BalasHapus
  16. Dengan menjadi bunda yang tanggap bisa meminimalkan rasa panik yang timbul. Para Bunda tetap bisa mendukung si kecil untuk tumbuh maksimal meskipun alergi susu sapi

    BalasHapus
  17. Anak tidak cocok susu sapi memang tidak boleh diremehkan ya.. karena jika abai maka nutrisi penting untuk tumbuh kembang anak seperti zat besi bisa tidak didapatkan karena biasanya anak alergi mengalami pembatasan asupan makanan ya

    BalasHapus
  18. Sebagai orang tua yang memiliki anak resiko alergi tinggi, aku juga perlu nih belajar sama gerakan 3K. Ngeri juga ya akibat yang ditimbulkan dari alergi itu.

    BalasHapus
  19. sebagai ibu memang sepatutnya kita harus mengenali ya, Mbak tanda-tanda alergi pada anak biar bisa segera diatasi alergi tersebut

    BalasHapus
  20. Setuju banget, para ibu harus tanggap dengan alergi pada anak sejak dini.Aku punya ponakan yang alergi susu sapi, kasian banget mukanya jadi merah dan gata, untukng segera diketahui masalah alerginya dan buru-buru ganti susu.

    BalasHapus
  21. anakku semua punya riwayat alergi mbak. macem macem penyebabnya, ada karena olahan sapi, segala macam susu, keju, sosis, dagingnya, ada yang karena cuaca dan udara, memang perlu penanganan yang tepat ya mbak, agar anak bisa tumbuh dan berkembang sesuai usianya.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Silahkan memberikan komentar. Mohon maaf link hidup dan spam akan otomatis terhapus.