Penghuni Gerbang Sekolah (Part 1)

Liswanti Pertiwi | Rabu, Oktober 14, 2015 | | | |
Ilustrasi : Gerbang Sekolah (Dok. Pribadi)


Matahari perlahan mulai tenggelam, awan berubah hitam pekat, angin bertiup sepoi-sepoi, dan desa Sekaresmi mulai hening. Doni dan Asep hendak berangkat ke mesjid bersama anak-anak lainnya, diperjalanan langkah mereka terhenti, karena sosok bayangan hitam yang melewati gerbang sekolah, membuat bulu kuduk mereka berdiri.
***
Pagi itu kelas begitu ramai dengan sosok bayangan yang sudah 4 hari belakangan sering terlihat oleh anak-anak di gerbang sekolah, bukan saja dilihat oleh masyarakat sekitar, melainkan anak-anak asrama lainnya. Desas desus semakin mencuat kepermukaan, dengan banyaknya cerita mistis di balik tempat berdirinya Sekolah. 

Konon tanah yang digunakan adalah bekas para penjajah mengubur mayat, ada juga yang bilang pernah terjadi kasus bunuh diri seorang perawan desa tersebut, lokasinya persis dekat pohon mangga, yang kini sudah di tebang dan dibangun gerbang sekolah. Hingga akhirnya roh tersebut betah menetap disana.

"Dan kalian tahu tidak, kalau gadis perawan yang bunuh diri itu, karena patah hati ditinggal pacarnya. Dan kejadian itu terjadi saat magrib, makanya kita sering melihat sosok bayangan itu saat magrib", ujar Asep yang membuat isi kelas seketika menjadi hening.

"Sep, itu kamu tahu ceritanya dari siapa?" tanya Doni.

"Kata orang-orang yang cerita di desa tadi, ga sengaja denger Don".

Semua anak perempuan jelas tidak bisa berkata-kata, mereka hanya bisa diam. Saat suasana hening, mereka tidak menyadari seseorang sudah masuk di dalam kelas. 

"HAI SEMUA" dengan suara keras, yang membuat seisi kelas kaget.

"Kok pada benggong seh, kenalin gw Erwin, pindahan dari Jakarta, baru pindah kemarin seh. Tadinya gw ga mau pindah ke kampung, eh enya babeh gw pindah tugas ke kota ini, babeh gw asli sini, enya gw keturunan Betawi Chinese. Gw suka basket, makanya badan gw jangkung begini, tampang gw ok, cewe gw 2 seh, tapi baru gw putusin kemarin-kemarin. Emmm, apa lagi ya?, segitu aje perkenalan gw ya", ucap Erwin yang membuat semua isi kelas merasa heran dan aneh.

Ya sangat aneh dengan tingkah laku, tanpa salam dan langsung memperkenalkan diri. 

"Kamu teh anak baru yang dibilang bu guru kemarin ya, meni ga sopan pisan" tegur Asep.

"Maaf bro, hahaha, santai ok, gw biasa begini seh di kota. Gw duduk dimana neh?".

"Pojok" ucap semua anak, sambil menunjuk kearah tempat duduk yang paling pojok dan sendiri pula.
***
Satu minggu berlalu, cerita hantu penghuni gerbang sekolah semakin santer terdenger hingga kampung sebelah. Anak-anak asrama menjadi sering ketakutan kalau berangkat ke mesjid saat magrib, sehingga dari pukul 5 sore mereka sudah berada di mesjid, dan pulang beramai-ramai. 

Erwin mendengar cerita tentang hantu gerbang sekolah dan membuatnya semakin penasaran. Erwin yang yang tidak percaya dengan cerita hantu, mengajak teman-temannya untuk mencari tahu.

"Gelo pisan, masa mau nyari hantu, pake apa?" ucap Asep.

"Kita intai pake kamera, bener ga itu hantu, jangan-jangan cuma orang lewat lagi". 

"Kayak di tv-tv gitu ya Win".

"Nah, kayak begitu Don. Gimana setuju kalian?".

Mereka pun menyetujui usul Erwin, untuk menangkap hantu yang mulai sangat meresahka. Dan mereka pun mulai mengatur rencana, supaya semuanya berjalan lancar.

Apakah Erwin dan teman-teman akan menangkap sosok hantu penghuni gerbang sekolah, nantikan cerita selanjutnya.

Bersambung




10 komentar:

  1. Lanjut donk, Mak. Ga sabar neh...

    BalasHapus
  2. Wahhh... horor ya bakalan? Penasaran

    BalasHapus
  3. wah, serem mak. ada penunggunya. hiyy! untung bacanya pagi. :D

    BalasHapus
  4. wahh seru nih...anak Jakarta vs anak Sukaresmi...pasti banyak perbedaan cara pandangnya ya mbak, apalagi yg diomongin soal hantu... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak banget, antara percaya dan tidak ya. Sialahkan ikuti selanjutnya.

      Hapus
  5. yah pake bersambung, kepo pisan eouy...

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...