Mendidik Anak Balita Menjadi Pemberani, Perhatikan 4 Hal Ini

by - Rabu, Agustus 16, 2017


[Dunia Anak] Mendidik anak di usia balita memang luar biasa sekali. Banyak hal yang harus orangtua ajarkan. Ada banyak hal sederhana yang bisa kita ajarkan kepada anak, supaya mereka tumbuh menjadi anak yang mandiri, kuat, dan mandiri.

Kali ini saya ingin bercerita tentang Dimas yang usianya akan menginjak 4 tahun 8 bulan. Dulu neh, Dimas termassuk anak yang susah sekali dekat dengan orang lain, ada rasa takut dan lebih banyak diam. Apalagi Dimas selalu melihat hal-hal yang kasat mata. Dia aka menjerit kalau itu menakutkan. KAlau tidak, dia akan tetap tenang. Tentu membuat kita orangtuanya selalu bertanya-tanya, Dimas lihat apa?


Tidak ingin dong Dimas tumbuh menjadi anak yang pemalu, penakut, yang akhirnya membuat dia susah untuk bersosialisasi. Baik bersosialisasi dengan lingkungan, maupun teman-temannya. Sebagai orangtua, tentu ingin anak-anaknya tumbuh menjadi mandiri, kuat, dan berani. Nah, di usia Dimas yang masih balita, ada beberapa hal yang saya ajarkan, supaya anak tumbuh menjadi anak yang pemberani, seperti:

1. Mendidik anak dengan menumbuhkan sikap berani

Melihat anak yang selalu takut bertemu orang baru, atau menjerit saat melihat sesuatu, tentu jangan didiamkan. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan mendidik anak dengan menumbuhkan sikap berani. Ada beberapa cara yang biasa saya lakukan:
  • Bercerita tentang kepahlawanan, baik cerita pahlawan yang berjuang melawan penjajah, hingga bercerita tentang superhero yang melawan penjahat.
  • Membawa anak ke lingkungan baru. Biasanya saya ajak anak ke acara, meeting atau berkumpul dengan sahabat. Sehingga dia menjadi terbiasa melihat orang-orang baru.
  • Mengajarkan anak sopan santun kepada orang yang lebih tua saat bertemu.
  • Jangan pernah menakut-nakuti anak dengan objek-objek tertentu, karena itu malah membuat anak menjadi penakut.
2. Jangan mengajarkan anak berbohong

Mendidik anak harus dimulai dengan hal-hal sederhana yang akhirnya membuat dia terbiasa. Menjadikan anak berani bisa dengan mengajarkan dia untuk selalu jujur dan berkata benar. Jangan sekalipun mengajarkan anak berbohong, yang akhirnya memunculkan rasa takut, saat dia ketahuan salah. Mengajarkan anak jujur, akan membuat anak tumbuh menjadi lebih berani. Sehingga saat dia berbuat salah, akan mengakuinya dan siap menerima resikonya. Lama kelamaan, dengan membiasakan anak berkata jujur, dia akan berpikir untuk tidak melakukan kesalahan. Atau berpikir sebelum bertindak.

3. Ajarkan anak untuk menerima kekalahan


Dari usia 3 tahun Dimas sudah diajarkan berani mengikuti perlombaan, terutama saat 17-an. Dia selalu antusias dan senang mengikutinya. Disini menjadi kesempatan saya untuk mengajarkan anak untuk menerima kekalahan. Saat anak kalah, kita harus memberikan semangat. Karena dalam kompetisi, ada saatnya menang dan ada saatnya kalah. Selain itu, saat dia kalah, tentu dia akan terus berusaha dan semakin bersemangat untuk mencoba lagi. Yang akhirnya bisa tumbuh menjadi anak yang pantang menyerah dan bertanggung jawab.

4. Ajarkan anak untuk memaafkan kesalahan orang lain

Tidak inginkan anak tumbuh menjadi pemarah, pendendam, yang pada akhirnya membuat sosoknya egois dan sombong. Maka dari itu, ajarkan anak untuk bisa memaafkan kesalahan orang lain. Salah satu cara yang biasa saya lakukan, adalah ketika Dimas bermain dengan orang lain, mainannya diambil dan membuatnya menangis. Saya biasakan Dimas untuk meminta maaf terlebih dahulu dan memeluk temannya, sehingga mereka bisa bermain kembali. Mengajarkan anak memaafkan kesalahan orang lain, akan menjadikannya tumbuh menjadi anak yang baik hati, dan mandiri.

Itulah beberapa hal yang saya lakukan, dalam mendidik Dimas menjadi anak yang lebih berani. Dan kini, Dimas sudah menjadi anak berani, saat bertemu orang lain pun tidak pemalu dan diam lagi. Malah dia menjadi mudah akrab dengan orang-orang baru yang ditemuinya. Mau tahu tentang cara mendidik anak lainnya, bisa simak tulisan tentang mendidik anak menjadi mandiri sejak dini dari mba Amma di web Kumpulan Emak Blogger, dalam program Collaborative Blogging (Grup Sri Mulyani Pekan 1).

You May Also Like

32 komentar

  1. Point 4 mba, selain mengajarkan anak untuk ikhlas memaafkan orang lain anak juga harus dengan ikhlas belajar meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan. AAh, betapa kita sangat berbahagia diberi kepercayaan untuk menjadi ibu ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, bahagia sekali menjadi ibu ya

      Hapus
  2. Point ke-4 : Ajarkan anak untuk memaafkan kesalahan orang lain > penting banget nih mba. anak sulung saya type nya suka ngambekan wkwkwkwk..

    www.sistersdyne.com

    BalasHapus
  3. Iya balita emang harus dididik menjadi pemberani juga biar gak cengeng

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dengan berani, anak juga semakin percaya diri

      Hapus
  4. sangat bagus infonya.. makasih ya

    BalasHapus
  5. Bner bngt teh,,, mngajarkn mark mandiri dari awal jg nantinya akan berani dn tdk trgntung am org lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup bener banget. Anak jadi penuh percaya diri

      Hapus
  6. semoga Dija termasuk anak pemberani
    aamiin

    waktu kecil, tante anak pemberani juga kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, saya berani, sayakan anak Pramuka juga hehehe

      Hapus
  7. makasih sharingnya, dulu aku justru diajarkan pemberani sama guru SDku , eh malah jad terlalu berani, hiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, toss ah saya berani semenjak jadi anak Pramuka

      Hapus
  8. Alhamdulillah saya menerapkan apa yang diajarkan oleh orangtua saya dulu kepada saya. Bersyukur anak-anak saya juga jadi pemberani

    BalasHapus
  9. Nggak beda jauh dengan Tio, hampir sama pola didik anaknya :)

    BalasHapus
  10. Kl anakku malah lebih pemberani yg cewe drpd cowok.ntah knp bisa kayak gitu ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu saya juga begitu. Kakaknya lebih berani, untungnya sekarang Dimas bisa berani juga

      Hapus
  11. Yg paling susah dihilangkan itu adl kebiasaan nakut2in anak thd sesuatu hal yaa ceu lis. Kadang sebagai orang tua saat melarang anak melakukan sesuatu, dengan cara menakut-nakuti. Akhirnya kbiasaan deh takut sama hal tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu harus diilangin. Soalnya bikin anak jadi penakut. Anak nakal dikit ditaku2in. Duuh jangan hehe

      Hapus
  12. Lagi ngusahain 4 hal ini juga ke siken, doain berhasil ya mbk lis,
    Matur nuwun sharingnya, :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat mba. Sama2 semoga bermanfaat

      Hapus
  13. Mengajarkan anak untuk bersikap berani,,*harus kucatat
    tipsnya penting sekali buat ponakan saya yang sangat penakut.
    Ia hanya mau bermain jika ditemani oleh ibu dan ayahnya. Bahkan diajak bicara oleh nenek dan tantenya saja sdh bs buat dia menangis sesegukan T_T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah semangat mba. Semoga ponakannya menjadi anak lebih berani

      Hapus
  14. Setuju banget Mak. Mendidik anak menjadi berani, jujur dan pemaaf adalah pondasi utama untuk bekal kemandiriannya. Makasih sharingnya ya Mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, semoga tulisannya bermanfaat

      Hapus
  15. Jangan mengajarkan anak berbohong. Yup! setuju banget...Kita kadang berbohong di depan anak atau pada mereka. Jadi ditiru dah...Btw, terima kasih sudah diingatkan lewat tulisan ini Mbak...:0

    BalasHapus
  16. Anakku udah umur 10 tahun tapi masih penakut n pemalu. Kayaknya tips nya harus dipraktekkan biar anakku jadi pemberani

    BalasHapus
  17. wuah tipsnya kece, makasih udah sharing

    BalasHapus
  18. Anak saya juga rada penakut. Tapi saya tenang-tenang aja, sebab dia baru berumur 2 tahun dan memang usia segini belum bisa diharapkan untuk punya kemampuan sosial yang baik. Dokter spesialis tumbuh kembang yang meladeni anak saya setuju juga dengan saya.

    Tetapi beliau mewanti-wanti saya supaya perilaku begini jangan dibiarkan kalau anaknya sudah berumur 3 tahun. Beliau kasih saran supaya keberanian anak saya dibiarkan tumbuh sendiri. Caranya dengan bersikap wajar kalau ketemu orang lain. Karena dengan bersikap begitu, anak akan meniru orangtuanya. Jadi kalau kita ramah ya, lama-lama anaknya juga akan meniru ramah. Kalau orangtuanya jaga jarak terhadap orang lain, maka anaknya juga akan jaga jarak kepada orang itu.

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.