Suka Jajan Sejak Semua Serba Cashless, Apakah Saya Jadi Lebih Boros?

Semenjak serba cashless, hobi kulineran malam semakin rutin dilakukan, apakah ini membuat saya lebih boros? Tentu tidak, karena saya menerapkan pengelolaan keuangan keluarga sebijak dan sebaik mungkin.

Suka kuliner malam bersama keluarga

Semenjak tinggal di Maospati, Jawa Timur, dan melihat harga jajanan yang murah, saya dan keluarga jadi memiliki kebiasaan kuliner malam. Entah itu jajan dimsum, pecel, cireng, tahu crispy hingga minuman jahe merah.
kuliner-malam

Kenapa harus malam?

Karena disini kalau siang itu cuacanya panas banget, dan pedagang jajanan baru ada di sore hingga tengah malam, bahkan ada yang sampai jam 5 pagi. Jadi, saya dan keluarga akan memilih keluar di malam hari setelah shalat Isya. 

Anak-anak selalu antusias kalau keluar malam, selain udaranya sejuk, pedagang jajanan semuanya sudah lengkap di malam hari. Mau beli apa saja semuanya ada. Dari mulai camilan, minuman segar, minuman hangat, makanan berat, hingga gorengan. Untuk harga menurut saya disini tuh cukup terjangkau, makanan 500 rupiah juga masih ada. Beli ayam geprek 9.000 sudah bikin kenyang, apalagi dimsum 12.000 makin mantap rasanya. 

Belum lagi mau beli minuman segar, 3.500 masih ada loh, jeruk peras 5.000 sudah dikasih madu, apalagi beli es teh 2.500 masih bisa dinikmati. Mau jajan baso 12.000 dan mie ayam 7.000 juga masih dapat disini. Cukup dengan 100.000, sudah bisa membawa pulang banyak jajanan dan semuanya sudah bisa bayar pakai QRIS. Saya semakin suka kalau sudah cashless, jadi keluar rumah cukup bawa smartphone saja.

Apakah kulineran terus jadi lebih boros?
kuliner-malam

Semenjak semuanya serba cashless, jujur sempat takut kebiasaan kulineran malam jadi tidak terkontrol. Kenapa? Karena biasanya kita jajan itu bawa uang tunai terbatas (misal bawa 100.000), jadi ketahuan tuh uang sisa berapa. Berbeda dengan pembayaran secara digital, cukup dengan scan kode QR, bertransaksi lebih mudah. Tapi frekuensi jajan bisa saja tidak kita sadari semakin meningkat, kalau tidak rajin cek riwayat transaksi.

Maka dari itu, biarpun serba cashless, kebiasaan kulineran malam ini tidak membuat saya jadi boros, karena justru bisa membantu saya lebih mengontrol diri saat membeli jajanan, dengan cara memanfaatkan riwayat transaksi untuk mengevaluasi setiap pengeluaran. Apalagi saya sudah sering belajar literasi finansial, jadi sudah bisa mengobtrol diri, dan sudah memahami kebutuhan dan keinginan.

Buat saya sendiri agenda kuliner malam untuk beli beragam jajanan ini masuk ke dalam pos keuangan hiburan. Jadi gak harus setiap hari, karena saya sudah memiliki budget khusus perbulanannya untuk hiburan keluarga, termasuk didalamnya untuk kuliner maupun jalan-jalan ke wisata terdekat. 

Terus, bagaimana mengatur keuangan, supaya kebiasaan jajan tidak membuat boros?

Sebelum mengatur keuangan, ada baiknya kita memahami dulu semua pengeluaran harian maupun pengeluaran kita, seperti:
  • Apakah ada cicilan? Berapa cicilan per bulannya? Pastikan cicilan di bawah 30%, itu lebih baik.
  • Berapa biaya makan perharinya? Ada berapa orang di rumah?, pastikan kita anggarkan maksimal 50% untuk biaya hidup, dengan catatan paham yang namanya prioritas pengeluaran.
  • Punya tabungan tidak? Berapa uang yang disihkan untuk tabungan masa depan, kalau bisa menabunglah minimal 100.000.
  • Punya dana darurat tidak? Kalau tidak, mulailah memikirkan dana darurat, minimal 3 kali pengeluaran rutin bulanan.
Kalau sudah tahu nih beberapa pertanyaan di atas, kita tinggal mengatur keuangan keluarga. Biasanya saya alokasikan pendapatan bulanan ke beberapa pos keuangan. Adapun mengatur keuangan yang saya lakukan sebagai berikut:
mengelola-keuangan
1. Memahami kebutuhan dan keinginan

Sebelum membuat anggaran, pastikan kita memahami dahulu mana yang kebutuhan dan keinginan. Kalau kebutuhan itu bisa langsung dilakukan, beda dengan keinginan yang bisa ditunda. Dan ini berlaku untuk pengeluaran lainnya, termasuk saat kulineran. Mana jajanan yang memang dibutuhkan dan akan habis, bukan karena keinginan semata, tapi akhirnya jadi mubazir, karena tidak habis dimakan.

2. Membuat anggaran bulanan

Setiap bulan saya akan membuat anggaran bulanan, dengan mengalokasikan pendapatan ke beberapa pos keuangan, seperti 20% cicilan pinjaman, Infaq dan sedekah 5%, Biaya kebutuhan keluarga 40%, Tabungan 15%, dana darurat 10%, dan hiburan 10%. Kemudian saya akan masukkan dana ini ke beberapa rekening untuk disimpan dan dikeluarkan sesuai kebutuhannya. Dengan alokasi ini memudahkan saya lebih bijak dalam mengeluarkan uang, sehingga tidak boros lagi.

3. Menetapkan batasan pengeluaran

Karena setiap bulan saya sudah mengalokasi dana ke beberapa pos keuangan, maka disini saya sudah bisa menetapkan batasan pengeluaran juga. Misal ketika belanja mingguan ke pasar, saya akan catat kebutuhannya dan alokasikan dana 300.000 untuk beberapa hari kedepan. Dengan batasan ini, saya tidak akan takut kelebihan belanja atau beli lain-lain lagi, karena sudah sesuai catatan dan batasan dana yang dikeluarkan.

Begitupun dengan kulineran malam, sebelum keluar rumah, saya akan menetapkan batasan sesuai anggaran. Misal tersisa dana hiburan bulan Juni 200.000, maka saya akan keluarkan dahulu 100.000, dan sisanya untuk hari lainnya saat ingin beli jajan sama keluarga. Untungnya anak dan suami memahami itu.

4. Memanfaatkan riwayat transaksi

Enaknya era cashless ini, setiap kali melakukan transaksi semua sudah tercatat, berapa pengeluarannya dan dari toko mana, jadi gak ada namanya drama lupa beli dimana dan berapa jumlahnya, apalagi kalau tidak ada nota.

Jadi, setiap kali selesai keluar rumah untuk membeli barang atau jajanan, saya akan cek riwayat transaksi dan masukkan ke pembukuan. Dari situlah saya bisa menevaluasi semua pengeluaran dengan baik. Mana yang bisa dikurangi, maupun ditunda kedepannya.

5. Gunakan promo dengan bijak

Paling enak tuh, kalau cashless dan menggunakan suatu aplikasi pasti ada yang namanya promo, ini sering banget saya dapatkan. Tapi, tetap saja semua harus dilakukan karena butuh, bukan karena keinginan. Kita bisa menggunakan promo, yang penting dilakukan secara bijak sesuai dengan kebutuhan dan mencukupi dana yang dianggarkan.

Cashless bukan berarti boros dan bertransaksi lebih praktis dengan AstraPay

astrapay

Setelah kita mengetahui pengelolaan keuangan, maka mulailah berbelanja dengan bijak. Apalagi kalau bertransaksi sekarang makin mudah, aman dan praktis dengan AstraPay, mau bayar apa aja semua bisa. Termasuk saat kulineran malam, saya pasti menggunakan aplikasi AstraPay saat bertransaksi. 

Bertransaksi cashless itu bukan berarti kita boros loh, jika dimanfaatkan dengan bijak. Karena setiap transaksi digital itu bisa membantu kita dalam mengelola keuangan secara teratur, mengingat semua transaksi tercatat dan bisa kita tinjau ulang. Itu yang sering saya lakukan dengan AstraPay, ada riwayat belanja yang selalu saya cek. 
astrapay

Dengan AstraPay kita bisa melakukan beragam transaksi sesuai kebutuhan, dari mulai bayar cicilan, bayar tagihan listrik, air, BPJS, pembelian pula dan paket data, pembayaran asuransi, hingga pembayaran dengan QRIS bisa dilakukan semuanya hanya dalam satu genggaman saja. Adapun keuntungan yang bisa pengguna rasakan dengan aplikasi AstraPay, yakni:
  • Cepat dan mudah, terutama saat bertransaksi, tinggal klik saja.
  • Aman, karena AstraPay sudah terdaftar dan diawasi oleh bank Indonesia.
  • Nyaman, karena bertransaksi bisa di mana dan kapa saja dengan smartphone.
  • Hemat, ada beragam promo dan cashback.
  • Praktis, karena AstraPay ada berbagai fitur yang memudahkan dalam mengelola keuangan.
Kesimpulan

Bagi saya yang suka sekali dengan kuliner malam, ini bukan bicara soal menikmati hidangan, tapi menikmati waktu bersama yang berkualitas bersama keluarga. Dengan hadirnya AstraPay, sebagai bagian dari ekosistem digital, membuat bertransaksi menjadi lebih cepat, praktis dan cashless. Tanpa perlu membawa uang tunai atau menunggu uang kembalian.

Meski adanya kemudahan bertransaksi di era digital, bukan berarti kita bebas berbelanja tanpa batas. Justru bisa lebih hemat dan bijak lagi. Karena dengan memahami atau belajar literasi finansial bisa menjadikan gaya hidup cashless tidak berubah menjadi kebiasaan yang lebih boros. Dengan memulai memahami kebutuhan vs keinginan, membuat anggaran, hingga mengevaluasi riwayat transaksi, saya bisa memanfaatkan AstraPay secara bijak saat melakukan pembayaran. 

Teknologi memang memudahkan kita semua dalam bertransaksi sehari-hari, tapi setiap keputusan keuangan tetap ada di tangan kita sebagai Ibu yang mengelola keuangan secerdas dan sebijak mungkin, untuk kesejahteraan keluarga.




Sumber AstraPay: https://www.astrapay.com/blog/apa-itu-astrapay



Tidak ada komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Silahkan memberikan komentar. Mohon maaf link hidup dan spam akan otomatis terhapus.