Rindu Ayah

Liswanti Pertiwi | Jumat, November 01, 2013 | |

Dok. pibadi
"Rindu Ayah"

Dan itulah kata yang selalu ada dalam pikiran serta hati kami (ibu, adik-adikku, dan aku) begitu pula denganku saat ini. Terasa sangan menyakitkan dan mampu membuat kami menangis saat saya dan keluarga merindukan sosok Ayah ditengah-tengah kami.

Sudah 7 tahun lamanya Ayah meninggalkan kami, meninggalkan keluarga tercintanya, dan meninggalkan kehidupan ini. Sangat sedih memang, tapi kami harus belajar untuk tidak selalu mengingatkan, "karena akan membuat berat Ayah disana", kami harus ikhlas dan sabar akan sebuah takdir yang sudah dituliskan oleh Allah SWT.

Memang semua kenangan indah itu tidak akan pernah hilang, malah akan menjadi sebuah memori-memori berarti bagi kami, dimana Ayah adalah sosok yang tekun, bertanggung jawab, rendah hati, pekerja keras dan sayang terhadap keluarganya. Dia tak akan pernah membuat anak-anaknya menangis, Ayah adalah sosok yang sangat luar biasa di mata kami "anak-anaknya dan keluarga besarnya". Ayah juga sangat dihormati oleh masyarakat, di daerah tempat tinggal kami Ayah dituakan, sosoknya yang rendah hati dengan mudah bergaul dengan semua kalangan termasuk para remaja, Ayah mampu membimbing para remaja di daerah tempat kami tinggal untuk saling bergotong royong, maka tidak salah kalau saat Ayah meninggal semuanya sangat kehilangan.

Dok. Pribadi
Potret diatas adalah kenangan terakhir kami, tepatnya bulan Januari 2007, saat kami mengadakan acara khitanan adik pertama saya "saat usianya masih sekolah dasar" dan adik kedua yang masih dalam kandungan Ibu. Dan acara itu pun menjadi kenangan terakhir bersama keluarga besar kami, disinilah semuanya berkumpul. Kami pun tak pernah menyangka Ayah akan pergi secepat itu.

Tak pernah terbayangkan olehku, bahwa adik keduaku lahir tanpa kehadiran seorang Ayah, sebagai seorang anak pertama, aku harus kuat, mampu mendampingi Ibu dan adik-adikku. Saat itu pun aku baru berusia 19 tahun, saat dimana saya sebagai anak perempuan masih memperlukan bimbingannya, arahannya dan nasihat-nasihatnya, apalagi adik saya yang masih kecil, sangat membutuhkan kasih sayang yang utuh dari Ayah juga Ibu, dan takdir ini membuat adik saya hanya mampu merasakan kasih sayang Ibu seorang.

Banyak sekali kepedihan yang kami rasakan sepeninggal Ayah, apalagi saat adik keduaku lahir, itu sangat membuat kami sedih, "ade lahir tanpa tahu sosok bapak" ucapku dalam hati.

Kesedihan yang kami rasakan tidak serta merta berhenti begitu saja, cobaan datang lagi kepada kami, disini Allah SWT benar-benar menguji keimanan dan ketakwaan kami kepada-Nya. Nenek (Ibunya Ayah) juga berpulang tepat 7 bulan setelah kepergiann Ayah dan saat usia adik bungsuku 40 hari, cobaan yang kami rasakan begitu sangat berat, apalagi setelah itu banyak orang menyudutkan kami karena sesuatu hal, fitnah dan cacian terus kami dengar, begitu sangat menyakitkan "semoga Allah mengampuni dosa mereka yang menyakiti janda dan anak yatim".

Hal-hal menyakitkan biarlah menjadi kenangan pahit kami, dan nanti akhirnya akan indah pada waktunya. Dan yakin dengan ucapan "orang sabar disayang Tuhan", dan itu yang akan menjadi kekuatan kami dalam menghadapi segala cobaan hidup ini.

Sosok Ayah membuatku menangis di hari pernikahanku, padahal aku ingin sekali Ayah yang menjadi wali nikahku di acara ijab qabul, tapi apalah dayaku Ayah sudah tiada, mungkin disana Ayah menyaksikan kebahagianku. Begitu pula saat saya melahirkan putri pertamaku, sangat terasa tidak ada sosok Ayah "sedih :-( ".

Masih ingat dalam benakku bagaimana Ayah mendidikku, dan itu yang akan saya jadikan pedoman untuk mendidik putra dan putriku "semoga saja mereka jadi anak kuat". Ayah dulu memang sangat memanjakanku, tapi itu tidak membuatku menjadi anak yang cengeng ataupu kelewat manja, karena Ayah sudah mengajarkanku banyak hal, tentang norma-norma kesopanan, kepatuhan, perjuangan maupun kebaikan.

Ayah selalu bilang "setinggi-tingginya pendidikan dan kedudukan seorang perempuan, tetaplah dia seorang perempuan yang harus patuh kepada suaminya", dan itu pepatah yang akan aku selalu ingat, suami tetaplah kepala rumah tangga yang harus dihormati. Pesan Ayah semoga anaknya ini menjadi istri sholehah...hihi.amin.

Dan semoga saja saya dan adik-adik sebagai anak akan mampu mempersembahkan keberhasilan sebagai seorang manusia yang beriman dan sukses untuk orang tuanya, biarpun Ayah tak bisa menyaksikannya secara langsung. Saya yakin disana dia pasti melihatnya, maka tidak salah kalau saya harus mampu menjaga persaudaraan dengan baik dengan adik-adik, rukun dan harmonis, biar Ayah pun bahagia dan tenang disana.

"Rindu Ayah" 

Sangat-sangat merindukannya, yang akhirnya Jumat pagi tadi kami nyekar ke makam Ayah, sekaligus melihat pertumbuhan pohon jabon kami.

Biarpun Ayah tiada, tapi dia tetap ada di hati kami, mendampingi kami, menyaksikan kehidupan kami. Ayah hanya satu yang hari ini inginn sekali aku katakan "Teteh kangen sekali sama Bapak...ade juga, sampai dia sakit panas karena ingat bapak...", aku sayang ayah dan ibu. Muachhhhhhh.....semoga Ayah ditempatkan ditempat yang paling mulia di sisi Allah SWT. Dan Ibu selalu diberi kesehatan, keselamatan dan panjang umurnya, bersama-sama menjalani kehidupan ini bersama kami. Amin.

Dok. Pribadi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...