Apakah Benar Itu Anemia ??????

Liswanti Pertiwi | Jumat, Januari 03, 2014 |

Akhir tahun 2013 kemarin tepatnya tanggal 29 Desember 2013, putra keduaku "Dimas Nurjamil" harus kembali dirawat, setelah setahun yang lalu, saat dia lahir harus dirawat selama 1 minggu lamanya diruangan khusus, karena jantung dan paru-parunya belum kuat dan terpaksa harus diinfus dan diberi oksigen.

Kini 13 bulan berlalu, dia harus kembali menjalani perawatan di rumah sakit yang sama, tapi dengan penyakit yang berbeda. Kali ini saya benar-benar ga kuat melihat kaki dan tangannya harus ditusuk-tusuk jarum untuk memasang alat infus. Tangisnya yang menjerit semakin menusuk hati saya, tanpa rasa malu dengan orang-orang dihadapan saya, tetesan airmataku jatuh "sungguh saya tidak tega melihat kondisinya".


Dari hari sabtu siang tanggal 28 Desember 2013, putraku sudah mulai menunjukkan sakit, dia terus menerus muntah dan kemudian suhu badannya panas tinggi, awalnya saya pikir Dimas masuk angin, karena perutnya kembung, saya pun memijatnya, tapi sampai minggu pagi dia tak kunjung membaik, saya pun lekas membawanya ke UGD (karena poli hari minggu tutup). Setelah menjalani pemeriksaan dan diberi obat kami pun pulang.

Sampai akhirnya sore minggu itu kondisi putraku semakin buruk, badannya lemas tak bertenaga dan wajahnya pucat. Setiap asupan ASI (Dimas anak ASI) ataupun air serta makanan pasti keluar lagi, dan saya yakin itu yang membuatnya lemas. Saya dan suami pun kembali membawanya ke UGD, kali ini Dokter menyarankan untuk menjalani perawatan di rumah sakit, sebelumnya dia pun di cek darah, untuk mengetahui lebih jauh kondisinya saat ini.

Alangkah terkejutnya saya saat hasil itu keluar, bahwa HB putra saya rendah dan angkanya sudah sangat mengkhawatirkan "5,7" dari angka normal 11-12. Dokter pun menyarankan untuk segera transfusi, karena kondisinya sudah sangat membahayakan. Saya sangat terpukul "kenapa harus transfusi", tak ada sedikit pun dalam pikiran saya Dimas harus sakit seperti ini, ingin rasanya saya saja yang menggantikan posisinya, saya takut kehilangan dia, saya takut dia tidak kuat. 


Transfusi pun dilakukan setelah suhu badan anak saya menginjak di angkat 37.8 derajat, golongan darah anak saya A. Saya pun menemaninya setiap waktu dan selalu disisinya, tak beranjak sedikit pun, bahkan untuk sekedar kekamar mandi pun saya harus menahannya, kalo putra saya belum tidur "ga tega meninggalkannya". Akhirnya setelah transfusi, demamnya langsung turun dan HBnya berangsur naik, dan kondisinya pun berangsur pulih.


"Apakah benar itu Anemia?"

Dari beberapa orang menyimpulkan seperti itu, biarpun belum pasti, karena hasil keseluruhan dari kondisi tubuh putra saya belum keluar. Saya tidak buru-buru menyimpulkan seperti itu sampai akhirnya saya browsing dari beberapa artikel di Google.

Dari sumber yang saya baca gejala seperti putra saya ini memang bisa dikatakan sebagai "Anemia" atau biasa disebut juga sebagai ADB "Anemia Defisiensi Besi" yang merupakan masalah defisiensi nutrien yang ternyata sering terjadi pada anak diseluruh dunia terutama dinegara sedang berkembang seperti negara kita Indonesia, penyebabnya karena kurang asupan zat besi. Padahal fungsi zat besi itu penting bagi tubuh terutama anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan dan fungsi zat besi yang paling penting adalah dalam perkembangan system saraf.

Nah padahal ya anak saya termasuk anak yang suka makan, makanan bergizi selalu saya berikan, kecuali anak saya itu tidak suka susu formula. Kalau sayuran, daging, ayam, ikan dan buah dia paling doyan, lalu kenapa kondisinya bisa begini??? saya juga belum tahu penyebab dari rendahnya HB anak saya karena kurang zat besi atau apa??. Saat mengandung pun vitamin dan suplemen tambahan untuk pertumbuhan janin selalu saya minum.

Saya sempat takut saat membaca bahaya dari kurangnya zat besi, yang ternyata sangat berpengaruh pada fungsi kognitif, tingkah laku dan pertumbuhan seorang bayi. Besi juga merupakan sumber energy baik untuk otot sehingga mempengaruhi ketahanan fisik. Penyebab defisiensi besi sendiri pada anak usia 1-2 tahun bisa dari asupan besi kurang akibat tidak mendapat makanan tambahan bahkan obesitas, belum lagi kebutuhan meningkat karena infeksi berulang.

Maka dari itu untuk menanggani anak dengan anemia defisiensi besi itu mengatasi faktor penyebab dan pemberian preparat besi. Kalau melihat kasus anak saya seperti ini apakah bisa dikatakan dia anemia atau bukan, karena gejala yang ditunjukkannya baru berlangsung 2 hari dan sebelumnya dia sempat cek darah, semua normal tidak ada masalah.

Dan kini saya hanya akan menunggu hasil yang pasti dari cek darah yang dilakukan di laboratorium, supaya semuanya jelas dan dapat segera menanganinya, supaya kondisi seperti ini tidak terulang kembali di kemudian hari. Biarpun kini Dimas sudah sembuh dan pulang kerumah, tetap saja saya harus tetap waspada, biar tidak kecolongan lagi, sampai Dimas transfusi segala "2 labu darah yang dimasukkan ketubuhnya", padahal ga ada faktor keturunan sama sekali, di keluarga juga tidak ada yang seperti ini.


Semoga canda dan tawa putra saya ini akan selalu menghiasi wajahnya, bukan raut sedih yang terukir, tapi kebahagiaan. Kesehatan dan keselamatan juga dapat selalu menyertai putra putriku dimana pun dan kapan pun. "Mama sayang dan cinta kalian putra putriku.....".


Note : Sumber dari IDAI.or.id



7 komentar:

  1. Semoga Dimas segera diberi kesembuhan dan sehat seterusnya..
    mak, coba bikin bubur bayam.. bayamnya dihaluskan lalu campur dgn buburnya. Atau beri dia buah bit yang direbus lalu ditumbuk halus. Hati sapi juga bagus tuh mak. Rebus dan haluskan, campur dlm buburnya.
    Aku juga seorang penderita anemia.

    BalasHapus
  2. Oh ya... memasak sayuran hijau atau sayur daun merah tidak boleh dipanaskan ke dua kalinya krn pada proses memasak kedua itu zat besinya malah jadi racun yg bisa merusak zat besi dlm darah kita. Jadi masak sekali utk 1 kali makan. Fresh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin.makasih doanya mak
      Makasih mak Ade Anita atas info dan tips..
      Terus mak..kalau kondisi dimas seperti in beneran anemia???
      Mak juga penderita anemia, apa terus transfusi atau gimana mak???

      Hapus
  3. cepat sembuh ya mbak buat anaknya, tetap semangat mbak jagain anaknya :)

    BalasHapus
  4. sebagai seorang ayah gw ngerti gimana rasanya anak sakit. cepet sembuhnya anaknya

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...