Penghuni Gerbang Sekolah (Part 3)

Liswanti Pertiwi | Rabu, Oktober 21, 2015 | | | |
Ilustrasi Gerbang Sekolah (Dokumen Pribadi)
Untuk Membaca Part 1 baca DISINI
Untuk Membaca Part 2 baca DISINI


Rabu pagi di akhir bulan Nopember, hujan turun begitu deras. Mimpi-mimpi yang sama selalu datang di 4 hari belakangan, telah membuat Erwin tidak tenang. Erwin hanya terduduk diam di dalam kelas, tak menghiraukan gelak tawa akan Doni yang sedang melucu. Dalam diam, Erwin hanya bertanya dalam hatinya, "siapa perempuan itu?". 

Asep yang melihat Erwin seperti tak biasanya, ceria dan periang, perlahan mulai duduk disampingnya. Menepuk bahunya, tapi Erwin terus terdiam dengan tatapan kosong keluar jendela. "Erwin sayangggg", ucap Asep dalam bisiknya, sambil menirukan suara perempuan dengan lembut. "Iya sayang" jawab Erwin dengan cepat sambil menengok ke sebelahnya, begitu terkejutnya Erwin, karena yang di lihatnya hanyalah Asep yang sedang mengedipkan mata. "Kenapa sayang, kok melamun" canda Asep sambil memeluk tubuh Erwin, dan membuatnya risih.

"Awas ah, geli tahu liat lo kayak gitu Sep".

"Habis lo diem saja"

"Sep, kita ngobrol di luar yuk, banyak yang pengen gw tanyain" ajak Erwin.

***

Malam itu, Erwin mengajak Asep untuk berjaga di depan gerbang sekolah, dengan tujuan untuk memperkenalkan Asep dengan perempuan yang sering ditemuinya. Erwin tak ingin disebut mengkhayal oleh teman-temannya lagi.

Asep yang sudah bertahun-tahun belajar ilmu agama, merasa suasana di malam itu begitu aneh, aroma melati begitu menusuk hidung, angin sepoi-sepoi sampai membuat bulu kuduknya berdiri. "Win, mana atuh perempuannya?", tanya Asep penasaran.

"Biasanya jam segini, dia ini disini Sep".

Mereka tak menyadari, sesosok bayangan putih dengan rambut panjang berada di balik pohon yang tidak jauh dimana mereka berdiri. Sosok bayangan perlahan mendekat, tapi ada yang berbeda di malam itu, dimana baju perempuan tampak compang camping, dengan sebagian rambut yang menutupi wajahnya.

"Erwin" panggilnya, dan seketika membuat Asep terus merinding dengan suara itu. Berbeda dengan Erwin yang tersenyum manis melihatnya. Tapi, saat Asep melihat sosoknya membuat dia kaget, "astagfirullah, laillahaillah, Allahuakbar", dia terus saja mengucapkan ayat-ayat Al-Quran, dan sosok itu perlahan menjauh. 

"Kamu mau kemana?" panggil Erwin, tapi Asep menahannya. Ternyata yang di lihat Asep berbeda, perempuan itu menyeramkan, dengan darah di sekujur tubuhnya, sedangkan Erwin melihat sosoknya yang cantik jelita. Ketika Erwin berusaha mengejar sosok itu, Asep menahannya sambil membacakan doa, hingga membuat Erwin terjatuh tak sadarkan diri.

***

Suara hati Erwin

"Hari ini resah hatiku begitu terasa, rasa cintaku mulai retak, rinduku kepadamu begitu terasa menyesakkan. Merindukan perempuan berbaju putih yang setiap malam temani sepiku. Senyum dan tangisnya mewarnai hariku, aku mulai lemah tanpamu, bidadari hatiku. Aku tak tahu siapa namamu, darimana dirimu, tapi satu yang pasti aku jatuh hati kepadamu. Saat kudapati kenyataan, itu begitu mustahil. Karena, ku mampu mengenggam dan memeluk tubuhmu yang dingin, menghapus air matamu yang jatuh perlahan. Dan malam ini aku sungguh merindukanmu, kekasih hatiku".

***

Erwin dan kawan-kawan mulai membagi tugas. Doni dan Iwan mulai mencari tahu tentang ciri-ciri perempuan yang ada di mimpi Erwin, sekaligus lelaki bertato ular. Sedangkan Asep dan Erwin mulai mulai mencari tahu tentang kebun jati.

"Sep, jadi bener, kebun jati cuman ini saja, ga ada yang lain?", tanya Erwin penasaran sambil memperhatikan sekeliling.

"Iya Win, inikan punya sodara kamu, masa ga tau".

"Siapa?, yang bener ah, perasaan keluarga gw usahanya petani semua".

"Eh, kan ini punyanya paman kamu yang di Jakarta, dia teh kan suka pulang, buat nengokin kebun ini".

"Om Joni adenya babeh?".

"Ho oh", sambil mengiyakan dengan mulut yang manyun.

Mereka mengobrol sambil berjalan, dan terduduk di dekat rumput yang sudah meninggi, karena kelelahan. "Baru tahu, om Joni punya kebun segede gini", ucap Erwin dengan santai.

"Lah, kamu sendiri sodaranya, masa gatau, aneh dasar", jawab Asep yang tak sadar menduduki sesuatu. Erwin yang melihat itu, sampai kaget dan wajahnya pucat "Sep, kamu diem ya". "Kenapa win?". "di bawah pantat kamu?" bisiknya ketakutan. "Oh, hai sayang, tenang ya, euuuh pinter, maaf ya di dudukin Asep yang ganteng. Neh Win mau megang?", ucap Asep, yang mengambil ular yang didudukinya, hingga membuat Erwin lari terbirit-birit.

Erwin kelelahan berlari, hingga dia sampai di dekat semak-semak, dan merasa itu seperti yang ada di mimpinya. Karena penasaran, dia pun mendekat, dan mulai membayangkan mimpinya. Saat teringat, dia mulai mencari-cari sesuatu di semak-semak itu, dan benar saja ada sebuah barang yang di pegang, "kamera" ucap Erwin tak percaya. Asep yang melihat itu pun langsung mendekati, "Win, kamera siapa itu". "Entahlah Sep, yuk pulang kita cek". 

***

Sore hari yang mendung, di dalam kamar asrama, ke 4 sahabat berkumpul. Iwan dan Doni menjelaskan ciri-ciri perempuan yang sering di mimpikan Erwin.

"Ciri perempuan di mimpi, masyarakat kurang tahu. Tapi, kalau perempuan yang setiap malam di temui Erwin, ada yang tahu, dia adalah Putri, cucu dari Emak Ellah, tinggal di Jakarta. Satu setengah bulan yang lalu, dia datang ke kampung ini, buat menjemput neneknya. Tapi, entah kenapa, baru 4 hari, mereka berdua menghilang. Warga kampung pikir, mereka sudah di Jakarta. Seminggu kemudian keluarga putri datang, dan mereka kaget, karena ternyata putri dan emak tidak pernah ke Jakarta. Sampai saat ini mereka tidak pernah ditemukan, rumah emak kosong, dan ini foto yang saya dapat dari tetangga Emak" ucap Iwan sambil menyodorkan Fotonya.

Erwin kaget setengah mati, karena foto perempuan yang duduk bersama kedua orang tua dan neneknya, adalah perempuan yang setiap malam bertemu dengannya. Tangan Erwin gemetaran, selain dia sudah tahu, bahwa perempuan itu hantu gentayangan. Erwin semakin gemetaran, bahwa perempuan yang di cintainya benar-benar sudah tiada di bumi ini, dan selama ini dia sudah bersama hantu. Apa yang dijelaskan oleh Asep di malam pertemuan terakhirnya, menjelaskan sosok yang sebenarnya.

"Dan satu lagi Win" ucap Doni dengan suara yang berhati-hati.

"Apa?"

"Ini hanya baru perkiraan loh ya. Soalnya tak sengaja tadi saya melihat tato ular hitam di tangannya, pas dia sedang mengobrol dengan kang Udin di dekat sekolah".

"Siapa, cepetan".

"Pa Joni, yang punya kebun jati, dan tak lain, dia itu paman kamu", ucap Doni dengan hati-hati.

Erwin terjatuh di tempat duduk, dengan pandangan binggung, gemetaran, dan tak tenang.

***

Dengan perasaan binggung, perlahan Erwin membuka isi kamera yang sudah bisa menyala kembali. Pertama Erwin tersenyum bahagia, melihat potret Putri yang ceria, foto di sawah, foto sekolahan, kelas-kelas. Tapi lama kelamaan raut wajahnya menunjukkan rasa penasaran, karena ada foto-foto pamannya yang sedang melakukan transaksi dengan seorang lelaki gondrong di belakang toilet sekolah yang belum selesai di bangun.

Erwin pun berlari sambil menarik Asep yang sedang asyik membaca buku, "eh mau kemana ini Win?". "Ayo ikut".

Sore yang gerimis, sampailah mereka di depan toilet sekolah. "Ada apa?". "Sep, apa dulu, semua orang bebas keluar masuk ke sekolah ini" tanya Erwin.

"Bisa atuh, belakang sekolah kitakan jalan pintas ke kebun jati, dulu semua orang bebas, soalnya belum di tembok, nah itu tuh baru beres, barengan sama toilet ini, ada apa?".

"Di foto bangunan toilet yang belum beres, di balik itu ada paman yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang".

"Apa?"

"Win, lebih baik kita pulang sekarang, suasana disini sudah terasa tak enak, bau amis ini buat saya mual".

"Sep, masa kamu tidak bisa mencari tahu ilmu yang kamu punya, bau amis apa ini?".

"Entahlah, ilmu saya belum bisa melihat apa-apa, tapi yang jelas, ada penunggunya disini".

Seketika Erwin merasakan bulu kuduknya berdiri, dan buru-buru mengajak Asep pulang ke Asrama.

***

Apakah, Erwin dan teman-temannya dapat membongkar kasus ini. Ada hubungan apa antara paman dan putri?. Saksikan di cerita selanjutnya ya.

Nah sesuai janji saya di tulisan part 2, akan ada pulsa buat 2 orang yang bisa menebak, cerita yang ke 3 ini, dan yang mendekati adalah komentarnya. 
  1. Ery Sundary
  2. Anjar Sundari
Ini kebetulan nama belakangnya sama, atau ada hubungan keluarga ini hehe. Selamat ya mbak-mbak cantik mendapatkan pulsa masing-masing @25, di tunggu inbox no hpnya di facebook saya ya.

2 komentar:

  1. Alhamdulillah...dapat rejeki tak terduga nih...terima kasih banyak ya mbak Lis..
    mbak Lis juga cantik deh... :)

    Saya kira episode ini sudah tamat mbak, ternyata belum ya...
    oke saya tunggu lanjutannya... :)

    BalasHapus
  2. mksih y te liswanti dpt rejeki istri sholehah nih.semoga crtny lbh seru lgi n adain kuis lgi y

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...