4 Hal Ini Harus Diperhatikan Orangtua Saat Anak Menggunakan Gadget

by - Kamis, November 23, 2017


[Dunia Anak] Anak zaman dahulu tentu berbeda dengan zaman sekarang. Zaman dulu neh, anak-anak lebih aktif di luar rumah, bersosilisaasi bersama teman-temannya sambil melakukan beraneka ragam permainan tradisional, mulai dari main karet, kelereng, hingga main layangan. Biarpun saya perempuan, hobi banget main kelereng. Bapak saya sampai bingung kalau kelereng bisa nyampe seember ☺☺☺.

Kids zaman  now yang sudaha bersentuhan dengan dunia digital, tentu berbeda dengan anak-anak di zaman saya lahir. Saya lahir belum mengenal apa itu internet, pegang handphone saja saat saya usia 16 tahun. Bukan orangtua ga mampu beliin, tapi zaman dulu gadget masih dianggap barang mahal, yang belum pantas digunakan anak-anak. Berbeda dengan sekarang, anak balita saja sudah tahu apa itu gadget. Bahkan anak sekarang jauh lebih mahir, dan kreatif, karena banyak media yang mereka gunakan untuk mendapat informasi.


Gadget untuk anak


Penggunaan gadget itu ada efek positif dan negatifnya, itu tidak dapat kita pungkiri. Bahkan banyak anak yang ketergantungan dengan gadget, saat diambil orangtuanya mereka menangis dan marah. Itupun yang saya rasakan beberapa bulan lalu. Kelamaan anak main game, ternyata membuat anak malas bermain di luar rumah. Saat diambil handphone, Dimas nangis dan marah-marah. 

Mau ngelarang anak juga percumakan, kalau orangtuanya sehari-hari menggunakan gadget. Kita ga bisa egois, ngelarang anak ini dan itu. Terus apakah kita mengenalkan gadget kepada anak sudah tepat? Hari kemarin 22 November 2017 saya mengikuti diskusi parenting yang mengangkat tema "Gadget 101 For Kids", bertempat di Giang CBD Bintaro. Dalam diskusi ini menghadirkan psikolog anak sekaligus penulis "Raising Children In Digital Era" yakni Elizabeth Santosa yang sekaligus merupakan Komisioner Komnas Perlindungan Anak Indonesia. 

Elizabeth Santosa
Di era digital ini membuat kita sebagai orangtua harus lebih pintar dan cermat dalam mengawasi penggunaan gadget pada anak. Apalagi generasi sekarang ini (generasi Net) lebih success, praktis dan cepat, kritis, kebebasan, digital native serta percaya diri.  Seperti dalam diskusi kemarin, saya merangkumnya menjadi 4 hal yang bisa diperhatikan orangtua saat anak menggunakan gadget.

1. Mengetahui efek penggunaan gadget

Memberikan gadget kepada anak bukan berarti tidak tahu dengan risiko yang akan dihadapi kedepannya. Semua ada efek positif dan negatifnya. Melihat dari dampak positifnya, gadget bisa membantu anak dalam belajar, misal neh, ada PR yang tidak diketahui, tinggal searching, otomatis disini akan menambah pengetahuan pada anak. Selain itu bisa juga mengasah kreatifitas anak, lihat deh sekarang ini banyak remaja yang berhasil menjadi youtuber dan menghasilkan uang sendiri, atau menjadi selebgram yang dibayar hingga puluhan juta. Tentu ini membuat anak bisa mengasah kemampuan dan melatih kratifitasnya. Termasuk membuat anak mengenal orang-orang baru dan memudahkannya berkomunikasi.

Biarpun banyak sekali efek positifnya, orangtua juga harus mengetahui efek negatif, saat memutuskan memberikan gadget, terutama dalam hal kesehatan. Seringnya anak bermain gadget bisa membuat mata menjadi lelah, apalagi kalau digunakan sambil tiduran. Selain itu membuat anak malas bergerak, dan lebih asyik main gadget sambil ngemil, efeknya bisa timbul penyakit dan obesitas. Dan tentu saja anak jadi kurang sosialisasi, karena lebih asyik dengan gadget ketimbang bermain di luar rumah yang juga bisa melatih fisiknya lebih kuat.

2. Mengatur penggunaan gadget

Ilustrasi saat anak main gadget
Kalau anak sudah dewasa tentu dia sudah mengerti sendiri dengan menggunakan gadget dan bisa bertanggung jawab. Tapi untuk anak-anak yang sedang dalam masa tumbuh kembang, penggunakan gadget harus dalam pengawasan. Dan orangtua harus tahu bahwa ada pengaruh teknologi terhadap tumbuh kembang anak, seperti perkembangan motorik, fisik, neurologi, moral, bahasa, hingga sosial.

Penting sekalu mengatur penggunaan gadget pada anak, supaya anak tidak terus menerus menggunakan, sehingga lupa bahwa dia juga perlu sekali sosialisasi di luar rumah bersama teman-temannya. Alangkah baiknya orangtua memberikan jadwal penggunaan gadget, seperti yang dilakukan mba Elizabeth Santosa, anak-anaknya di waktu sekolah senin sampai kamis tidak menggunakan gadget, karena full dengan kegiatan sekolah, sampai rumah udah lelah. Barulah di hari jumat sampai minggu diberikan gadget, tapi tidak setiap waktu. Justru di weekend mengajaknya dengan aktivitas lain, dengan begitu penggunaan gadget hanya beberapa jam saja.

Menurut mba Elizabeth Santosa dalam bermain gadget ada aturannyanya juga, yani batas maksimal penggunaannya adalah 2 jam/hari (tentative) dengan catatan anak sudah mendahulukan semua kewajibannya, misal neh mengerjakan PR, dan beribadah. 

3. Usia anak mengenal gadget

Ilustrasi usia anak bermain gadget
Mengenalkan anak dengan gadget ga ada larangan kok, apalagi di gadget itu ada permainan yang juga bisa mengedukasi anak-anak, seperti belajar mengenal huruf, angka hingga binatang. Para orangtua bisa mengenalkan gadget sejak dini, dengan catatan tetap dalam pengawasan orangtua. Sedangkan menggunakan media sosial di usia antara 13 sampai 14 tahun. KAlau belum masuk usia 13 tahun, diharapkan anak tidak bermain media sosial. Saat bermain media sosial harus terus dipantau juga oleh orangtuanya.

Saat anak-anak ingin mengunduh permainan, orangtua diharapkan bisa bijak dalam memilih games. Apakah kontennya baik untuk anak atau tidak, jangan sampai tertipu dengan tulisan aman untuk anak-anak, tapi didalamnya banyak berisi konten yang mengerikan. 

Mba Elizabeth memberikan tips memilih games untuk anak, salah satunya adalah ESRB, serta adanya interaksi dan keterlibatan orangtua. ESRB (Entertainment Software Rating Board) yang merupakan sebuah organisasi regulator mandiri yang menilai permainan video, panduan periklanan, prinsip privasi daring permainan video dan perangkat lunak hiburan lainnya. (Definisi ESRB Sumber: Wikipedia)

Dengan adanya ESRB ini bisa membantu para orangtua dalam menentukan konten permainan yang tentunya layak digunakan untuk usia penggunanya, terutama usia anak-anak. Dengan adanya ikon atau rating Early Childhood berarti permainan tersebut dikhususkan untuk anak usia dini dan sarat nilai pendidikan. Dengan begitu para orangtua bisa semakin bijak lagi dalam memilih permainan yang tepat untuk anak-anaknya.

4. Konsisten

Ilustrasi: Gadget
Semua orangtua yang sudah memberikan gadget kepada anak-anak pasti pernah mengalami ya, saat ponsel diambil anak jerit-jerit. Terus saat anak makan sambil main hape, disuruh beraktivitas di luar malah asyik main games. Mau melarang anak berhenti menggunakan gadget ga mungkin banget, apalagi kalau orangtuanya juga pake. Kalau ingin anak mengurangi main gadget, orangtuanya juga harus bisa membiasakan diri tidak menggunakan gadget depan anak.

Disaat orangtua menginginkan anak mengurangi bermain gadget, coba deh orangtua juga konsisten melakukannya. Misal mengambil gadget, dan ganti dengan permainan atau aktivitas lain sambil ditemani. Bukannya ambil gadget, malah anak dicuekin, tentu itu ga bakalan berhasil. Misalnya neh saya membuat jadwal untuk anak, bermain gadget sehari 30 menit sampai satu jam. Saat saya ambil gadgetnya, langsung menemani dia beraktivitas, baik dengan menggambar atau mendongeng, sampai akhirnya dia tidur.


Tetap konsisten ini penting banget supaya anak pun bisa terkontrol menggunakan gadget, dan tentunya bisa memperkuat bonding dengan anak-anak. Kalau anak ingin berubah dan tidak tergantung dengan gadget, orangtua harus bisa konsisten dan memulai dengan merencanakan aktivitas yang lebih seru dan menyenangkan buat anak-anak.

Faunatic

Selain diskusi tentang gadget, acara juga diisi dengan penyerahan hadiah lomba gambar Giant Faunatic Drawing competition yang telah dimulai dari tanggal 23 Oktober sampai dengan 2 November 2017. Dimana lomba ini mengangkat tema fauna dengan kretivitas dan imajinasi unik khas anak. 10 gambar terbaik ini mendapatkan hadiah total 30 juta rupiah dan hasil karyanya berkesempatan dijadikan desain reusable bag yang akan dijual oleh Giant secara nasional.


Dalam acara puncak Giant Faunatic Drawing ini juga dihadiri langsung oleh Tony Mampuk selaku GM Corporate Affairs Giant, juga hadir juri lomba ini Hani Sintawati yang mengumumkan 10 pemenang lomba gambar Giant Faunatic, yakni:
  • Hapsari Nisrina Adi Rizky
  • Fira Khairunisa Yulifar
  • Charlene Josephine
  • Cornelius Kenneth Riffianto
  • Sherly Vermont Kwerni
  • Keiko Audrine Jovita
  • Faeyza Zahra Anindita
  • Farell Rizky Hidayat
  • Wulan Anjany
  • Cheche Kirani
Lomba yang diadakan sekaligus memperingati Hari Anak Internasional yang jatuh pada 20 November lalu ini mampu menarik antusiasme anak-anak Indonesia, yang terbukti dalam waktu 11 hari, Giant Faunatic berhasil menarik 313 peserta dari 48 sekolah di Jabodetabek. Ini sekaligus ikut sukseskan prgram "Indonesia Bebas Sampah 2020" yang diusung oleh Pemerintah Indonesia, yang pada akhirnya menginspirasi hadirnya lomba menggambar "Faunatic". 


Seperti yang diungkapkan oleh Tony Mampuk dimana Giant ingin mengajak para pelanggan untuk bergaya hidup ramah lingkungan salah satunya dengan mengurangi penggunaan plastik, sebagai gantinya Giant akan menawarkan reusable bag dengan desain yang menarik hasil karya anak-anak Indonesia. 

Baca juga: Gadget Ramah Anak

You May Also Like

18 komentar

  1. psikolog kesukaanku nih, karena kekinian banget :) anakku blom kecanduan gadget karena masih 3,5 tahun dan lebih suka reriungan main sama teman2 seumurannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener psikolognya kekinian banget, pembawaannya nyaman ya

      Hapus
  2. yang paling penting menurut saya adalah orang tua harus jauh dari kata gaptek terutama jika memperbolehka anak-anaknya untuk menggunakan gadget dan komputer.

    yang kedua dan paling aman adalah jangan memberikan hak penuh terhadap gadget, miris juga kalau melihat anak kecil sudah memiliki gadget sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes bener banget jadi orangtua sekarang ini harys makin melek digital, dan jangan pernah membebaskan anak bermain gadget

      Hapus
  3. Kita memang gak bisa sepenuhnya melarang anak menyentuh gadget, tapi kita bisa siasati

    BalasHapus
  4. menagtur penggunaan gadget ya dan memberikan banayk pilihan anak untuk beraktivitas yang lain

    BalasHapus
  5. Rasanya memang tidak adil jika kita melarang anak bermain gadget sementara kita sendiri tidak bisa lepas dari samrtphone..
    mungkin dengan tetap memberikan kebebasan dan menyiasati biar dampak buruk gadget tidak terlalu berlebihan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba semua balik lagi kepada kita selaku orangtua, harus bijak lagi menggunakan gadget, supaya anakpun bermainnya terkontrol

      Hapus
  6. KAlau saya sellau mendampingi anak saat main gadget. Kita memilah mana yang bisa dimainkan dan tidak. aman buat anak dan dekat dengan mereka juga

    BalasHapus
  7. Anakku suka ngegadget, paling suka game sama yutub, yang kecil udah mulai ikutan kakaknya seneng main gadget, skrg lagi dikurangi dgn ngasih aktivitas lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya teh harus mencoba dengan membuat aktivitas lain

      Hapus
  8. Saya kalo keponakan dah di rumah, hp langsung diumpetin deh! Sekali mereka pegang, nunggu batrainya drop dulu baru mereka mau nyerahin lagi, Mbak...��

    BalasHapus
  9. Miris banget ngeliat anak-anak yang bermain gadget, mereka rela pergi ke warung atau tempat lain yang asa Wifinya hanya untuk bermain game online, padahal tempat-tempat tsb tidak cocok buat mereka

    BalasHapus
  10. Saya termasuk tipe orang yang malas bawa tas ke minimarkat. Masih mengandalkan kresek gratis

    BalasHapus
  11. Kalo aku sekarang memang mengurangi banget penggunaan gadget pada anak-anak. Hanya di waktu-waktu tertentu aja dibolehkan. Biar mereka lebih banyak mengolah fisik dengan bermain.

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya ya. Saya senang deh kalau kalian mau tinggalkan komentar, bisa bikin saya happy dan semangat nulisnya. Tapi, mohon maaf ya, untuk tidak meninggalkan link hidup. Terima Kasih. Salam hangat dari Pena Cinta Liswanti.